93, Makan Pagi Bersama

19 3 0
                                        

BERDIRI tak sampai sepuluh langkah di hadapannya, Airlangga, lelakinya, suaminya, dalam balutan yang berbeda. Dalam busana serba putih, berdiri santai laiknya itu pakaian dinas hariannya. Tak terlihat canggung, tak terlihat aneh, semua terlihat natural.

Hanya terlihat berbeda.

Melihat Ells datang, Airlangga tersenyum sambil kedua tangannya merapikan jasnya. Dasinya sudah terpasang sempurna. Dia berdiri di sana dengan pakaian resmi lengkap dari jas, dasi, kemeja, pantalon, dan pantofel.

Ya.

Tentu saja berbeda. Ini kali pertama Ells melihat Airlangga berpakaian seperti itu. Selama ini Ells selalu melihat Airlangga hanya memakai kain dan bertelanjang dada. Dadanya selalu terpapar indah. Tapi kali ini, dada indah itu tertutup sempurna. Tertutup, tapi justru menampilkan keindahan lain dari lelakinya.

Ells tidak tahu, berapa lama dia berdiri terpaku di ambang pintu. Dia tersadar ketika Airlangga bergerak mendekat sambil merapikan anak rambut di dahi dengan jemari.

"Ells? Ada apa?" Bergerak lentur dan anggun, melangkah mendekat ke hadapan Ells.

Ells tergagap, tak tahu harus bicara apa, "A ... Ang ... Angga ... sep ... sepertinya ak ... aku ... tidak perlu membantumu berpakaian."

Airlangga tertawa kecil. "Sepertinya begitu." Tangannya terjulur merengkuh pinggang Ells. "Apa kita akan keluar sekarang? Tubuh mereka bersatu di bagian bawah, tapi Ells bertahan untuk tetap menatap wajah Airlangga.

Ells diam. Tak menjawab, hanya tangannya terulur merapikan anak rambut Airlangga yang jatuh lagi di dahinya.

"Ah, ya. Aku sudah menyisir rambutku, tapi aku terbiasa mengacak-acaknya lagi. Apa itu masalah untukmu?"

Sungguh, aku berpakaian untukmu, Ells. Akan kuturuti bagaimana kau mau aku bersikap dan berlaku, Sayang.

"Tid ... tidak ... tidak. Tak ada masalah." Hanya rambut berantakannya itu yang tersisa dari Angga-nya yang liar dan pemberontak.

Liar?

Pemberontak?

Ah...

Tidak!

Angga-nya tidak liar. Dia lembut, jinak seperti kelinci. Ini hanya Angga-nya yang lain. Dalam lapisan yang berbeda, tapi dia tetap Angga-nya.

Dia begitu mencintai Angga-nya.

"Ada apa, Ells? Kenapa kau menatapku seperti itu?"

"Kau ... tampan sekali." Ells berkata jujur. Kejujuran yang membuat Airlangga tertawa renyah.

"Jadi sebelumnya aku tidak tampan?"

"Tid ... tidak ... Bukan begitu." Tergagap. "Kau selalu tampan di mataku. Tapi kali ini kau terlihat berbeda. Tampanmu berbeda."

Airlangga tersenyum. "Ini hanya penampilan luarku saja, Sayang. Aku tetap Airlangga yang sama. Anggamu yang sama seperti yang kau kenal. Apa pun yang kupakai, aku tetap orang yang sama. Jangan terkecoh penampilan luar."

Ells tersenyum.

"Semuanya pas sekali di tubuhmu, Angga."

"Ya. Ini seperti pakaian yang dijahit khusus untukku."

"Memang."

Airlangga berkeryit dahi. "Kapan dia mengukurku?"

Ells mengedikkan bahu. "Aku hanya menyuruh salah seorang staf Papa menyiapkan pakaian resmi untukmu. Lalu penjahit langganan Papa datang melihatmu. Sudah."

Airlangga mengangguk-angguk.

"Ayo, ayahmu sudah menunggu." Airlangga akhirnya menarik tubuh Ells agar bergerak meninggalkan ambang pintu.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang