HARI tentu masih sangat pagi ketika Airlangga meninggakan rumah pohon. Dia berjalan tanpa dikejar apa pun. Langkahnya memang ringan nyaris melayang meski kepala dan hatinya berat. Namun dia tetap berjalan. Di tepi hutan, dia berhenti lalu menatap lurus ke arah rumah Ells, seakan meyakinkan dirinya bahwa Ells benar-benar tidak akan datang. Dia menunggu sampai hari agak siang di sana. Sampai waktu yang dia rasa cukup, barulah dia keluar batas hutan.
Untuk mencapai pasar, Airlangga harus melewati rumah Ells. Hatinya berderap mengingat Ells ada di dalam sana. Semakin mendekati rumah itu, jantungnya semakin berdegub. Seakan dia ingin berlari menerobos masuk menjumpai Ells.
Ells, Daniella, Sayang. Sedang apa kau di dalam sana, Sayang? Bagaimana kabar anak kita? Apa dia baik-baik saja? Aku yakin kau menjaganya sebaik mungkin. Maaf aku tidak bisa mengurus kalian kemarin. Tunggu aku. Aku akan menemui kalian. Sampaikan salam rinduku pada anak kita. Dan tentu untukmu, Ells. Aku rindu sekali. Dia memperlambat langkahnya sepanjang rumah itu. Terus berbisik menyampaikan pesan rindu. Dia harus menahan diri untuk tidak berhenti bahkan melirik terlalu sering ke arah rumah.
Melirik sekilas ke dalam pagar, Airlangga tahu, penjagaan sangat ketat di dalam sana. Dalam sekilas itu dia melihat beberapa orang bersenjata berjalan mondar mandir di sekitar halaman belum termasuk yang diam berjaga di posnya. Penjagaan rumah itu jauh lebih ketat daripada ketika dia berhasil menculik Ells.
Haruskah aku menculik Ells lagi? Kali ini, meski penjagaannya semakin ketat, tapi Ells pasti lebih kooperatif.
Melewati rumah Ells, dia kembali mempercepat langkah. Dia bergerak agak siang, karena biasanya, warga desanya berangkat ke pasar sejak pagi. Dia harus menghindari bertemu dengan orang yang mengenali dirinya. Tapi dia memang sedikit berubah. Tubuhnya lebih kurus, akibat selera makan yang terbawa pergi oleh Ells. Rambutnya semakin berantakan, tak ada yang mengurusnya. Rambut di wajahnya dia biarkan memanjang.
Menenteng sedikit ikan, sekadar basa-basi pembuka percakapan, Airlangga berjalan memasuki keramaian. Dia berusaha melebur dengan pengunjung pasar yang lain. Berusaha tidak terlihat mencolok, dia berjalan mencari sumber berita. Tujuannya jelas, kerumunan perempuan yang sering bertukar berita. Dan dengan cepat dia melihat kerumunan seperti itu. Perlahan dia berjalan mendekat. Sesekali dia menjulurkan isi tangan seakan menawarkan jualannya.
Menajamkan pendengaran, Airlangga meletakkan ikannya di tanah berlapis daun pisang. Kembali, dia sesekali menawarkan pada orang yang lewat di depannya.
"Pekan depan aku tidak bisa berjualan." Seorang gadis muda bersuara.
"Ah, kenapa pula? Hanya saat berjualan seperti inilah kita bisa bersua. Pekan lalu kita tidak bertemu karena aku sakit." Seorang wanita lain bertanya menanggapi wanita yang pertama. Airlangga semakin menajamkan pendengarannya. Jika mencuri dengar tak berhasil, dia baru akan mencari tahu.
"Bibiku memintaku untuk membantu pesta di rumah Meneer van Loen."
Ah, ini berita yang kutunggu.
Namun berita itu membuat jantungnya berderap semakin cepat.
"Pesta? Pesta apa lagi? Bukankah pesta ulang tahun Nona Daniella sudah? Eh, kudengar nona itu sudah kembali. Benarkah?"
"Benar. Penculiknya sudah melepasnya. Nona pulang sendiri. Menurut bibiku, Non Ells terlihat segar. Tubuhnya lebih berisi."
Tentu saja. Dia sedang mengandung anakku! Dan dia selalu makan dengan lahap.
"Oh, baguslah kalau begitu. Aku bosan dengan kedatangan serdadu yang selalu datang mengobrak-abrik desa untuk mencari si penculik."
Jantung Airlangga berderap lagi. Semoga tidak ada korban karena ulahnya.
"Sampai saat ini, penculiknya belum tertangkap. Bahkan belum ada kabar siapa sesungguhnya dia."
Tuhan, terima kasih. Semoga berita itu berarti keluargaku baik-baik saja dan Ells benar-benar tidak pernah menyebut namaku.
"Hhmm ... penculik yang licin. Lalu itu pesta apa? Apa ini pesta perayaan kepulangannya?"
"Ah tidak."
Tak mengacuhkan seorang yang bertanya harga ikannya. Menjawab dengan harga tinggi agar tak ada orang yang membeli dan mengganggu konsentrasi kegiatan mencuri dengarnya.
"Lalu pesta apa lagi? Mereka sangat senang berpesta. Semua mereka rayakan dengan makan-makan."
"Kemarin, Meneer der Vasse datang untuk melamar Non Ells untuk anaknya Meneer Robert der Vasse."
Bagai diterkam harimau, Airlangga terperangah mendengar berita itu. Total mengabaikan orang yang bertanya dagangannya.
"Pesta pekan depan untuk merayakan pertunangan mereka. Menyusul bulan depan pernikahannya. Pestanya pasti akan sangat meriah. Lebih meriah dari pertunangannya. Saat itu pasti aku lebih sibuk lagi."
Airlangga sudah tidak mengacuhkan apa pun.
"Hey, berapa kau jual ikanmu? Dari tadi kau diam saja. Bagaimana bisa laku daganganmu?" tegur wanita itu, mendadak, membuat Airlangga terperangah lagi.
"Ini. Ambil saja. Ini sisa daganganku."
Anggap saja ucapan terima kasihku atas ceritamu.
"Oh, terima kasih. Aku tak pernah melihatmu berjualan di sini," ujarnya lagi sambil mengambil ikatan ikan dari tangan Airlangga.
Lelaki setampan ini, pasti tidak akan terlewat dari mataku jika dia pernah datang berjualan, si wanita berusaha mengingat-ingat. Hhmm ... dia memang berantakan, seperti kurang terawat, tapi dia tampan. Dia hanya butuh wanita untuk merawat dan melayaninya saja.
"Uum ... aku orang baru. Bermaksud mencari kerja."
"Datang saja ke rumah Meneer van Loen. Mungkin dia butuh pekerja tambahan karena akan berpesta. Kulihat kau cukup kuat untuk bekerja."
Kalau kau bekerja di sana, kita akan sering bertemu, lalu.... Harapan wanita itu langsung melambung tinggi.
"Baik. Terima kasih." Airlangga dengan wajah kaku sdatar papan undur diri segera berpamit pergi. Dia meninggalkan wanita itu terperangah, masih terkesima dengan ketampanan dan kepergiannya yang mendadak. Ikatan ikan dari Airlangga masih dia genggam. Dia terus menatap punggung Airlangga sampai sosok itu benar-benar hilang dari pandangannya. Bibirnya menyunggingkan senyum takjub.
Airlangga berusaha melebur lagi dengan pengunjung. Berusaha tidak mencolok menarik perhatian dengan gemuruh dan gelisah di hati yang sangat mungkin tergambar di wajah. Dengan cara itu dia berusaha menepi keluar batas pasar lalu menyelinap pergi secepatnya. Kembali, dia mempercepat langkah, ingin segera menjauh dari keramaian. Dia butuh ruang dan waktu untuk menata hati. Saat ini yang bisa dia lakukan hanya menekan perasaannya sekuat yang dia bisa.
Ketika melewati rumah Ells, luka hatinya langsung menganga lebar. Sekuat apa pun dia menekan perasaan itu, membayangkan Ells bersanding dengan lelaki lain tentu menghancurkan hati. Dia ingin berteriak memanggil Ells tapi tentu tidak mungkin. Jika tadi dia berjalan lambat, kali ini dia lebih mempercepat langkah. Dia ingin berlari, tapi berlari pasti akan menarik perhatian.
Walau berusaha untuk kuat, tapi berita itu tetap merusak hatinya mengacaukan dunianya. Sedih, sakit, sesak. Dia ingin mati saja. Melewati area rumah Ells, dia semakin mempercepat langkah.
Ketika kakinya memasuki wilayah hutan, Airlangga berlari. Berlari terus dan terus berlari. Menerobos perdu, semak, belukar, onak, duri, tidak mengacuhkan jejak yang sangat jelas tercetak dengan gerakan sekasar itu. Dia semakin tidak peduli lagi. Tidak ada lagi yang berharga yang harus dia pertahankan meski itu adalah satu-satunya nyawa yang dia punya.
Berlari dan terus berlari hingga habis tenaganya, sesak napasnya.
***
BersambungI
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romansa[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
