85, Cinta Ells

19 2 0
                                        

"APA aku mengganggu, Om?" tanya Robert ketika dia menemui van Loen di ruang kerja.

"Tidak. Ada apa?" Mendengar suara Robert, dia menjawab sambil mengangkat wajah dari sebuah berkas yang sedang dia berusaha cerna isinya.

"Om sibuk?" tanya Robert lagi.

"Tidak, Nak. Om membaca hanya untuk pengalih perhatian saja. Ells makin menjadi-jadi."

"Apa Om baik-baik saja?" Pertanyaan itu membuat van Loen serius menatap Robert.

"Apa maksudmu, Rob?"

Robert mengedikkan bahu. "Apa Om baik-baik saja? Maksudku, apa Om sehat?" Robert duduk di kursi di sisi lain meja kerja van Loen.

Van Loen mendengus. Dia tidak pernah merasa sehat sejak Ells menghilang, dan penyakitnya bertambah ketika Ells pulang dan memohon izin pergi.

"Om tidak tahu, Nak." Mengeluh mendesah. "Kalau sehat artinya masih bisa bernapas, ya, itu berarti Om sehat."

Lagi-lagi Robert mengedikkan bahu. Namun kali ini dia lebih serius menekuri wajah tua van Loen. Dia benar-benar memastikan van Loen cukup sehat dan kuat menerima kabar ini.

"Ada apa, Rob? Sepertinya kau ingin menyampaikan hal yang sangat penting." Van Loen total melupakan berkas di depannya. Dia meletakkan kedua lengannya bersedekap di meja.

"Seseorang ingin bertemu dengan Ells." Wajah van Loen langsung berubah. Dia sampai memundurkan punggungnya menyentuh sandaran kursi. "Tapi aku ingin Om bertemu dengannya terlebih dahulu."

"Siapa?" nadanya berubah waspada.

"Si penculik," desis Robert.

"KURANG AJAR! BERANI SEKALI DIA!" Tanpa sadar van Loen berdiri dan berteriak. Mengingat bagaimana permohonan Ells tadi pagi, van Loen semakin muntab.

"Tenang, Om. Dia sudah tak berdaya." Robert ikut berdiri. Tangannya terangkat berusaha menenangkan van Loen. "Sebentar lagi mati."

"Mau apa b*j*ng*n itu?" Van Loen memelankan suaranya meski dia masih ingin berteriak. "Bunuh saja dia!"

"Bertemu Ells, satu kali. Sudah itu terserah Om."

"Dia tidak akan bertemu Ells!" desisnya. "Bunuh saja dia!" ulangnya lagi. Jantungnya berdetak sangat kencang. Amarahnya makin melesat melewati batas kesadarannya.

"Itu terserah Om. Dia sudah menyerahkan diri."

"Bunuh dia tanpa bertemu Ells."

"Terserah, Om. Tapi apakah Om tidak mau melihatnya terlebih dahulu?"

"Buat apa?"

"Mungkin untuk menanyakan beberapa hal." Robert menjawab asal sambil mengedikkan bahu.

"Apa yang dia katakan? Info apa yang dia berikan?"

"Tidak ada. Dia hanya mengaku sebagai penculik Ells dan sekarang ingin bertemu dengan Ells. Setelahnya, terserah Om."

"Siapa dia? Di mana dia tinggal?"

"Dia tidak menyebutkan namanya dan nama desanya. Dia hanya mengaku sebagai penculik Ells saja. Mungkin dia mau menjawab kalau Om yang bertanya langsung."

"Kalau dia sudah mati, semua info itu tidak berguna. Untuk apa aku melihat b*j*ng*n itu?"

Robert mengedikkan bahu. "Entahlah. Siapa tau Om ingin melihat dia. Sebelum dia mati."

Diam.

Untuk apa?

Melihatnya hanya akan membuat tekanan darahnya melonjak.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang