Seperti biasa hari senin merupakan hari tersial bagiku kamar seketika berubah menjadi kapal pecah. mencari kaus kaki dan dasi yang tiba tiba hilang entah kemana. Aku berlari menuruni anak tangga dengan sangat terburu buru dengan tangan yang sibuk merapikan dasi, aku segera berlari menuju meja makan, sekedar untuk mengambil sandwich dan meminum segelas susu dengan sangat terburu-buru.
Hari ini jalanan Bandung cukup padat sehingga membuat aku terjebak dalam kemacetan jalanan Bandung. Aku mendengus kesal segera aku turun dari mobil ayahku kudapati seorang pria yang sedang mengendarai motor sport, ya dia Roya, nama panjangnya Roya Dailis Azwir. Sudah lama aku menyukainya mungkin sejak SMP kelas 1 sampai sekarang SMA kelas 1 aku segera berteriak memanggil manggil namanya hingga suatu saat ia menghentikan motornya. Dilihatnya aku yang sedang berlari ke arahnya ia segera melepas helmnya.
"Ada apa sa?". Tanyanya dengan sedikit kebingungan.
"Gue ikut ke sekolah sama lo yah? Kalo bareng sama bokap. Bisa telat".
"Hmm... Ya udah ayo naik".
Sungguh senangnya bukan main. jantungku berdegup kencang, darahku berdesir deras. Hatiku mulai tidak karuan. Setelah aku menaiki motornya ia melihat ke arahku lewat kaca spionnya.
"Udah?". Tanyanya dengan suara khasnya
"Emm udah". Jawabku dengan polos
"Ya udah turun hahaha".
Ia tertawa. Reflek aku langsung menoyor kepalanya yang dibalut helm itu.
Ia melajukan motornya dengan kecepatan penuh sehingga kejadian ini harus membuatku memeluknya erat dari belakang. Ini kejadian yang tak akan pernah aku lupakan. Lagi lagi jantungku berpacu tak karuan, rasanya seperti dalam mimpi bisa berduaan dengannya.
Kini baru kusadari. Kupikir ia benar benar mencintaiku tapi ternyata tebakanku salah. Roya tidak mencintaiku. Aku salah mengartikan maksud di dalam hatinya. Untuk apa aku menunggu selama 3 tahun lebih jika dia sendiri tidak mempunyai rasa yang sama. Padahal aku sangat berharap padanya, berharap ia mempunyai rasa yang sama. Jadi untuk apa dia memberi harapan jika tidak menyukaiku? Disitu awal mula aku merasa sangat terpukul. Terpukul karena telah terjebak dalam cinta yang salah.
Roya adalah Cinta Pertamaku. Aku sangat menyukainya. Dan dia pun tahu jika aku mencintainya namun, kenapa dia tidak membalas cintaku? Sejak hari itu, aku sudah mulai terbiasa tidak mendapat kabar darinya. Hatiku serasa rapuh mendengar namanya saja air mata ini selalu menetesi pipiku. Dan sampai saat ini aku masih mencintainya, walau dia sendiri tidak mencintaiku. Dan akhirnya dia bahagia dengan seorang wanita yang lebih feminim dariku. Sedangkan aku? Aku masih menunggunya kembali pulang ke dalam hatiku.
Maaf cuman pendek ceritanya hehehe'
jangan lupa vote dan komen
TYPO dimana"
