BAU anyir dan amis darah menerpa hidungnya.
Itu dia!
Dia sudah melihat van Loen.
Bersimpuh, di sudut lain, jantung Airlangga berdetak semakin keras. Nyawanya makin di ujung. Sudah terlalu banyak luka dan darah yang mengalir. Tanpa pedang pun dia akan mati perlahan. Namun bukan itu yang membuat detak jantungnya menggila. Ada yang lain.
Ells terus mendekat. Dia mengeryit mual tapi meneguhkan hati, tekadnya yang sudah membulat mengabaikan semua halangan.
"Pap—" serunya tak lengkap begitu melihat sosok bersimpuh di depan van Loen. Dia terkesima melihat sosok bersimpuh itu. Sesosok tubuh hancur lebur. Lebam dan luka di sekujur tubuhnya membuat siapapun susah mengenalinya.
Kesalahan apa yang dia lakukan sampai menerima hukuman seberat ini?
Namun ada sesuatu dari sosok itu yang membuat Ells terpaku berusaha mengenali sampai matanya menyipit dan keningnya berkeryit. Dia terdiam, terpaku, dan tetap berdiri terpaku menatap sosok itu.
Airlangga demi mendengar satu seruan pendek, tubuhnya langsung tersentak. Lehernya bergerak kaku ke arah sumber suara dan memaksa matanya membuka.
"Ells ...." Membisik lirih. Dia merasa sudah di surga walau nyawanya masih terikat di bumi.
Tuhan .... Terima kasih. Dia datang. Tepat pada waktunya. Dan dia baik-baik saja. Terima kasih. Aku siap, Tuhan.
"Kau datang, Sayang ..." Lirih, sangat lirih dengan bibir nyaris tidak bergerak. Hanya dia seorang yang bisa mendengar bisik selirih itu.
Ells terus berusaha mengenali sosok itu. Sampai suatu kilau lemah dari mata lebam menyadarkannya akan siapa sosok itu.
"ANGGA ...!!!" Terbelalak, terkejut, terperangah, Ells berdiri mematung.
"Ells ... Sayang ...." Airlangga berbisik. Bibir kaku dan keringnya menyunggingkan senyum lemah. "Aku datang, Sayang ..." Tidak ada yang mendengar suara selirih itu. "Kita bertemu lagi."
"Angga ..." Ells berlari menepis semua penghalang, tak tertangkap semua tangan yang berusaha menahannya. Dia langsung menjatuhkan dirinya ke pelukan Airlangga. Dan menangis meraung di sana. Melepaskan semua yang dia rasa.
"Angga ..." bisiknya di telinga Airlangga, isaknya total menjadi tangis.
"Aku datang, Sayang." Airlangga balas membisik. Kepalanya mengangguk lemah membelai Ells ketika tangannya tidak bisa bergerak melakukan itu.
"ELLS! BANGUN!" bentak van Loen sambil menarik Ells untuk berdiri.
Alih-alih melepaskan Ells malah mengeratkan pelukannya. Rindunya tak akan habis dengan pelukan sekejap.
"Angga ... aku rindu kamu, Sayang. Sangat," isaknya di telinga Airlangga. Suara dan kata-kata yang membuat Airlangga melayang ke nirwana.
Jika aku harus mati sekarang, aku sudah siap. Aku ikhlas. Oh, Dewata Agung, ambil aku disaat dia memelukku seperti ini.
Airlangga mengumpulkan tenaga sebisa tubuh lemahnya bertahan dan berusaha. Dia berusaha merajut lagi helai-helai kehidupan yang sudah tercerabut satu per satu dari nyawanya.
Van Loen terpaku melihat anaknya menempel erat pada sosok menjijikkan yang sudah tidak berbentuk itu.
Masih terisak, Ells melepaskan pelukannya.
"Tuhan ... apa yang mereka lakukan padamu, Sayang?" Ells meraba wajah hancur Airlangga. Tersenyum lemah, Airlangga memiringkan wajah, berusaha melihat wajah Ells. Kepalanya bergerak mengikuti belai lembut itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Storie d'amore[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
