SUDAH tengah hari. Matahari tepat di atas kepala. Namun udara dingin lereng Bromo seakan bisa menyamarkan terik itu. ditambah rindang pohon penuh dedaunan, menambah kesejukan rumah yang mendadak diliputi rasa haru dan bahagia. Semua berakhir indah. Tangis dan ketakutan mereka terbayar. Mereka masih bisa berkumpul di rumah sederhana ini.
Ells tetap memeluk Airlangga. Tapi ada yang aneh dengan pinggang ini. Ada yang hilang.
Apa?I
Ells berusaha mengingat-ingat.
"Angga!" Mendadak Ells mendongakkan wajah, menatap Airlangga, "Di mana belatimu?"
Tersenyum samar, Airlangga teringat belatinya.
"Di rumah pohon."
"Kenapa kau meninggalkan belatimu di sana?"
"Lebih baik kutinggalkan untuk Dayana daripada hilang di rumahmu."
"ANGGA!!"
Diam.
Semua tahu apa arti belati itu bagi Airlangga. Dan semua juga mengerti makna 'belati untuk Dayana'.
"Sudah, sudah..." suara Paman Tirta terdengar menentramkan. "Lebih baik kita masuk dulu. Kau baru pulang, belum sempat masuk rumah. Marilah beristirahat di dalam."
Ya ... mereka memang masih melepas rindu di halaman, di bawah rindang pohon jambu air yang buahnya mulai jarang, duduk santai di balai-balai ditemani semilir angin gunung.
"Tidak, Paman. Ells tak tenang sebelum belati itu kembali." Ells tetap merajuk.
"Belati itu ada di rumah pohon, Sayang..."
"Aku tahu. Tapi aku juga tahu apa artinya jika belati itu ada di sana, bukan di sini, di pinggangmu."
Diam.
Senyap.
Akhirnya Airlangga tersenyum. "Apa pun, Ells... apa pun..." Airlangga menenangkan wanitanya.
Apa pun akan kulakukan untukmu, Ells....
"Tapi kita akan mengunjungi Kakek terlebih dahulu," pelan Airlangga berkata. Syahdu. Takzim. Menghormat pada mendiang kakeknya.
Ells hanya tersenyum mengiyakan.
Apa pun, Angga.
Ke mana pun.
Aku ikut.
"Rindang, berikan selendangmu." Tangan Airlangga terjulur meminta selendang yang dipakai adiknya. Dan Rindang, tanpa banyak tanya memberikan selendang itu.
"Ells, kita akan ke makam Kakek terlebih dahulu. Dari situ kita akan ke rumah pohon."
Ells mengangguk mengiyakan.
"Tapi aku ingin kau menutup matamu sepanjang perjalanan ke tepi desa, ke makam Kakek."
Air muka Ells berubah, heran.
Untuk apa?
Airlangga tersenyum, mengerti pertanyaan tak terucap istrinya. "Tuhan memberikan lima indra untuk setiap kita. Tapi kita lebih sering memercayai apa yang terlihat saja. Padahal, mata sering kali mengecohkan, bahkan menyesatkan." Airlangga berkata sambil meletakkan perlahan selendang itu di depan wajah Ells.
"Kadang dalam gelap kita bisa melihat lebih jelas. Melihat yang tak terlihat, merasakan yang tak kasat." Airlangga menutup mata Ells dengan selendang itu, mengikatnya lembut di belakang kepala Ells.
"Kita akan berjalan, melangkah ke depan, menuju rumah pohon, mengambil belatiku, impianmu saat ini. Tutup matamu, gunakan indramu yang lain yang telah Tuhan anugrahkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romance[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
