ROBERT berjalan mondar-mandir di depan istal. Dia menunggu Topan. Dia sudah memastikan Topan akan mendatanginya terlebih dulu sebelum menemui van Loen.
Apa baiknya aku menyusul Topan ke hutan? Tapi ah, aku malas ke sana. Tapi menunggu di sini terlalu lama. Ck.
Robert terus menggerutu sampai akhirnya orang yang dia tunggu datang. Sesungguhnya Topan sangat jengkel dengan ulah tuan muda ini. Dia tahu untuk apa Robert memanggilnya. Hanya untuk bertanya perkembangan pencarian Ells saja untuk dia laporkan pada van Loen. Sudahlah hanya melaporkan saja, malas pula ke hutan menyusul tim, malah menyuruh orang memanggil Topan untuk laporan. Adakah yang lebih menjengkelkan lagi dari orang seperti ini? Penjilat, pemalas pula. Dan bodoh. Ditambah berotak mesum. Jika dia lahir tanpa status orangtuanya, dia hanya akan menjadi sampah peradaban.
"Ada berita apa? Apa ada perkembangan baru? Kenapa kalian sampai mencari sejauh itu?" cecarnya tanpa memberi jeda untuk Topan menarik napas.
"Seperti yang kemarin sudah saya katakan, jejaknya semakin samar. Semakin sulit dibaca." Meski jengkel, Topan tetap menjawab.
"Kenapa sampai ke sisi itu?"
"Lalu di sisi mana? Kami sudah mencari di wilayah tempat mereka masuk hutan. Tidak ada tanda apa pun. Jejak mereka tiba-tiba menghilang. Kami mencoba memperluas wilayah pencarian."
"Apa yang kalian dapat di wilayah baru?"
"Tidak ada. Belum ada." Topan segera meralat ucapannya sendiri. "Sudah kukatakan berkali-kali, semakin lama jejak mereka semakin samar. Sudah sangat sulit terbaca apalagi setelah Tuan mengirim terlalu banyak orang mencari. Mereka tidak mencari. Mereka malah mengacak-acak hutan bahkan merusak jejak lalu menghilangkannya."
Robert ingin memaki, tapi jika makian itu tertuju untuk dirinya, lebih baik dia diam. Di tengah hari seperti ini, terik matahari seakan menjadi bahan bakar emosinya. Dia lebih mudah tersulut.
"Hari ini di mana kau mencari?"
"Masih di tempat kemarin."
"Apa ada kemungkinan kalian menemukan jejak?"
"Saya tidak tahu, Tuan."
"Kalau begitu kenapa tetap dilakukan?" Jengkel. Kesal.
"Hanya itu yang bisa kami lakukan."
Mencari di hutan tentu lebih berguna daripada hanya bertanya-tanya seperti ini. Huh!
Topan selalu saja kesal dengan ulah tuan muda ini.
"Kenapa tidak mencari di sisi yang lain?"
"Nanti kami akan ke sana. Ke semua sisi. Kami akan terus mencari sampai Tuan van Loen menghentikan upaya pencarian."
"AAARRRGGGHHH...!!!" Robert berteriak dan menendang angin. Membuat debu-debu halus beterbangan mengenai wajah Topan. Membuat Topan makin jengkel. "Sudah. Pergilah kembali mencari. Langsung kabari aku kalau kau menemukan berita apa pun. Aku harus menjadi orang pertama yang mendapat kabar apa pun tentang Ells. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan."
Topan langsung berbalik pergi. Meninggalkan Robert yang makin jengkel. Tapi di bibirnya membentuk senyum miring ketika teringat perempuan cantik yang lain. Dengan kepala berisi bayangan perempuan cantik, dia bisa berjalan lebih santai menuju rumah van Loen. Dia langsung masuk tanpa permisi.
"Buatkan minuman," perintahnya pada salah seorang pelayan yang sedang membersihkan rumah. Pelayan itu langsung ke dapur tanpa menjawab satu kata pun sementara Robert berjalan ke ruang kerja van Loen. Pemilik rumah tidak ada. Robert memutuskan menunggu di sana. Dengan jendela terbuka lebar yang mengirim masuk semilir angin, dia menatap ke arah hutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romans[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
