32, Di Sebuah Gua

20 2 0
                                        

TERTATIH, mereka melangkah satu-satu.

Seringkali, tubuh Ells tidak mampu berdiri menahan beratnya tubuh menggigil penculiknya. Kembali, mereka tersaruk jatuh.

"Pergilah ... tinggalkan ... saja ... aku ..." Tubuhnya basah keringat, licin. Ells sulit menariknya berdiri.

"TIDAK!" Ells menarik paksa tubuh penculinya. Dia memegang pergelangan tangan penculiknya dengan dua tangan lalu menarik sekuat tenaga. Ini seperti menarik sapi yang mogok berjalan.

"Sebentar ... lagi ... gelap ..." Airlangga memang berusaha berdiri. Tapi tubuhnya sungguh tidak bertenaga. Ells lembali terjatuh. Tapi Airlangga tidak sanggup menahan tubuh tawanannya agar tak berdebam di tanah.

"TIDAK!" Masih tersungkur. "Kau harus bertahan."

Terengah, Ells kembali berdiri, Airlangga pun berjuang bertahan melawan bisa ular itu. Memaksa tubuhnya untuk tetap kuat, berdiri bergetar, berjalan berpayah, bergerak tertatih, melangkah satu-satu.

"Bertahanlah, Heyy..." Mendengus terengah, Ells menyemangati mereka berdua.

Ells menjadikan tombak penculiknya sebagai tongkat. Namun dia kewalahan dengan busur yang terselempang di bahunya apalagi tabung panah tapi dia tidak berani meninggalkan senjata-senjata itu. Meski tidak bisa menggunakannya, Ells merasa lebih tenang dengan keberadaan senjata di dekatnya.

Airlangga menyadari, tubuh kecil gadis itu tidak akan sanggup menopang tubuh besarnya. Dia sudah sangat berusaha bertahan berjalan tertatih di atas kakinya sendiri, tapi tubuhnya benar-benar lemah. Tak ada tenaga tersisa. Dia bahkan merasa tubuhnya melayang.

Dalam kabur penglihatannya, dia melihat sebatang pohon. Sebelah tangannya menggapai ke batang itu. Berhasil. Telapaknya menopang di sana. Namun itu tak lama. Tanpa bisa dia cegah, tubuhnya melorot jatuh sepanjang batang pohon. Melihat itu, Ells ikut bersimpuh. Dia pun lelah, napasnya menderu dengan tubuh basah keringat.

"Pergilah..." bisiknya terengah lemah. "Sebelum ... matahari ... hilang ..." Bahkan menegakkan kepalanya pun dia kesulitan. Hutan yang temaram, mata yang berkabut, semua membuat gadis itu hanya berupa bayangan samar yang makin sulit dia lihat. "Tinggalkan ... aku ... di ... sini."

"Tidak, tidak, tidak. Kau harus bertahan." Ells bergegas berdiri dan menarik paksa tangan penculiknya. Keduanya terengah. Dalam kondisi setengah sadar, Airlangga semakin sulit mengontrol tubuhnya. Terasa sangat berat untuk tenaga Ells yang tak terlatih. Tapi gadis itu tetap bertahan. Memaksakan dirinya berjalan meski terhuyung. Jelas kakinya bergetar setiap akan melangkah. Tubuhnya basah keringat, kainnya basah dan makin melorot sampai nyaris setengah dadanya terbuka, dia tidak peduli lagi. Baginya, saat ini yang terpenting mereka berdua sampai di gua secepatnya.

"Bertahanlah... aku mohon," bisiknya dalam isak dan engah.

Suara itu terasa jauh, terdengar mendenging di ujung pendengarannya. Tapi suara itu mampu membuatnya bertahan. Rengkuhan lengan mungil di pinggangnya pun seperti bara di sekam yang meski kecil tapi bisa membuat api menyala.

Airlangga terus memaksakan kakinya melangkah. Setiap langkah yang berarti mengerahkan tenaga dua orang. Oh, dia tidak melangkah. Dia menyeret kakinya.

Ells melingkarkan sebelah tangan si penculik di bahunya sementara sebelah tangannya yang lain melingkar di pinggang pemuda itu. Kepala Airlangga terkulai lemah. Sesekali tersentak menengadah, menahan tarikan sakit yang mendera. Jika serangan seperti itu datang, Ells menghentikan langkah. Membiarkan penculiknya mengatur napas, berjuang melawan sakit yang menyengat.

Lalu mereka kembali melangkah. Titik-titik air hujan mulai terasa. Tapi siapa yang peduli? Toh tubuh mereka memang sudah basah. Tapi tanpa hujan pun sudah sesusah ini berjalan, apalagi jika jalanan licin akibat hujan. Tersengal, Ells menatap langit, berharap awan menunda hujan.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang