SETIAP hari, Airlangga menunggu Ells di tepi hutan. Pagi sebelum matahari terbit sampai malam baru dia tinggalkan tepi hitam. Bahkan, sudah tiga hari ini, dia memutuskan untuk tidak kembali ke rumah pohon. Dia berjaga tidak jauh dari titik janji temu mereka. Dia akan langsung tahu siapa yang datang dan apa pun yang terjadi.
Sepekan.
Namun tidak ada apa pun yang terjadi. Hanya warga desa sekitar yang keluar masuk hutan. Sepekan sudah mereka berpisah. Gelisah dan takut mengisi ceruk hatinya, menemani kerinduannya.
Terombang-ambing tanpa kejelasan. Kabar keluarganya pun tak diketahui. Beberapa kali dia melihat warga desa yang dia kenali memasuki hutan, tapi dengan alasan keamanan, dia memilih diam. Tak menegur, tak bertanya.
Kecuali jika Paman Tirta, Udayana, atau Rindang yang datang.
Terutama Udayana. Dia bisa kuminta mencari tahu sampai ke rumah Ells.
Tapi mereka tak pernah muncul.
Sepekan.
Ke mana Udayana?
Sepekan dia tak ke hutan. Apa yang dia lakukan di desa? Apa yang terjadi dengannya? Atau ... apa yang terjadi di desa?
Sesungguhnya, Airlangga sangat mencemaskan keluarganya. Sepekan tak ke hutan, itu di luar kebiasaan mereka. Hutan ini rumah kedua buat mereka, bukan hanya baginya. Rindang biasa mencari kayu bakar dan tanaman obat sedangkan Paman Tirta dan Udayana berburu atau sekadar mencari kayu bakar.
Ke mana mereka semua?
Apa ulahku membuat mereka celaka? Apa yang terjadi pada mereka?
Semakin pikirannya seperti itu, semakin Airlangga tersiksa. Dia semakin gelisah tak tenang. Pikirannya terbagi antara mencari tahu kabar Ells dan melindungi keberadaan keluarganya. Dua hal ini sulit jika harus dikerjakan bersamaan. Terlalu berisiko. Apalagi jika dia sampai tertangkap. Jika hanya dia yang mati, dia tidak peduli.
Dia sudah tidak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri. Mungkin memang dia lebih baik mati. Tak perlu merepotkan keluarganya, tak perlu sakit patah hati ditinggal Ells. Mungkin seharusnya dia mati bersama ayah dan ibunya. Saat tidak ada kenangan yang membekas yang bisa dia kenang.
Seharian ini, entah mengapa dia merasa sakit yang begitu sakit. Gelisah yang begitu gelisah. Kali ini dia gagal menenangkan dirinya.
"AAARRRGGHHH...!!!"
Dia mengamuk menusuk-nusuk tanah dan menebas-nebas perdu dengan tombak. Dia tidak lagi menjaga jejaknya. Antara yakin mereka sudah tidak mencari di hutan karena Ells sudah pulang dan sudah tidak peduli apa-apa lagi.
Dia terus mengamuk sampai akhirnya tenaganya habis dan dia terpuruk jatuh berlutut tersaruk lalu bersimpuh di tanah. Tubuhnya basah keringat. Bahunya bergetar hebat. Tak bertenaga, tangannya yang mengepal meremas daun kering menumpu tubuhnya. Kepalanya menunduk menyembunyikan wajah.
Marahkah?
Sedihkah?
Dia sendiri tak tahu. Dia tidak mengenali dirinya sendiri.
Matahari makin jauh di barat. Tidak ada lagi orang yang akan datang ke hutan. Semua bahkan sudah pulang. Bahkan hewan pun sudah kembali ke sarang. Sementara dia masih terpuruk di sana berusaha mengenali dirinya sendiri. Entah apa yang membuatnya sekacau ini. Hati lelakinya berkata, ada yang salah yang sudah terjadi. Tapi dia tidak tahu apa. Dia hanya ingin mengamuk, mengalirkan semua emosi yang bergolak, tapi tenaganya sudah habis. Dia hanya bisa tersaruk di keremangan senja.
Senja mengantar pulang matahari dan menyambut datangnya malam. Dunia kembali gelap, tapi sepanjang hari ini Airlangga merasa hidup tanpa matahari.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romansa[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
