35, Berkenalan

16 2 0
                                        

AKHIRNYA mereka berhasil kembali berada di goa. Kembali, Airlangga menjatuhkan saja dirinya merosot kehabisan daya. Dia masih terengah, kepalanya masih terasa berputar, bahkan perutnya menjadi mual. Sepanjang jalan, gadis itu, sambil sebelah tangan menjinjing tangkai buah, sebelah tangannya yang lain memeluk pinggangnya, membantu penculiknya.

Ells membiarkan Airlangga mengatur napas sementara dia bergerak cepat menyiapkan buah-buah itu. Dia hanya mengumpulkan buah itu di atas daun talas yang dia petik di mulut goa. Ells tak pernah lagi ribut urusan kebersihan. Setelah buah-buah itu siap, Ells duduk di depan penculiknya, tekun memperhatikan ekspresi mengeryit dan mendesis pemuda itu.

Tubuhnya masih berantakan. Terengah, Airlangga merasa kepalanya dipenuhi kabut. Dia tidak bisa berpikir jernih. Dengan tenaga selemah ini, apa yang bisa dia lakukan? Setelah berhasil menyelamatkan diri dari ular, ternyata masih banyak aral lain yang melintang mengganggu jalannya.

"Makanlah."

Dia tahu gadis itu kelaparan. Semakin lapar dan lelah karena harus membantunya berjalan. Dan yang sekarang gadis itu lakukan hanya menatapnya dengan mata khawatir. Membuatnya makin merasa bersalah.

Ketidakmampuannya berburu, bahkan sekadar mencari buah, bisa membunuh mereka berdua. Dia memang berhasil bertahan dari serangan bisa ular, dia mungkin bisa menahan lapar berhari-hari, tapi gadis itu apa bisa juga?

Ada banyak tanaman obat di hutan ini, tapi tetap saja, dia butuh tenaga untuk mencari tanaman itu. Semua yang ingin dia lalukan membutuhkan tenaga. Sesuatu yang sekarang dia tidak punya.

Dia benci tubuhnya yang lemah.

Goa ini hanya mampu melindungi mereka dari hujan dan sedikit angin malam. Tapi bahaya lain tidak. Banyak binatang menggunakan goa ini untuk tujuan yang sama. Dan dengan tubuh selemah ini, sulit baginya bertahan bertarung melawan hewan buas. Mungkin dia bisa mengecoh ular dengan diam seperti patung, tapi bagaimana dengan harimau? Tadi hanya tangannya yang siaga, tapi dia kehabisan tenaga. Bagaimana jika pertarungan tidak bisa dihindari? Mereka seharusnya meninggalkan goa ini sekarang saat masih ada matahari. Namun apa ada pilihan lain? Mencari buah di sekitar mulut goa saja dia tak sanggup, apalagi berjalan pulang.

Gadis itu masih asyik mengunyah meski sesekali pandangan mereka berserobok. Dan yang sesekali itu jelas menunjukkan kekhawatirannya.

"Kau tidak makan?" tanya gadis itu setelah untuk yang kesekian kali pandangan mereka bertemu dan penculiknya hanya diam. "Buah-buahan ini segar sekali. Manis."

Menghela napas sembunyi, Airlangga meraih sebuah jambu air lalu menggigitnya. Buah itu terasa pahit. Dia ingin membuang isi mulutnya, tapi melihat gadis itu makan sangat lahap, Airlangga yakin, yang bermasalah adalah lidahnya. Akhirnya dia memilih memaksakan dirinya menelan isi mulutnya.

"Sepertinya kita belum bisa pulang." Meski terpaksa, akhirnya dia bisa menelan makan pagi sekaligus makan siang mereka. "Rumah tidak terlalu jauh, tapi aku tidak bisa berjalan sejauh itu. Dan kalau pun bisa, aku tak yakin aku mampu menarik atau menggendongmu naik."

Ketika mengunyah makanan pun sangat sulit, berjalan, berburu, memanjat, menggendong, ... , semua menjadi pekerjaan yang memberatkan.

"Lalu?" Ells menghentikan kegiatan mengunyahnya.

"Kita masih akan bermalam di sini."

"Tak masalah." Gadis itu mengedikkan bahu. "Asal kau yakin kita tidak berbagi sarang dengan yang lain. Meski pun dengan landak atau trenggiling, aku tidak mau. Apalagi dengan harimau dan ular." Bahunya bergetar lemah ketika dia mengecilkan tubuh ketakutan.

Tertawa kecil. "Aku memang masih belum pulih, tapi aku sudah cukup sehat untuk berjaga. Kau bisa tidur dengan nyenyak."

Berjaga saja aku masih sanggup. Tapi berjaga dengan binatang buas, apa aku sanggup? Ular dan harimau tidak bisa disamakan meski sama-sama berbahaya.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang