17, Hari Kedua

21 3 0
                                        

ELLS menggeliat bangun. Kali ini dia langsung sadar di mana dia berada. Hanya mampu menarik napas panjang, dia sangat merindukan rumahnya. Dan terutama papanya.

Membayangkan bagaimana panik papanya, dia kembali terisak. Duduk memeluk lutut dia menyembunyikan wajah di antara tungkainya dan terisak di sana. Merutuki nasib menjadi tawanan. Tersiksa lahir dan batin. Berdoa semoga penderitaan ini segera berakhir.

Tuhan, bebaskan aku. Kumohon. Aku akan melakukan apa pun sebagai balasannya. Tolong kirimkan aku penyelamat. Jika dia wanita, akan kuangkat sebagai saudara. Jika dia pria, aku bersedia menikah dengannya.

Sambil terisak, Ells kembali berada di negeri dongeng. Dia tetap terisak ketika penculiknya datang membawa makan pagi. Dari bentuknya, sepertinya itu seekor ayam.

"Makanlah." Airlangga meletakkan hasil buruannya. "Air minum ada di wadah itu." Matanya menatap ke wadah yang terbuat dari kulit buah yang sudah dikeruk isinya dan dikeringkan kulitnya.

Tanpa perlawanan berarti, Ells makan. Lahap.

Papa pasti senang jika melihatku makan seperti ini. Tapi ayam ini memang enak sekali. Papa pun pasti akan suka. Kematangannya pas. Lembut di lidah dan sedikit bagian renyah di tepi tanpa ada bagian yang hangus.

Ells makan sendirian. Tidak peduli jika penculiknya belum makan. Dan ayam hutan itu habis dia makan sendiri!

Duduk bersandar kekenyangan, Ells kembali bergelung. Dan dia jatuh tertidur. Ketika terbangun kembali, makan siangnya sudah tersedia.

Ikan bakar.

Dua ekor ikan bakar. Makannya tetap lahap. Meski sisa makan pagi belum membuatnya lapar. Tapi ikan ini memang enak sekali. Mengingat ikan, dia merasa butuh mandi.

Ke mana penculikku? Apa ini waktunya untuk melarikan diri? Ini sudah siang, sudah terang.

Berbegas dia keluar untuk melongok ke bawah. Namun baru saja setengah bagian tubuhnya melewati ambang pintu, kepala penculiknya muncul dari arah bawah.

"Kau masih berpikir untuk melarikan diri lagi?" ujarnya sinis, tapi dia tterkekeh kurang ajar ketika melihat ikan tersisa tulangnya saja.

"Aku butuh mandi!"

Walau bekas kotoran ayam sudah tidak bersisa, tapi Ells merasa tubuhnya masih kotor dan bau. Setiap mengingat itu, dia merasa mual. Jijik membayangkan dirinya berbalur kotoran ayam. Apalagi jika mengingat dia sendiri yang membalurnya.

"Ayo." Dia langsung berdiri di pintu, ada teras sangat kecil di depan pintu, sekadar untuk tempat menapak sebelum turun atau sesudah naik.

Meraih sulur yang menggantung, Airlangga bersiap meluncur. "Ayo."

Ells hanya menatap takut pada sulur itu. Bagaimana mungkin dia turun dengan sulur itu?

"Apakah tidak ada tangga?"

Pertanyaan yang dijawab kekehan kurang ajar penculiknya.

Artinya tidak ada tangga. Huh! Apa susahnya menjawab dengan kalimat yang benar! Dasar inlanders primitif! Tak beadab, tak tahu sopan santun.

"Kemarilah." Airlangga menarik sulur itu sampai ke ujungnya, lalu membentuk simpul di ujung itu. Sekarang di ujung sulur terdapat lingkaran.

"Injaklah lingkaran ini. Dan pegang sulur ini. Aku akan menurunkanmu."

Dengan ragu Ells melangkah keluar rumah.

"Atau kau ingin kuikat seperti bagaimana kau sampai di atas sini?"

Bergegas, Ells melakukan apa yang diperintahkan penculiknya. Ia tidak mau diikat seperti kemarin, bekas ikatan itu membuat perutnya memar.

Perlahan, Airlangga menurunkan Ells. Lalu ketika Ells sudah menjejak tanah, Airlangga menarik kembali sulur itu, dan dia meluncur indah sampai ke bawah.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang