94, Inlanders Itu Bernama Airlangga Darma

21 3 0
                                        

"Schat ... rustig maar...."[1] Akhirnya Airlangga bersuara. Tangannya meremas jemari Ells. Dia tidak ingin situasi yang tadi sudah lebih cair menjadi kaku lagi karena Ells tidak bisa mengontrol emosinya. "Wij zullen in mijn dorp wonen. Ik kon onze velden niet verlaten. Maar als deHeer van Loen mijn hulp nodig, Ik zal blijj zijn om hem te helpen. Wat het ook is."[2] Tenang Airlangga berucap. Matanya bergantian memandang satu per satu orang di sekitarnya. Seakan jawaban itu sudah sejak lama dia persiapkan.

Jawaban diplomatis itu membuat semua orang—empat orang—terperangah.

Bukan!

Bukan karena jawaban diplomatisnya. Tapi lebih kepada bahasa yang Airlangga gunakan.

Airlangga menjawab dengan menggunakan bahasa ibu mereka, bahasa Belanda, dengan sangat lancar dan fasih.

"Angga...?" Ells terpana. Matanya mendelik indah.

"Ik hoop dat je niet boos op mijn beslissing, Schatje. Ik heb's al beantwoord voordat we eerst kunnen bespreken. Sorry."[3] Genggaman tangan Airlangga semakin kuat meremas jemari Ells, matanya menatap memohon maaf.

Bukan!

Bukan keputusan sepihak itu yang membuat Els terpana. Dia sudah bersedia dan bahkan sudah berjanji untuk ikut ke mana pun Airlangga pergi.

Ells tetap terpana, membuat Airlangga menciut.

Tidak mungkin kita bertengkar urusan tempat tinggal di depan mereka, bukan? Terlebih di depan Robert, pikir Airlangga.

"Schat..."[4] Airlangga semakin cemas, semakin mengeratkan genggamannya.

"Angga, hoe kun je zo vloeiend in het Nederlands zijn?"[5] desis Ells dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang yang ada. Dia tidak bisa menyembunyikan keheranannya seperti juga tiga orang berkulit putih yang lain di sana. Semua menunggu jawaban Airlangga

Airlangga mendelik sempurna, lupa bahwa dia menjawab dengan bahasa ibu mereka. Dia sungguh-sungguh mengira Ells marah dengan keputusan sepihaknya.

Setelah tersadar, Airlangga tertawa kecil. "Dayana en ik zijn de studenten van Om Wit,"[6] jawabnya singkat saja.

Jawaban yang kembali membuat semua yang ada terperangah.

"Di mana kau kenal Pater Blank?" Ells bertanya lagi. Makin terkejut dan heran.

"Paman Putih datang bersamaan dengan kedatangan Gubernur Deandels. Ketika Gubernur Deandels membangun jalan raya pos Anyer-Panarukan, Paman Putih sangat tidak setuju dengan tindakan Gubernur Deandels yang mempekerjakan rakyat dengan sangat tidak manusiawi. Sebagai seorang yang sangat lembut, Paman Putih sudah berupaya berbicara pada Gubernur. Dengan membawa slogan revolusi Prancis. Liberte, egalite, fraternite. Berharap pengalaman hidupnya di Prancis masih membekas. Tapi Gubernur Jendral mengabaikan saran Paman Putih."

Airlangga bercerita dengan suara tenang. Dari caranya menyebut nama Paman Putih, atau Om Wit, atau Pater Blank, terlihat dia sangat menghormati gurunya.

"Merasa gagal, Paman Putih memilih menjauh dari utara. Dia menyusuri jalur selatan Jawa. Dan akhirnya jatuh cinta pada Bromo. Akhirnya memilih menetap di Bromo. Menjadi guru bagi banyak anak-anak seperti kami. Tapi aku dan Dayana adalah muridnya yang terdekat. Kami sangat kehilangan ketika Paman Putih memilih ikut ke Manado, tempat pembuangan Kanjeng Pangeran Diponegoro. Dia memilih pergi pun karena rasa bersalahnya pada inlanders." Airlangga menyudahi ceritanya.

Ells terperangah.

"Jadi ... kau yang sering disebut Pater Blank sebagai bocah Bromo kesayangannya?"

Airlangga tertawa kecil sambil mengedikkan bahu. "Mungkin. Aku tidak tahu kalau kami murid kesayangan Paman Putih, tapi aku memang bocah Bromo."

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang