HASRATNYA terbangun lebih dulu daripada tubuhnya. Gairahnya membangunkannya dari lelap kelelahannya. Ells terbangun menyadari ada yang berusaha menerobos pertahanan intinya. Bergerak tak sabar di pintu masuk.
"Selamat pagi..." Airlangga terus bergerak, tangannya bermain-main menikmati gadisnya.
"Ini masih terlalu pagi, Angga." Walaupun tidurnya terganggu, dia tetap bergerak mengimbangi gerakan Airlangga. Dia langsung sadar diri, tak perlu waktu untuk menggeliat karena geliat lain sudah terbangun utuh.
Begitulah mereka menyambut hari. Meski semalam lelapnya diantar gelisah, pagi yang datang membawa semangat baru. Tubuhnya berkuasa atas pikirannya. Mengabaikan semua gelisah, dia menikmati hidup apa adanya. Menikmati apa yang masih bisa dia nikmati.
Pagi belum lagi sempurna. Gelisah di hati menepi. Penat tubuh tak dirasa. Di hutan, bekas hujan semalam masih menyisakan rinai. Dan mereka berdua basah, bermandi peluh bukan karena bocor atap rumbia.
Keduanya tersaruk. Terengah mengatur napas. Mereka telah sampai di ujung perjalanan. Menyisakan tremor sisa berpesta. Suara burung begitu meriah. Nyaris tidak ada kepakan sayap marah pergi meninggalkan sangkar. Mungkin burung-burung itu sudah mulai terbiasa dengan kehadiran makhluk lain di pohon itu. Makhluk yang sering bersuara aneh menakuti dan mengganggu ketenangan mereka. Ternyata mereka tidak mengganggu, membuat burung-burung itu menerima burung lain tinggal di sana.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Airlangga menarik diri, hanya mampu membuatnya telentang, tak mampu menarik tubuh Ells agar menindih tubuhnya. Sesuatu yang selalu dia lakukan jika mereka selesai bercinta. Sesuatu yang dia suka. Dia masih terus terengah.
"Tuhan ... tolong ... Kami benar-benar seperti binatang," keluh Ells di antara napas terengahnya. Jarang berkain, selalu bergumul, berteriak menakuti penghuni hutan yang lain.
"Binatang tidak bercinta, Ells. Mereka bersetubuh. Kawin." Napasnya masih sedikit memburu.
"Apa pun..."
"Dan mereka bersetubuh hanya pada saat-saat tertentu. Kita? Setiap saat."
"Jadi, kita lebih buruk daripada binatang?"
"Kali ini, kuakui, ya. Kita lebih parah daripada mereka."
"Tapi bercinta nikmat sekali, Angga..." Ells merengek dan mengeluh. Tak rela disebut lebih buruk daripada binatang, tapi tak mau kehilangan kenikmatan.
"Aku tahu. Tapi itulah yang membedakan manusia dan binatang. Kita diberi nafsu dan akal. Binatang hanya nafsu."
"Baiklah ... kali ini aku menyerah. Aku lebih buruk daripada beruk. Tapi hanya sampai akalku mampu mengendalikan nafsuku."
"Dan kapan itu terjadi?"
"Aahhh..." merengek... "aku tak tahu Angga.... Kau membuatku seperti ini."
"Kita senasib, Sayang." Airlangga terkekeh santai. Semua sel tubuhnya relaks.
"Angga, aku perlu mandi. Tubuhku lengket sekali."
"Baiklah, kita akan mandi di sendang." Tapi dia tidak bergerak sedikit pun dari posisi rebahnya. Dia sudah seperti batang kayu.
Mendengar kata mandi dan sendang, Ells kembali terseret arus. Mendadak dia menarik diri, dan menatap tajam wajah Airlangga. Wajahnya tegang seperti hewan bersiap menerkam buruan.
"Ada apa, Ells? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau masih mau? Baiklah..." Airlangga menyeringai, mengejak, meremehkan.
Sebut suatu angka, dan akan kubuat kau tak mampu menampung semua kenikmatan dariku.
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romance[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
