SIANG sedang sangat terik di puncaknya ketika Udayana mendengar kabar itu. Dia baru pulang dari rumah kerabatnya di desa yang agak jauh. Ketika dia melewati kota dia mendengar berita yang membuat tubuhnya mengejang.
Nona Daniella anak Meneer van Loen sudah kembali.
Sepanjang jalan berkali-kali dia mendengar penduduk membicarakan itu. Jantungnya berderap kencang sekali. Dia sampai harus memaksa kakinya agar tidak melewati rumah pejabat tinggi Hindia Belanda itu. Dan pejabat-pejabat lain. Biar bagaimana pun, dia menghindari bertemu Robert yang sangat mungkin mengenali dirinya. Di bawah sebatang pohon angsana, dia menatap rumah itu dari kejauhan sambil berteduh.
Benarkah putri pembesar itu sudah pulang? Apa dia sendiri saja? Apa Airlangga ada di rumah itu? Apa yang terjadi pada mereka? Gadis itu mungkin baik-baik saja, tapi bagaimana dengan Airlangga? Dia tidak peduli kabar gadis itu, dia hanya perlu tahu kabar karibnya saja.
Dia terus bertanya-tanya dalam hati sambil matanya serius menatap ke arah rumah itu. Sampai beberapa orang pejalan kaki menghampiri tempatnya berteduh dan meminta izin untuk berbagi tempat, Udayana berusaha merapikan wajahnya. Dia duduk meluruskan kaki sambil memalingkan tatapan dari rumah Ells.
"Kulihat dari kejauhan kau sangat serius memperhatikan rumah itu." Salah satu dari mereka bertanya pada Udayana. Membuat Udayana tergagap berusaha mencari alasan.
"Ah, tidak. Rumah itu besar sekali, tetapi terlihat kosong." Dia berhasil menjawab.
"Ah, iya. Rumah itu memang besar tapi nyaris tidak berpenghuni kecuali para pelayan."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Udayana cepat.
"Hanya dua orang yang tinggal di sana. Kemarin anak gadisnya diculik, tapi sekarang sudah kembali."
Jantung Udayana makin berdegub.
"Bagaimana cara dia kembali? Apa penculiknya tertangkap?" Dia berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar.
"Setahuku, anak gadis itu pulang sendiri. Mungkin si penculik melepasnya."
"Lalu?"
Mereka semua mengedikkan bahu.
"Entahlah. Yang saya tahu Nona itu tidak pernah keluar rumah sejak dia kembali."
"Dari mana kalian tahu Nona itu sudah kembali?"
"Tentu saja dari berita di pasar. Meski sudah sepekan berlalu tapi berita itu masih menjadi bahan pembicaraan yang hangat. Semua berpikir Nona Ells tidak akan kembali lagi. Mungkin dia sudah mati bersama penculiknya."
"Sekarang bagaimana kabar penculiknya?"
Orang itu lagi-lagi mengedikkan bahu. "Tidak tahu. Mungkin sudah mati sampai Nona Ells bisa melarikan diri."
Udayana sampai memejamkan matanya rapat membayangkan sahabatnya mati. Sampai akhirnya dia berhasil menenangkan diri, dia berpamit pergi pada mereka yang tetap nyaman berteduh di sana.
Dia berjalan lebih cepat. Memasuki jalan desa, dia berlari. Terengah dia berhenti di rumah Tirta.
"Paman..." Ternengah, dia mengatur napas. "Airlangga...."
Mendengar itu, tubuh Tirta langsung menegang.
"Ada apa? Ada apa dengan Airlangga?" Dia melempar isi tangannya untuk mengguncang bahu Udayana.
"Gadis itu sudah kembali. Tapi tanpa Airlangga."
"Lalu?" Tirta makin panik.
"Aku tidak tahu, Paman. Aku takut Airlangga sudah tidak ada."
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romance[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
