PESTA telah usai, menyisakan kekacauan yang luar biasa di halaman rumah itu. Meja dan kursi bertebaran tidak teratur. Isinya pun berhamburan tidak teratur. Bunga-bunga lepas dari wadahnya. Berjumput-jumput rumput terangkat dari tanah. Sampah jangan ditanya.
Tamu telah kembali ke rumah masing-masing. Membiarkan pengurus rumah kelimpungan mengurus sisa pesta. Karena apa pun yang sekarang terjadi, besok pagi semua harus terlihat normal seperti tidak pernah ada pesta semalam.
Setelah mengantar tamu terakhir—William dan anaknya—meninggalkan rumah, Van Loen melangkah gontai memasuki rumah. Tubuh tua dan tulang rentanya tak sanggup lagi untuk mengawasi urusan kebersihan. Biarlah. Esok pagi semua pasti sudah kembali bersih. Jika tidak? Itu tidak akan terjadi. Karena kepala rumah tangganya sudah tahu apa yang harus dia lakukan jika ingin tetap bekerja di sana.
Ells, sang gadis yang berulang tahun, walau lelah, tapi masih ada sedikit sisa tenaga untuk bersenandung. Senandung riang dengan tubuh lincah mengikuti nada.
Ayahnya tersenyum bahagia. Dia bersedia melakukan apa pun untuk melihat putrinya berbahagia Apa pun.
"Selamat malam, Ells. Mimpi indah." Papanya mengecup pipi Ells sebelum menutup pintu peraduannya.
"Malam, Papa. Mimpi indah, mimpikan aku." Jawaban yang membuat van Loen tersenyum.
***
Sambil terus bersenandung, Ells memasuki kamarnya. Suara ceklik pintu menghentikan tapa Airlangga. Semua unsur di tubuhnya bersedia. Mengantisipasi segala kemungkinan.
Ells terus bersenandung, dia berputar-putar menari di tengah kamar sambil memainkan gaunnya. Berdiri di kaca besar setinggi tubuhnya, usia sembilan belas seperti menjadi puncak kecantikannya. Dan apa tadi ucapan ayahnya? Mencari pendamping? Kekasih? Suami?
Mengingat itu, tubuhnya melunglai. Bergerak beberapa langkah, dia menjatuhkan bokongnya ke ranjang. Memang sudah waktunya dia mencari pasangan, tapi jika itu berarti meninggalkan rumah ini, meninggalkan ayahnya, itu terasa sangat berat. Siapa yang menemani ayahnya? Andai ayahnya mau menikah lagi tentu dia lebih tenang meninggalkan rumah.
Namun, apa wanita pilihan ayahnya bisa mengerti dirinya? Wanita sebangsanya sangat mungkin akan menguasai segalanya, sangat berpotensi menjadi seperti ibu tiri Cinderella. Sementara mengambil wanita lokal bisa berarti ... yah, dia hanya kasta rendah. Kelas ketiga yang berarti kelas terendah. Menjadikan wanita itu hanya sedikit lebih berharga dari pelayan di rumahnya. Sedikit lebih berharga karena dinikahi papanya. Tidak lebih.
Ells menarik napas, mendadak tubuhnya terasa sangat lelah.
Dan siapa yang akan menjadi pendampingnya? Ayahnya seorang petinggi di sini. Cukup sebuah kode, rekan dan teman akan menyodorkan anaknya untuk bersiap melamar Ells. Tentu tak sulit baginya memilih salah satu di antara yang akan ditawarkan ayahnya. Namun siapa yang harus dia pilih? Sementara hatinya tidak bergetar sama sekali. Termasuk pada Robert yang jelas sejak awal berharap lebih. Ayahnya pasti akan sangat senang jika dia memilih Robert. Oh, kedua ayah itu. Namun, sungguh, sepanjang malam ini, tidak ada getar terasa untuk Robert atau untuk lelaki lain.
Dia berusaha mengingat-ingat pemuda lain di pesta tadi. Semuanya terasa hambar. Mereka memang memuji kecantikannya, tapi bukan itu yang Ells mau. Dia mau lelaki yang ... yang ...
Ah! Sudahlah.
Besok saja dia pikirkan soal itu. Sekarang sudah terlalu malam, masih ada hari esok untuk berpikir. Memutuskan seperti itu, Ells mengembuskan napas lalu bersiap tidur. Namun tentu dia harus membersihkan tubuh terlebih dahulu. Tidak mungkin tidur dengan pakaian pesta dan pernak-perniknya seperti ini. Meski lelah, dia berjalan ke arah meja rias. Pesta telah usai, saatnya melepas gaun indahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romansa[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
