SETELAH mendapat berita penemuan jejak baru, pencarian makin dimasifkan. Van Loen mengerahkan semua personil dan pengaruhnya untuk mencari Ells. Dia bahkan beberapa kali memantau langsung ke lokasi. Dia melihat langsung jejak yang dimaksud dan meyakini itu jejak Ells sampai menangis haru..
Paling tidak Ells masih hidup, masih sehat sehingga dia bisa berjalan.Untuk itu, dia besyukur dalam hati. Baginya yang terpenting Ells masih ada.
Penjelasan lanjutan arti jejak itu memang membuatnya miris dan menangis sedih.
Jejak kecil sering memanjang, terbaca bahwa dia terseret-seret atau ditarik paksa. Bekas tarikan daun dan ranting pun terbaca sama. Van Loen sampai memegang dadanya, sakit membayangkan Ells yang tersiksa. Sudah dua pekan dan sepanjang jalan dia disiksa dan tersiksa. Ayah mana yang tidak meranggas membayangkan anak gadisnya diperlakukan seperti itu?
Rahangnya mengeras, marah.
Siapa pun penculik itu, tidak akan pernah kumaafkan! tekadnya dalam hati.
"Cari sampai dapat!"
Van Loen langsung berbalik pergi. Dia tidak sanggup melihat jejak Ells yang memanjang.
***
Udayana berjalan cepat. Hari sudah petang, sebentar lagi malam. Dia meninggalkan ladang lebih cepat untuk mencari berita. Dan ketika berita itu dia dapatkan, dia ingin berlari mengabari Rindang dan ayahnya.
"Paman!"
Tirta yang sedang membersihkan diri langsung menoleh. Tak sabar, Udayana berjalan lurus menjumpai Tirta ke sumur.
"Kami berhasil mengecoh mereka. Mereka sekarang fokus bersama jejak palsu yang kami buat."
"Oh, syukurlah." Tirta menjatuhkan timba untuk mengguncang bahu pemuda di depannya. "Lalu?"
"Saya berharap jejak palsu keluar hutan cukup lama mereka dapatkan."
"Kau benar. Jika cukup lama, mereka berpikir si penculik sudah cukup jauh. Mereka akan meluaskan pencarian. Itu semakin mengganggu fokus mereka."
"Benar, Paman." Matanya berbinar. Tak sia-sia usaha dia dan Rindang seharian utuh menelusuri hutan dan sungai. "Apalagi yang bisa kita lakukan sekarang?"
"Menunggu."
"Hanya itu?"
"Apa lagi?"
"Bagaimana dengan Robert yang..." Udayana tidak mau melanjutkan kalimatnya.
"Itu pun Paman harus menunggu, Nak. Tak ada kabar sama sekali dari Airlangga dan kalau pun ada, Paman tidak mau memaksanya."
Udayana terdiam.
Rindang belum melanjutkan pembicaraan mereka di hutan kepada ayahnya. Itu kesimpulannya.
Tirta benar, mereka harus menunggu. Termasuk dia harus menunggu Rindang bersuara. Atau haruskah dia yang memulai lebih dulu? Di balik dinding, Rindang mencuri dengar percakapan itu. Tiba di bagian terakhir perbincangan, jantungnya bedetak keras. Teringat kalimat singkat yang Udayana katakan di hutan. Teringat kedekatan mereka yang lekat juga di hutan yang sama.
Apakah ucapan itu serius? Jika iya, kenapa lelaki itu tidak mengatakan maksudnya ke ayahnya langsung? Apa yang harus seorang gadis lakukan sekarang?
Menunggu?
***
Akhirnya semua memang harus menunggu. Van Loen menunggu berita baik dari hutan. Kembali, berhari-hari hanya kabar yang itu-itu saja yang dia terima. Kembali, jejak itu berputar-putar di area yang besar. Jika tidak berputar, jejak itu mati menghilang di anak sungai. Sungai sudah mereka telusuri di dua sisi, bahkan di dalam air pun mereka telisik. Hanya ada jejak yang menandakan mereka pernah ada di sana, lalu selebihnya gelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romance[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
