56, Guru Dan Murid

17 2 0
                                        

SEJAK mereka terikat satu sama lain, Airlangga jarang berburu. Memilih menghabiskan waktu dengan bercinta daripada berburu. Memilih menghabiskan stok makanan yang dia persiapkan sebelum menculik Ells. Dendeng rusa, beras, jagung, yang awalnya memenuhi tempayan dengan cepat berkurang.

"Sepertinya aku harus membuat dendeng lagi," ujarnya ketika melihat Ells makan sangat lahap.

"Apa pun. Aku selalu kelaparan sekarang. Kau menguras tenagaku habis-habisan, Angga."

Airlangga hanya terkekeh.

"Dendeng rusa ini enak sekali."

"Biasanya Dayana yang membuat. Buatanku tidak seenak buatan Dayana."

"Siapa Dayana?"

"Sahabatku. Udayana."

"Ceritakan aku tentang dia."

"Kami bersahabat sejak kecil. Kami melakukan nyaris semua hal bersama. Rumah kami berdekatan. Kami menyukai banyak hal yang sama. Kami suka hutan dan membaca."

"Kupikir kalian tidak ada yang bisa membaca."

Airlangga terbahak lepas. "Entah apa yang orang sebangsamu tanamkan di kepalamu tentang bangsaku. Apa kau pikir kami hanya monyet berbaju?"

Ells terdiam.

"Kami hanya manusia-manusia ramah yang senang bersahabat dengan semua orang. Kami membuka lebar-lebar pintu rumah kami untuk orang baru. Dan itulah yang bangsamu pergunakan. Memanfaatkan keramahan kami untuk berkuasa."

"Maaf, Angga. Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Itu bukan salahmu. Kau hanya terjebak di tanah yang bukan tanah leluhurmu saja."

"Kau berbeda dari pribumi-pribumi yang aku kenal."

"Dan siapa pribumi-pribumi itu?"

Ells mengedikkan bahu. "Pelayan di rumahku."

Airlangga terbahak lepas. "Kau harus banyak menambah teman, Ells."

"Di mana kau belajar, Angga?"

"Di mana pun. Aku belajar dari banyak hal di sekeliling."

"Siapa gurumu?"

"Kita sudah pernah bertemu dengannya, Ells. Yang menikahkan kita."

"Kau belajar ke tempatnya bersemedi?"

"Sudah kukatakan, aku belajar bersama Dayana di mana-mana. Siapa pun yang mau membagi ilmunya, kami akan datang."

"Dayana tahu tempat ini?"

"Tentu. Bertiga dengan kakek, kami membuat rumah pohon ini. Kakek terampil dalam banyak hal. Dia tahu soal bercocok tanam dan beternak. Dia pun mahir memegang senjata. Dia pun guru kami juga."

"Berarti dia pun sangat kehilangan kakekmu?"

"Tentu."

"Sekarang kau menghilang. Dia tahu ke mana kau pergi. Dia tahu kau di mana sekarang. Kenapa dia tidak mencarimu?" Ells semakin tertarik.

"Dia sudah tahu kapan dia harus ke sini."

"Kapan itu?"

Mendadak gurat wajahnya berubah. "Enam kali purnama aku tak pulang, dia akan ke sini," lirih menatap kosong.

Pandangannya menerawang. Menembus batas dinding rumah, melewati tepian hutan, berhenti terpaku di desanya.

"Dan apa artinya itu?"

"Aku sudah menyusul kakek."

Terperangah.

Ells tak mampu berkata-kata.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang