13, Hari Pertama

24 4 0
                                        

DI tengah hutan, mereka melanjutkan perjalanan menerobos hutan. Kali ini, Airlangga tidak mengikat tangan Ells. Dia pun jarang menoleh ke belakang.

Toh dia bisa melihat aku dengan jelas.

Itu salah satu alasan yang membuatnya semalam mengikat tawanannya seperti sapi. Alasan lain tentu menjaga agar gadis itu tidak nekad melarikan diri. Dia mungkin akan mudah menemukan gadis itu tadi gadis itu bisa mengacak-acak jejak yang dia buat. Jika itu terjadi, semua mudah terbongkar.

Saat ini, cukup telinganya saja yang bekerja. Dari gesekan daun dan ranting yang terterabas kasar, dari langkah kaki terseret dan bunyi daun dan ranting kering terinjak, termasuk dari dengus napas memburu kasar. Semua suara-suara itu lebih dari cukup untuk memberitahu bahwa tawanannya tetap berjalan di belakangnya meski terus menggerutu.

Melihat sungai di depannya, Ells tahu, lagi-lagi dia harus menyebrangi sungai. Ini entah sungai yang keberapa yang dia seberangi. Yang membuatnya jengkel adalah ketika mereka tidak pernah langsung menyeberang melainkan berjalan terlebih dahulu menyusuri aliran sungai. Kadang searah arus, kadang melawan arus. Ketika harus melawan arus, langkah Ells makin limbung. Saat itulah baru penculiknya mau membantunya berjalan. Dia akan menjulurkan tangannya sebagai pegangan. Tanpa bisa memilih, Ells terpaksa menerima uluran tangan itu daripada dia terseret arus. Apalagi jika dasar sungai yang mereka lalui licin berbatu. Beberapa kali dia terpeleset, penculiknya sigap membantunya kembali berdiri meski tetap tanpa suara.

Semakin lama, Ells merasa pepohonan semakin rapat. Udara semakin lembab. Dan mereka semakin sering bertemu dengan hewan-hewan aneh yang tidak pernah dia ketahui ada di dunia ini. Ells merasa dia makin jauh dari rumah. Hatinya tercubit lagi. Harapannya makin kecil untuk melarikan diri. Kecuali dia merasa lebih baik mati sekarang daripada nanti.

"Hey, kita mau ke mana?" tanyanya ketika hari menjelang gelap kembali.

Tubuhnya sudah tidak berbentuk. Wajahnya coreng moreng tanah yang berasal dari jejak tangannya sendiri ketika dia menghapus keringat. Rambutnya sudah kusut masai basah keringat. Gaunnya? Sudah lebih bagus lap dapur Bi Imah dari gaun itu. Tubuhnya? Dia tidak berani melihat tungkainya. Kakinya sudah menjerit-jerit sejak jam-jam pertama. Mungkin sekarang sudah pingsan, mati rasa. Dia sudah tidak peduli jika ada ranting yang menggores tubuhnya. Jika dia pulang dalam kondisi seperti ini, dia yakin, papanya pun tidak mengenalinya. Dia sudah seperti orang gila. Bahkan mungkin memang dia sudah gila.

Ini baru satu hari.

Sampai kapan penderitaan ini berakhir?

Apa kematian yang akan mengakhiri semuanya?

Memikirkan itu, dia semakin hancur. Semakin tidak peduli pada penampilannya.

"Hey, aku lelah!" bentaknya.

Airlangga tetap diam tak menjawab. Memegang tombak, dia sedang berkonsentrasi mencari makan malam mereka.

.

Jleb.

.

Seekor kelinci menggelepar, mengejang, lalu mati.

Ells kembali membelalakkan mata. Tuan putri seperti dia tentu tidak pernah melihat proses seperti itu. Dia hanya tahu bahwa makanan siap santap ada di meja.

Tadi Ells menolak makan pagi. Tapi tentu saja tidak mungkin dia membiarkan tawanannya kelaparan. Pun Airlangga yakin, kali ini tawanannya tidak akan menolak. Gadis manja itu tidak pernah merasakan lapar. Nyaris sehari semalam ini, dia sudah merasakan neraka dunia. Mengingat itu, senyum miring terbentuk di bibirnya.

Kau baru mulai memasuki neraka, Tian Putri. Segera, akan kuajak kau ke kerak neraka. Tunggu saja. Kau akan memohon-mohon padaku seperti saudara sebangsaku memohon-mohon pada kerabatmu. Kau akan memohonkan kematianmu karena hidupmu terasa di neraka. Tunggu saja.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang