DI sebuah rumah megah, Robert berjalan mondar-mandir di kamarnya. Sudah sepekan dan tidak ada temuan berarti bahkan nyaris tidak ada hal baru yang mereka temukan.
Bagaimana caranya mereka menyelinap seperti itu? Mereka seperti hilang ditelan bumi. Di mana mereka sekarang? Apa mereka sudah keluar hutan lalu pergi jauh? Jika seperti itu, untuk apa mereka masih mengobrak-abrik hutan.
Robert terus bergerak sambil bermonolog. Dia kehabisan akal mencari cara mencari Ells. Ayahnya dan ayah Ells sudah mengirimkan pesan kawat ke seluruh negeri. Laporan sudah masuk ke pusat. Petugas terus bekerja. Mereka pun terus mencari. Apalagi yang bisa dia lakukan?
Sepekan berlalu, tak ada tuntutan apa pun yang datang. Sepekan berlalu, dia meragu Ells bisa ditemukan dalam keadaan hidup.
Cemas?
Kesal?
Mengentak kasar dan menendang angin, Robert berjalan ke luar kamar membanting pintu keras membuat beberapa pelayan terkejut. Tak tahu apa yang bisa dia lakukan, dia mengambil kuda lalu berpacu tanpa tujuan. Tapi ternyata kendali mengarahkannya ke tepi hutan. Kudanya meringkik marah ketika dia mendadak menghentikan laju. Ringkik itu mengalihkan perhatian beberapa pencari yang tersebar-sebar. Semua menoleh ke arah Robert yang abai dengan tatapan-tatapan itu.
"Mana Topan?"
"Dia mencari lebih masuk ke dalam hutan, Tuan," jawab seorang di antara mereka.
"Lalu apa yang kalian lakukan di sini?" Suaranya kasar membentak.
"Mencari, Tuan?"
"Apa yang kalian cari di sini? Sudah jelas tidak ada Ells di sini. Sudah jelas jejak yang mereka buat sudah rusak. Kalau pun ada benda yang ditemukan, benda itu tidak akan menjawab apa pun."
Orang itu menunduk.
"Kami hanya diperintahkan mencari di sini, Tuan."
"Pergi!" Robert menunjuk lurus ke arah hutan. "Susul Topan. Carilah di sana. Ini perintah!"
Tanpa berkata apa pun, orang-orang itu bergerak menyusul Topan. Meninggalkan Robert menggerutu membuat kuda jengkel.
"Huh!"
Kesal, lagi-lagi dia tak tahu harus melakukan apa. Sampai akhirnya nyaris tak sadar dia mengarahkan kudanya berjalan ke arah desa. Dari kejauhan, dia melihat desa yang sempat mereka curigai sebagai asal si penculik. Melihat itu, akhirnya Robert menjadikan desa itu sebagai tujuannya.
***
Rumah yang dulu Topan tunjuk sebagai rumah kepala desa yang lama dan yang baru kosong.
Seorang warga yang melihat kedatangannya tanpa disuruh langsung terbirit menyusul Tirta ke ladang.
"Paman Tirta, pemuda Belanda itu ada di rumah Paman." Dia berkata cepat dalam volume normal.
Tirta langsung menghentikan kegiatannya.
"Dia menyuruhmu ke sini?"
"Tidak, dia tidak tahu aku ke sini."
"Baik. Mari kita ke sana."
Berdua mereka bergegas ke desa. Mendekati rumahnya, Tirta mengendap. Dia hanya mengintip dari balik rumah tetangga.
"Apa yang dia cari?" Pemuda itu berbisik bertanya.
"Apa atau siapa?" Tirta menjawab dengan pertanyaan.
"Apa kita hanya mengintip saja?" tanyanya lagi.
"Apa sejak tadi dia di sana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romance[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
