CTARRR...
.
Tersentak ke depan, Airlangga merasakan cemeti mengoyak punggungnya.
Perih. Dia berusaha menahan agar wajahnya tidak berkeryit. Namun sengatan cemeti itu memang menyakitinya. Dia mengalirkan sakit dengan mengeraskan bahu. Bersiap untuk sengatan yang lain meski sengatan yang pertama masih terasa sangat sakit.
Perih.
Kakeknya memang mendidiknya dengan keras. Dan alam menempanya agar tangguh. Tapi raganya tidak pernah merasakan perih seperti ini. Alam memang beberapa kali melukainya. Tapi rasanya sungguh beda. Ternyata, raga manusia yang terisi roh jahat memang lebih kejam daripada alam.
Airlangga memejamkan mata, menulikan telinga. Dia hanya menajamkan rasanya saja.
Ells, aku datang, Sayang. Temui aku di sini. Secepatnya. Aku begitu dekat sekarang. Temu aku sekarang, Sayang. Aku takut aku tidak bisa bertahan lama.
Dia diam ketika tubuhnya ditarik paksa agar berdiri. Dia diam ketika ada dua orang merentangkan tangannya lalu mengikat tangan itu, membuat tangannya terikat terbelenggu. Sekarang dia berdiri bergelayut dengan tangan terentang. Kepalanya tegak dan berdiri kokoh di atas kakinya.
.
CTARRR...
.
Sengatan itu membuatnya limbung. Kakinya goyah tapi dia bisa cepat kembali tegak. Suara ringkik kuda yang ketakutan terdengar resah. Meringkik tak senang.
Tutup telingamu, Teman. Dan kau akan baik-baik saja. Apa kau pernah melihat nonamu? Nyonyamu? Dia istriku. Sehatkah dia?
.
CTARRR...
.
Sengatan itu membuat Airlangga berhenti berbisik menahan sakit. Dia mengeratkan rahang mengerang tertahan demi tidak mengeluarkan suara kesakitan. Kuda-kuda semakin gelisah, meringkik ribut dan bergerak kasar.
Robert seperti kesetanan. Tubuhnya bermandi keringat. Wajahnya merona marah.
Dalam kerling singkat, Airlangga mencibir.
Kau tidak akan dapat menuntaskan dendammu. Selama Ells mencintaiku, selama itu pula kau kecewa. Apa yang kau rasa jika kau mencumbu Ells tapi dia mendesahkan namaku dengan semua cintanya untukku? Apa kau akan menyakiti Ells seperti ini? Percayalah, aku akan semakin menghantuimu.
Kesumatmu tak akan tergenapkan. Anakku akan lebih menyiksamu. Dan Ells akan membuatmu semakin merana. Aku tidak akan meninggalkan anak dan istriku. Tidak akan pernah.
***
Matahari sudah sepenggalah ketika Ells tersentak terbangun. Namun dia tidak dapat menghentikan gelisahnya. Bahkan mungkin gelisah itu yang membangunkannya. Dia mendengar sedikit keributan di luar. Dan ketika dia menjulurkan kepalanya ke luar, dia melihat beberapa orang anak buah van Loen bergerak ke arah belakang rumahnya.
Sepertinya ada pencuri tertangkap.
"Nona, makanlah."
Suara Bi Imah mengganggu konsentrasinya. Dia tidak bisa melihat rombongan yang berlalu cepat tepat di depan jendela kamar. Berusaha melongok lebih jauh, tapi dia hanya melihat punggung Robert di sana berjalan paling belakang. Pencurinya sendiri tertutupi tubuh anak buah van Loen.
"Sudah siang, Non. Tadi pagi Nona makan sangat sedikit."
Lagi-lagi Bi Imah mengganggunya. Pelayan setia itu sudah sibuk menyendok sambil berjalan dan memegang piring, bersiap menyuapi Ells.
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romansa[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
