42, Di Pagi yang Sama

33 3 0
                                        

PAGI datang memulai hari. Gelisah tadi malam menepi memberi jalan pada kesibukan melanjutkan hidup. Tubuh-tubuh kurang tidur tetap bergerak bersana napas dan aliran darah.

Matahari belum sempurna membulat di ujung timur ketika Udayana sudah berjalan ke ladang. Mengabaikan lemah bergumul dengan hati, dia berusaha mengumpulkan semangat demi sesuap nasi. Sampai di ladang, tak dia sisakan waktu untuk melamun. Pekerjaan berbaris menanti menunggu tenaganya bergerak. Sepagi itu, tubuh liatnya sudah berpeluh di bawah matahari pagi.

Ada yang harus dia kerjakan lepas mengurus ladang.

***

Di pagi yang sama, dalam keadaan yang berbeda langit dan bumi, Robert menggeliat malas. Tidur tak lelapnya terganggu gelisah. Terlalu pagi untuk ukurannya. Bahkan ini bisa disebut masih malam jika malam dia habiskan dengan berpesta. Masih bermalas-malasan, dia termangu bersandar di kepala ranjang. Gelisahnya tadi malam membawa hal lain yang ingin segera dia selesaikan. Namun malas masih menjadi raja. Berdiam di tubuh yang menjadi budak kemalasan itu.

Seperti waktu berhenti bagi lelaki seperti dia. Dia bebas melakukan apa pun ketika waktu menjadi beku. Tekadnya semalam belum berubah, tapi itu bisa dikerjakan nanti. Hari baru dimulai, tak akan habis dakam 24 jam ke depan.

Dia menjatuhkan tubuh lalu melanjutkan mimpi.

***

Kepala Ells berbantalkan perutnya ketika Airlangga terbangun. Tersenyum bahagia, merasa sangat nyaman, dia tidak mau mengganggu lelapnya tidur Ells hingga memilih diam, menikmati romansa ini. Tangannya membelai rambut Ells yang terhampar berantakan di dadanya.

Pagi yang sama, jauh di tengah hutan. Airlangga menikmati pagi pertama bergelung berpasangan. Cicit burung terdengar ramai. Desir angin menggesek daun ditingkahi gemercik air di kejauhan. Udara dingin menembus dinding kayu tipis membuat Ells semakin merapatkan pelukannya. Tersenyum, dia tentu membiarkan gadisnya bergelung di ketiaknya.

Kesibukan alam menyambut pagi tak berlaku di ruang kecil ini. Waktu berhenti berdetak. Membiarkan semburat jingga mengoyak gelapnya fajar. Matahari memang bergerak naik, tapi waktu tetap berhenti di ruang kecil itu.

Ells menggeliat, melepaskan pelukannya, tapi tak terbangun. Dia berbalik memunggungi Airlangga, melanjutkan lelapnya.

Perlahan, Airlangga bergerak, menyingkap kain yang menjadi selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Cairan bersemu merah sudah mengering pada kain yang menjadi spreinya—bekas spreinya. Bekas-bekas cairan mereka juga ada di bagian-bagian tubuh mereka. Tubuh indah Ells terlihat lebih jelas ditemani matahari. Bergegas, dia membuka jendela.

Tuhan ... dia lebih indah bersama matahari dibanding bersanding gelap.

Airlangga menikmati pemandangan indah itu. Sesuatu terbangun utuh tanpa perlu dia sentuh ketika pemandangan indah menggoda matanya. Membuatnya menggoda dirinya sendiri. Di pagi itu, pagi yang baru, dunia terlihat lebih indah.

Tubuhnya meremang. Sesuatu yang baru, segera menjadi kebutuhannya.

Aku tak mau mengganggunya, dia pun pasti masih nyeri bekas penyatuan kami semalam. Tapi aku tidak mampu bertahan melihat pemandangan itu setelah menghabiskan malam bersama tubuh itu.

Ditemani tubuh indah Ells, dia memilih sendiri saja mengurus tubuhnya. Pikirannya berkabut dan tubuhnya melemah lunglai namun pikiran berkabut itu bergerak maju. Kabut yang perlahan memudar. Ditemani hatinya, raganya tertinggal jauh di belakang.

Apa yang sudah aku lakukan? Apa yang sudah terjadi pada kami? Kami melangkah terlalu jauh. Seharusnya aku bisa menahan diri. Ini salah, apa yang terjadi pada kami semalam adalah sebuah kesalahan. Apa pun alasannya, yang semalam salah. Aku yang salah. Dari awal, aku yang salah. Aku yang memulai semunya. Marah ini, balas dendam ini, penculikan ini, sampai yang semalam, semua salahku. Seharusnya aku bisa menahan emosi. Emosi marah, emosi dendam, termsuk emosi hasrat kelelakianku.

Seandainya...

Ah, selalu ada berandai-andai. Semua sudah terlambat. Aku harus menanggung semua akibatnya. Aku sudah nenandai seorang gadis. Dia berbekas. Aku pun berbekas mesti tak berjejak.

Duduk meringkuk bertelekan lengannya, Airlangga bermonolog dan mulai berpikir jernih.

Aku cinta dia. Ya. Itu benar. Dia cinta aku. Ya. Itu bisa kurasakan. Tapi cukupkah cinta menjadi jembatan langit dan bumi yang terentang di antara kami? Sudah dua kesalahan yang aku temukan. Aku seharusnya tidak menyentuhnya semalam. Dan langit dan bumi ini .... terlalu jauh untuk direkatkan.

Bagaimana caranya mendekatkan langit dan bumi? Membuat keduanya melekat tanpa ada angkasa yang membatasi keduanya.

Berapa lama bidadari bertahan hidup di bumi? Begitu dia menemukan selendangnya, dia akan segera kembali ke kahyangan? Berapa lama manusia gua bertahan hidup di kota tanpa merasa terasing?

Ah, itu terlalu jauh. Sangat jauh. Aku berpikir seakan kami akan bersatu. Seakan dia akan melanjutkan hubungan ini. Dengan hubungan kami sekarang, tentu kami tidak akan berlaku sebagai penculik dan korbannya. Tapi sampai kapan?

Semakiin dia berpikir, semuanya semakin jelas. Kejelasan yang membuatnya berpikir lebih keras lagi, mengabaikan hati yang sebelumnya melembut dipenuhi keindahan dunia. Ada yang tidak bisa diselesaikan dengan hati. Meski semua berawal dari hati tapi semua harus berakhir dengan mematikan hati.

Airlangga masih bersama dengan pikirannya ketika Ells menggeliat bangun. Entah sinar matahari, entah kegalauan Airlangga membuat ruang kecil itu menjadi sesak dan sempit. Tapi dia terbangun tanpa perlu diusik. Sesuatu yang nyaris tidak pernah terjadi. Kulitnya meremang kedinginan, kehilangan kehangatan dari tubuh maskulin yang menenangkan.

Tak perlu mencari di ruang sekecil ini. Begitu matanya terbuka, sosok Airlangga terlihat jelas duduk menatap keluar melalui jendela

Melihat Airlangga duduk tercenung, Ells tersentak. Entah mengapa tubuhnya langsung bersiaga. Menghentikan geliat tubuhnya, berguling, bergegas ke Airlangga tanpa memedulikan kepolosan dirinya. Ada yang salah dengan lelakinya.

"Angga...?" Bersimpuh, dia menyentuh bahu Airlangga. Suaranya lembut seperti berbisik. "Ada apa?" Itu sapaan selamat paginya. Sejelas langit biru di atas sana, Ells bisa melihat kabut menutupi mata gelap itu. Kenapa mata itu sehitam malam di saat semuanya secerah pagi?

Airlangga menoleh, tersenyum, meraih jemari yang membelai bahunya. Mengelusnya lembut, lalu membawanya ke bibir. Mengecup syahdu. Matanya tak lekang menatap wajah cantik dan tubuh indah di depannya. Mata biru itu sewarna langit pagi. Segar, menentramkan, indah. Sangat indah.

Wanitanya.

Sudah kutandai kau, Cantik. Aku menjaga milikku dengan nyawaku. Tapi bagaimana kalau kau yang menghilangkan tanda itu? Tanda itu pasti berbekas bahkan tidak akan hilang. Tapi ada yang bisa hilang, sesuatu yang tergenggam sangat mudah lepas. Aku selemah ini, tanganku tak kuat menggengam. Jatuh, genggaman terkulai, kau pun menghilang. Apa aku harus menguatkan genggaman? Aku takut menyakitimu. Sudah cukup kemarin kau tersiksa. Kali ini aku akan memanjakanmu. Bisakah? Akan kubayar semua kesalahanku. Adakah kesempatanku untuk itu? Atau aku harus menebusnya dengan nyawaku?

Kabut semakin pekat menutupi mata segelap malam itu. Tatapannya redup, seperti bulan mati yang kehilangan cahaya. Ke nama cahaya mata indah itu? Semalam, dalam gelap semua sejelas siang. Sekarang, saat hari sudah bersama matahari tapi semua segelap hitam.

"Ada apa, Angga?" Ells sungguh tak berharap menjumpai mendung setelah mereka meledakkan malam dengan cahaya kenikmatan.

"Kau indah, Ells." Tangannya bergerak mengelus pipi merona itu. Mengelus dengan punggung telunjuknya, tak mau melukai lembut kulit itu dengan kasar kulitnya. Matanya tak lepas dari menatap gadisnya. Tatapan yang membuat Ells jengah. Bukan tak suka, tapi tak nyaman. Tatapan itu mendung berkabut.

"Ada apa, Angga?" Ells menatap Airlangga. Ada dinding tak terlihat yang memisahkan mereka. Berdekatan, tapi berjarak. Bersentuhan, tapi tak tersentuh. Bersama, tapi tak terlihat. Berdua, tapi tak bersatu.

***

Bersambung


3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang