102, Epilog 1: Brawijaya Darma

29 1 0
                                        

[Lima Tahun Kemudian]

.

"Angga, mana Jaya?" tanya Ells ketika melihat Airlangga hanya sendirian berjalan ke arahnya.

"Bermain. Apa lagi?" jawab Airlangga santai.

"Siapa yang menemani?" tanya Ells lagi, cemas. Sepertinya, sesuatu yang buruk akan terjadi.

Airlangga hanya mengedikkan bahu, tak acuh.

Tak lama, muncul seorang anak yang berteriak kencang.

"Ibuu..."

Berlumur tanah dan lumpur, memakai pakaian berwarna putih—tadi putih, sekarang entahlah—berlari ke arah Ells.

Melihat itu, Ells hanya mendesah pasrah sambil melirik jengkel pada suaminya.

"Paling tidak, jangan berkotor-kotor seperti itu ketika sedang pesta," gerutu Ells pada Airlangga.

"Berkotor-kotor, itu pesta buat Brawijaya, Sayang. Kita sedang berpesta, lalu kau ingin mengekang anakmu? Biarkan dia juga berpesta dengan caranya." Airlangga langsung menyambar anak berlumur lumpur itu, membiarkan pakaian putihnya ikut terkotori.

Ells menarik napas panjang. Selalu, strategi memakaikan pakaian berwarna putih—untuk menjaga agar tidak berkotor-kotor—gagal.

"Apa lagi yang kau dapat, Pendekar Kecil?" Matanya menatap takjub pada duplikat kecilnya. Ells hanya memberikan mata birunya pada anaknya, selebihnya adalah Airlangga. Oh, mungkin sedikit pada rambutnya. Rambutnya tidak sekelam ayahnya.

"Ayah, kenapa Ken Arok tidak mau makan cacing? Aku sudah bersusah payah mengumpulkan cacing untuk Ken Arok, tapi dia tidak mau."

Pantas saja dia sekotor ini, dia mencari cacing!

"Karena kuda tidak makan cacing, Jaya. Ayam mungkin mau cacingmu." Masih tetap memandangi wajah anaknya, membiarkan Ells kembali menarik napas. "Berikan cacingmu pada ayam di rumah. Nanti Paman Dayana akan membantumu mencari cacing lebih banyak."

Genap dua orang berpakaian kotor di tengah pesta! Gerutu Ells sulit untuk berakhir.

"Kenapa kuda tidak mau makan cacing?"

"Hhmm ... karena kuda tidak suka cacing. Sama sepertimu, kau suka kue coklat, tapi kenapa kau tidak makan cacing yang berwarna coklat?"

"Yackk..." Brawijaya—anaknya—menunjukkan ekspresi jijik. "Aku tak suka cacing, Ayah." Dia masih dalam gendongan ayahnya, bergelayut di leher ayahnya.

"Nah, jangan kau makan kalau begitu."

"Hhhmmm..." Berpikir.

"Sudahlah, kita harus berganti baju. Kalau tidak, kita akan menjadi santap malam ibumu." Berbalik menghindari cubitan Ells, menaiki tangga rumah sambil berlari dan terbahak lepas. Brawijaya hanya ikut tertawa melihat wajah tawa ibunya yang tertutup jengkelnya.

"Angga!" Tapi dia ikut menaiki tangga, mengikuti dua orang itu. Mengabaikan para tamu yang mengikuti gerak langkah mereka. Tentu saja mereka menjadi pusat perhatian. Brawijaya sekotor itu di tengah pesta.

Mungkin Airlangga melupakan adab ketika berpesta, tapi dia tidak peduli. Kebahagiaan anaknya selalu yang utama. Dia seakan membayar semua kerinduannya akan sosok ayah dan ibu pada anaknya. Dia yang tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua, tidak ingin anaknya merasakan itu. Jadilah Brawijaya tenggelam dalam cinta ayah dan ibunya. Juga kakek, paman, dan bibinya. Anak kecil itu menjadi pusat kehidupan mereka.

***

Kehidupan yang penuh keragaman dan perbedaan. Butuh cinta yang sangat besar untuk mentolerir itu semua.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 04, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang