18, Tidak Terlacak

24 3 0
                                        

Tidak Terlacak

VAN Loen bergerak gelisah di ruang kerja. Berjalan mondar-mandir antara jendela, pintu, dan meja kerja, dia sangat gusar dan tentu panik. Juga marah. Semua bercampur membuat tekanan darahnya meningkat berakibat kepala berdenyut dan tengkuk kaku.

Ini malam ketiga Ells diculik. Semua sudah dia kerahkan untuk mencari Ells.

Orang desa pun dia kerahkan. Tapi mereka sangat tidak membantu.

Mereka melindungi penculik itu!

Orang suruhannya hanya berhasil mengumpulkan sobekan kain yang dia yakini berasal dari gaun putrinya. Berarti Ells benar melewati wilayah hutan itu. Hanya itu saja kesimpulan yang mereka dapat setelah tiga hari bekerja.

Hah! Itu nyaris tak berguna.

Ells, di mana kau, Sayang? Apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja di sana, Nak? Cepatlah pulang, Ells. Beri Papa petunjuk lain selain carik-carik itu.

Topan hanya berdiri mematung sambil memegang carik terakhir yang dia temukan. Baru saja ditemukan, dalam wilayah yang sama.

Anak itu cerdas. Dia kenal hutan itu seperti dia kenal punggung tangannya. Dan dia tahu cara menghilangkan jejak. Dia berputar di suatu wilayah yang cukup luas, membiarkan Nona Ells menyebar jejaknya. Lalu jejak itu menghilang di aliran sungai.

Dia melihat di mana mereka masuk ke sungai. Terlihat jelas dari bekas tanaman dan jejak kaki yang membekas di tanah dasar sungai kecil yang dangkal.

Dia sengaja melakukannya!

Di titik itu, jejaknya menghilang ditelan lebatnya hutan.

Dia sudah mengerahkan sejumlah anjing. Tapi tidak ada yang berhasil membaui dua manusia itu.

Majikannya sudah menyebar orang-orangnya, memeriksa kedua sisi sungai, mereka juga memeriksa ke hulu dan ke hilir.

Nihil.

Orang-orang itu hanya merusak jejak yang mungkin ditinggalkan si penculik.

Penculik itu sempat mengecoh dengan memberikan sedikit petunjuk di sisi sungai, sebuah ranting patah dan semak bekas terinjak, agak ke hulu. Tapi, ketika Topan berhasil menelusurinya, jejak itu kembali ke titik yang sama. Titik di mana mereka menemukan jejak penculik pertama kali.

Dia menemukan sisi berbatu di hilir sungai. Mengira si penculik akan naik ke darat di situ. Dia coba telusuri, nihil. Sampai jauh masuk ke hutan, dia tidak menemukan jejak lain.

Anak ini selicin belut. Dan hutan menyembunyikannya dengan sangat baik.

Melihat kekacauan yang sudah dilakukan orang-orang yang dikerahkan majikannya, Topan semakin pesimis bisa menemukan jejak baru. Mungkin kerusakan ini pun sudah diprediksi si penculik.

Ini yang membuat Topan jengkel pada majikannya. Dia berpikir, semakin banyak orang yang mencari, akan semakin cepat pula putrinya ditemukan.

Dasar bodoh!

Dia tidak tahu kehidupan di hutan berbeda dengan kehidupan di kota. Bahkan di ladang dan rumahnya.

"Apa tidak ada kabar baru?" Suara van Loen membuyarkan lamunan Topan.

"Tidak ada, Meneer. Saya sudah menelusuri sepanjang dua sisi sungai, dari hulu ke hilir."

"Tidak bisakah pencarian dilakukan selain dari sungai itu?"

"Kita sudah coba mengikuti jejak yang Nona Daniella tinggalkan, hanya berputar di wilayah yang sama. Kembali ke titik awal."

Van Loen semakin putus asa. Topan sudah pernah menjelaskan urusan itu.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang