TIDAK ada lagi ragu apalagi sembunyi-sembunyi ketika langkahnya makin mendekati rumah Ells. Langkahnya tegak dengan kepala mendongak. Tatapannya lurus dan tajam nyaris tak berkedip menatap ke arah bangunan besar dan kokoh di depannya. Dia berjalan dengan kecepatan normal langsung tegak lurus menuju pos penjaga di pintu masuk. Pintu yang tidak pernah dia lewati. Kali ini demi harga diri dia dan Ells, dia akan melewati pintu itu meski mungkin hanya satu kali. Satu kali tanpa jalan pulang.
"Saya ingin bertemu dengan Meneer van Loen," ujarnya tegas pada penjaga yang duduk menguap lebar di pos jaga depan.
"Siapa kamu?" tanya si petugas membentak. Jengkel, istirahat siangnya terganggu.
"Saya hanya akan menyebutkan siapa saya pada Meneer van Loen." Suaranya tetap datar dan tenang dengan sikap tubuh tegak sempurna.
"Ada apa, Broto?" Suara lain muncul. Robert yang makin lama makin berlaku seperti tuan rumah di sana.
"Maaf, Tuan. Orang ini ingin bertemu dengan Meneer van Loen."
Robert mengawasi inlanders di depannya. Matanya bergerak dari ujung rambut sampai ujung kaki, kembali ke wajah pribumi itu.
"Siapa kamu?" tanyanya kasar dengan dagu yang terangkat terlalu tinggi.
Airlangga tersenyum, dia tidak mengenali orang yang menyapanya, tapi hati lelakinya membisikkan siapa dia.
"Sebenarnya saya hanya akan menyebutkan siapa saya pada Meneer van Loen. Tapi jika Anda menyebutkan siapa Anda, saya akan menyebutkan siapa saya."
Robert hanya terperangah mendengar susunan kalimat yang keluar dari bibir pribumi itu.
Hhmm ... inlanders pemberani.
Airlangga tetap berdiri tegak, santun tapi tak congkak. Dia tidak pernah mau merendahkan dirinya dengan membungkuk kepada penjajah.
Aku tak kenal orang ini. Mungkin ini yang akan dijodohkan dengan Ells.
"Robert der Vasse."
Tersenyum, mengangguk menghormat tak menghamba. Airlangga menjawab. "Saya orang yang Anda cari?"
"Siapa?"
Siapa yang aku cari? Kening Robert berkerut dengan mata menyipit.
"Saya hanya ingin bertemu dengan Daniella. Satu kali. Setelah itu, semua terserah Meneer van Loen."
"Daniella?" Mendelik, Robert terkejut. "Bagaimana kau bisa kenal dengan Daniella?"
"Sudah saya katakan tadi, saya orang yang selama ini Anda cari."
"Siapa kamu, Inlanders?" Robert mendesis jengkel.
"Saya penculik Ells."
Robert merasa otot jantungnya lupa berdetak. Darahnya tersumbat tak mengalir. Membuat tekanannya menguat ingin merobek pembuluh darah
"Siapa namamu?" Mendesis dengan rahang kaku.
"Namaku tidak penting. Tidak ada yang mengenalku. Tapi akulah yang menculik Daniella Elizabeth vam Loen."
.
BUGGHH...!!!
.
Robert mendaratkan tinjunya ke perut Airlangga. Mundur selangkah, Airlangga diam menerima pukulan itu. Dia tidak akan melawan apalagi membalas.
Merapikan berdirinya, dia kembali bersuara. "Satu kali bertemu Ells, selanjutnya terserah Meneer van Loen," ujar Airlangga sambil tersenyum.
Ayahnya lebih berhak daripada lelaki ini. Calon suami Ells? Dia benar-benar harus melangkahi mayatku.
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Storie d'Amore[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
