49, Jejak Palsu

15 2 0
                                        

FAJAR belum sempurna menjadi pagi ketika Udayana bergegas ke hutan. Ia bahkan membawa obor untuk membantunya melihat kondisi. Hatinya berdetak ketika mengetahui rute para pencari ternyata mengikuti rute Airlangga mengelabui mereka.

Dengan jantung berdebar keras, dia bersandar di batang pohon meredakan rasa panik dan khawatir. Haruskah dia menemui Airlangga secepatnya? Dan kapan itu secepatnya? Sekarang? Bagaimana caranya mengirim berita pada Airlangga?

Dia terus memaki dalam hati atas kelihaian tim pencari. Dengan bibir bersungut-sungut sambil memaki, dia terus berpikir mencari lokasi di mana bisa dia memulai membuat jejak palsu ke luar hutan.

Dari sisi sini? Terlalu mencurigakan. Mereka akan berpikir, si penculik pasti membaca jejak tim pencari, sangat aneh jika si penculik tetap pergi dari sisi sini.

Dari sisi lain? Apa mereka akan menemukan jejak palsu itu? Bagaimana cara mengarahkan mereka ke sana?

Satu per satu lapisan pengecoh jejak berhasil mereka buka. Sisa anak sungai yang belum mereka lewati. Begitu mereka berhasil menemukan jejak di anak sungai, mereka dapat cepat menemukan posisi Airlangga. Saat itu terjadi, entah seberapa lama Airlangga bertahan di dalam dan seberapa cepat dia melarikan diri.

Lagi-lagi Udayana memaki dalam hati. Jejak itu seharusnya sudah tidak terbaca. Apa dia melakukan kesalahan? Apa bukan justru dia yang menunjukkan jalan bagi tim pencari?

Ah, itu sudah tidak penting lagi sekarang. Yang harus dia lakukan sekarang adalah membuat jejak palsu mengarah ke luar hutan dan melindungi Rindang dari lelaki Belanda pemangga wanita.

Dia sudah ingin menjumpai Rindang, berkeluh kesah sambil mencari ide, tapi teringat dia harus mengatur rute jejak palsu, membuat dia tetap bertahan di hutan. Dia tidak bisa mencari lalu membuat jejak bersama Rindang. Jejak itu harus benar-benar jelas dari hutan ke luar hutan. Otaknya berpikir, matanya mencari, bibirnya memaki. Dia terus menatap anak sungai itu. Seharusnya semua dimulai dari sana.

Dia terus menatap anak sungai itu....

***

Rindang sedang menyapu halaman rumah ketika Udayana datang.

"Ayo, Rindang. Kita harus membuat jejak palsu," ujarnya tergesa.

"Apa?" Gadis itu langsung menghentikan aktifitasnya. Berdiri kaku terdiam sambil memegang erat batang bambu tangkai sapu lidi.

"Mereka nyaris menemukan titik Airlangga menghilang. Kita harus mengeceohkan mereka secepatnya."

Rindang langsung berlari meminta izin pada bibinya.

"Bawalah kain untuk bersalin. Kita akan berbasah-basah melalui anak sungai."

Tanpa bicara Rindang berlari masuk ke rumah lalu tak lama kemudian berdua mereka sudah bergegas berjalan setengah berlari di jalan desa.

Udayana mengarahkan Rindang ke sisi hutan yang lain. Mereka masuk hutan lalu menyebrangi anak sungai. Anak sungai yang sama yang menjadi kunci. Di seberang sungai, Udayana mengajak Rindang berjalan lebih masuk ke dalam hutan. Berputar-putar terburu-buru tapi dia tetap mengusahakan jarak jejak itu stabil. Dia mengatur posisi berjalan rindang. Semua dia pikirkan sebaik mungkin. Kali ini sepertinya dia mendapat lawan yang sebanding dalam membaca jejak.

"Di mana Kakanda Airlangga sekarang?" tanyanya ketika mereka sudah makin menjauh dari tepi hutan.

"Di sana." Udayana menunjuk satu titik. "Masih sangat jauh. Kita harus membuat pengecoh sejauh mungkin dari titik Airlangga berada tapi cukup dekat untuk tim pencari temukan."

"Oh, kupikir kita sudah dekat dengan mereka."

Udayana berhenti berjalan untuk membaca air muka Rindang lebih teliti.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang