98, Sahabat Sejati

26 2 0
                                        

DUA pasang berjalan bergandengan berpelukan ke arah balai-balai dipimpin Tirta di depan lalu semuanya duduk kecuali Rindang yang langsung ke dapur mengambil minuman.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Angga?" Udayana tak membuang waktu untuk bertanya. "Berita terakhir yang kami dengar anak gadis Meneer van Loen akan menikah. Tak lama berita lain masuk, petunangan itu dibatalkan. Ada juga berita penculiknya datang menemui Meneer van Loen. Kami sangat cemas dengan berita ini, tapi aku tidak bisa mencari tahu lebih jauh. Sepertinya kabar itu ditutupi."

"Begitulah yang terjadi."

"Yang kami tahu Nona Ells pulang tanpa kau. Kenapa kau bisa ada di rumah itu?"

"Aku tidak mungkin membiarkan istriku menikah dengan lelaki lain." Tegas.

"Bagaimana caranya kau bisa tetap hidup keluar dari rumah itu, Nak?" Tirta bertanya cemas. "Paman sudah nyaris mati mendengar selentingan itu. Kenapa kau menyerahkan diri? Kenapa kau tidak pulang saja ke sini? Selama ini kau tidak terlacak. Semua berkecamuk hebat di benak Paman. Membuat Paman sangat khawatir. Kau membuat Paman mati berdiri, Nak."

"Maafkan aku, Paman." Airlangga menundukkan wajah, merasa sangat bersalah.

"Lupakan. Kau sudah kembali." Tangan Paman Tirta bergerak menghalau angin. "Lalu bagaimana caranya kau bisa kembali bersama nyawamu ke sini dan membawa anak gadis Meneer van Loen sebagai istri?"

"Atas kebaikan hati Tuan van Loen dan rengekan putrinya tentu. Apalagi? Aku tidak mungkin bisa melawan mereka kan?" Airlangga mengedikkan bahu. "Ah, apa yang terjadi di sini? Aku yakin ada yang kalian lakukan untuk melindungiku kan?"

"Pertanyaanku yang lain adalah, bagaimana bisa kalian sampai menikah? Apa yang kalian lakukan di hutan?" Banyak yang ingin Udayana tanyakan. Dia mengabaikan pertanyaan Airlangga demi memuaskan rasa ingin tahunya.

"Pertanyaan bodoh. Tentu saja kami bekerja keras."

"Bekerja keras menyelamatkan diri? Apa yang terjadi di dalam? Kami berusaha keras agar mereka tidak menembus batas aman terakhir. Sungai itu." Udayana menebak sangat serius dengan jantung berdebar.

"Tidak. Bekerja keras membuat Airlangga kecil." Airlangga terkekeh kurang ajar. "Auch." Jengkel. Sangat jengkel, Udayana menendang kaki Airlangga. Membuat Airlangga terbahak lepas.

"Kami di luar setengah mati melindungi kau, tapi kau di dalam malah berasyik masyuk. Kurang ajar sekali." Airlangga makin terkekeh mendengar gerutu itu.

"Aku tahu kau bekerja keras melindungi kami, karena itu kami bisa berbulan madu di hutan." Airlangga masih melanjutkan ocehannya.

"Aku sama sekali tidak menduga kalian akan menikah. Ketika Nona Ells—"

"Ells saja, Dayana. Aku istri sahabatmu," potong Ells cepat.

"Baiklah, Ells." Udayana langsung mengiyakan panggilan itu, jengah jika harus bersopan santun dengan istri sahabatnya. "Ketika kabar Ells pulang, pikiran kami sudah kacau. Entah kau melepaskan tawananmu dengan suka rela atau dia melarikan diri karena ..."

"Aku mati?" lanjut Airlangga cepat.

Semua terdiam. Diam yang menjadi jawaban iya untuk pertanyaan Airlangga.

"Aku menyuruh Ells pulang karena dia hamil. Dia tidak mungkin tetap tinggal di hutan sebagai tawanan atau pelarian. Semua demi kebaikan dia dan anak kami."

"Tapi sampai kalian menikah, itu sangat tidak disangka-sangka. Bagaimana bisa?"

"Begitulah hidup. Penuh kejutan." Airlangga tersenyum dan mengeratkan pelukan di bahu Ells. "Kami yang dulu saling membenci bisa saling mencintai sampai rela mengorbankan apa pun."

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang