36, Membuat Api

19 2 0
                                        

ELLS terbangun dengan sendirinya. Geliatnya terlihat bertenaga. Tidur yang cukup yang membuatnya terbangun ketika tubuhnya merasa cukup. Masih dengan mata setengah terpejam, dia berusaha duduk dan kembali menggeliat. Dia masih belum sadar di mana dia berada.

Duduk diam di tempatnya, Airlangga memperhatikan gerakan-gerakan Ells. Dan Airlangga yang diam menjadi pemandangan pertama yang Ells lihat ketika matanya utuh terbuka. Tubuhnya sedikit tersentak, tapi dia segera sadar diri. Ini bukan di rumah pohon yang kecil itu. Goa ini lebih besar sehingga mereka bisa lebih berjarak.

"Hai," sapa Ells sambil tersenyum dan menggerak-gerakkan leher yang terasa kaku. "Aku tidur nyenyak sekali. Tak mendengar dan merasai apa pun." Nadanya terdengar menyesal. "Apa kau juga tidur?"

Airlangga menggeleng. "Tidak. Jangan khawatir, aku tetap berjaga selama kau tidur."

Berdecak, Ells merapikan kainnya. "Bukan itu maksudku." Gerakannya merapikan kain membuat desir lain hadir di hati Airlangga. "Kenapa kau tidak tidur? Kau butuh istirahat."

"Istirahat tidak berarti tidur."

"Kau sudah memetik buah?" Ells mengabaikan pernyataan Airlangga ketika melihat tumpukan buah lebih banyak dari sebelum dia tidur.

Airlangga mengangguk satu kali.

"Bagaimana caranya kau memetik buah-buah ini?"

"Aku keluar, berjalan, lalu memetik. Sesederhana itu."

Ells berdecak lagi. Kesal. "Apa kau baik-baik saja sekarang?"

"Ya. Aku baik. Aku memang masih lemah, tapi aku baik-baik saja."

Ells lebih serius menatap Airlangga. Memperhatikan gurat-gurat sakit dan lemah. Semua masih terlihat jelas.

"Kau terlalu memaksakan diri. Seharusnya kau beristirahat total. Itu sangat bagus untuk pemulihan. Jika kau terlalu memaksakan tubuh, butuh waktu lebih lama untuk sembuh."

"Aku tidak memaksakan tubuh. Aku hanya sekadar berlatih saja."

Banyak yang ingin Ells tanyakan tapi sudahlah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah tidak penting ketika Airlangga terlihat baik-baik saja meski wajahnya pucat dan buah sudah terkumpul untuk makan malam mereka.

"Aku belum bisa berburu dan kita belum bisa memasak. Aku belum bisa membuat api." Rasa bersalah sangat jelas terdengar di suara itu. "Tadi aku sudah mencoba tapi gagal lagi."

"Tidak masalah, Angga. Aku suka buah." Ells langsung mengambil sebutir yang teratas. Menggigit dan mengunyah sambil terkekeh. Keberadaan buah menjadi bukti bahwa Airlangga sudah semakin sehat. Itu membuat hatinya ringan.

Jika saja gadis itu tahu bagaimana perjuangan Airlangga mengumpulkan buah-buahan itu, tentu dia tidak akan terkekeh seriang itu. Kondisinya masih sama seperti sebelumnya dan dia memetik sendiri tanpa bantuan Ells. Nyaris setiap butir buah membuatnya limbung. Setiap sudah memetik beberapa buah, Airlangga akan memerosotkan tubuhnya sepanjang dahan, terengah mengatur napas dengan tubuh bergetar hebat. Dia bahkan nyaris melukai tubuhnya sendiri ketika tangannya yang lemah tidak mampu menahan belati tetap di genggamannya. Belati itu jatuh ketika dia berusaha memotong ranting berisi beberapa buah jambu air.

Membawa hasil petikannya ke goa pun bukan perkara mudah. Dia sengaja memotong ranting alih-alih memetik demi kemudahan membawa buah-buah itu. Tapi tenaganya yang belum pulih membuat buah-buahan itu terasa sangat berat. Dia tetap harus berhenti berjalan untuk beristirahat.

Tangan kirinya pun belum bisa berfungsi normal. Tangan itu tidak bisa menggenggam sempurna. Itu yang membuatnya gagal membuat api. Kegagalan yang membuat mereka terpaksa tetap hanya bisa makan buah.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang