Kenapa Harus Kamu? (Part 2)

2 2 0
                                        

Kami pun sama-sama memacu kendaraan kami masing-masing. Aku yang merasa agak canggung, entah kenapa kami jadi membisu kembali. Aku pun memulai pembicaraan dikala itu, dengan kendaraan bergandengan.
"maaf ya ki, udah ngerepotin!" ujar ku sambil sedikit meliriknya.
"iya, nggak apa-apa kok zi, nggak perlu minta maaf gitulah.." ujar kiki meyakinkan.
"hmm, iya deh ki," jawab ku lagi,
Suasana kembali membeku, meskipun kendaraan kami berjalan pelan dan bergandengan, aku masih sedikit kelu mengatakan terima kasih. Namun aku harus mengatakannya, karena dia terlalu baik padaku. Aku pun memanggilnya. "kikii.." panggilku.
Ia pun menoleh ke arah ku.. hingga kami beradu mata, untung saja tak banyak kendaraan pada saat itu dan untung saja kami nggak nabrak, hahaha, beberapa saat hingga aku segera sadar, lalu aku spontan berterima kasih kepadanya, dengan sedikit perasaan aneh yang menggelayuti hatiku saat itu.
"makasih ya ki.. udah mau bantuin aku" ujarku sedikit kikuk. Ia pun tersenyum manis, sembari menjawab. "iya.. sama-sama zi.. biasa aja lah, itu kan juga udah kerjaan cowok kok zi.."
Kami berdua pun kembali mengalihkan pandangan masing-masing. Namun begitu banyak percakapan yang terjadi sepanjang perjalanan pulang waktu itu.

Hari itu begitu menyenangkan. Hingga aku tiba di rumah semuanya masih terbayang dengan jelas. Sebenarnya dulu, aku dan kiki begitu dekat, namun sayang, aku baru berani menyatakan saat telah lulus dari SMP, karena aku sudah tidak lagi menjalin hubungan dengan vino. Namun aku begitu kecewa menerima respon yang begitu dingin dari kiki, memang aku yang salah dari awal, namun karena itu semua, membuat kami menjadi saling menjauh. Sejak saat itu, aku mulai trauma dengan yang namanya pacaran atau laki-laki, entah kenapa aku hanya tidak menganggap laki-laki yang mendekatiku dengan serius, aku hanya sering PHP, bukannya sok cantik atau pun apa, memang sudah lumayan banyak tipe cowok yang kujumpai, mulai dari yang kalem, hingga buaya sekalipun. Namun aku tak tau kenapa, tak lagi tertarik dengan yang namanya pacaran.

Sejak saat itu, semua aku usahakan untuk kembali menanggapi semuanya seperti biasa, memang dari pertama kali aku memasuki SMA 15 cempaka putih ini, aku dikenal cukup cuek, karena gaya ku yang tak ambil pusing dengan style siapapun, namun menurutku itu wajar. Karena kita tak punya hak untuk memberikan penilaian yang bisa mematikan jati diri seseorang. Namun itu semua karena mereka belum dekat denganku. Aku yang lumayan friendly hanya sedikit cuek ketika aku benar-benar tak ingin terlibat dengan suatu hal yang ribet, dan ruwet saja. Apalagi masalah asmara. Menurutku.. untuk sekarang lebih baik memang untuk menyandang gelar jomblo akut, atau pun single kalau bahasa kerennya, dari pada anak bau kencur seumuran ku ini membahas masalah percintaan atau asmara.

Kali pertama aku putus dari vino memang sedikit membuatku galau, namun itu karena sifatku yang terlalu sensitif, semua permasalahan selalu mampir di hatiku, mungkin itu yang juga yang membuatku sering harus menahan migrain yang kerap kali menghampiri kepalaku. eits, namun sakit kepalaku ini murni karena aku orangnya terlalu khawatiran, dan yang pasti bukan karena masalah cowok seorang

Aku pun bercerita kepada vivi, bisa dibilang dia seperti adikku, namun dia adalah pendengar yang baik dan menyenangkan. dan dia begitu pandai menghibur hati seseorang dengan banyolan-banyolannya yang selalu spontan keluar dari nya. Dan aku rasa kami berdua memang sedikit gila, pasalnya menyanyi malam-malam di kamar bagaikan sedang rekaman di dapur rekaman saja, hahaha, bisa aja, padahal emang udah stress dua-duanya.

"yaelaahhh, foto dia ada disini, cie, cie, hayo ketahuan deh..." ujar vivi ketika melihat galery ku.
"hah..? foto siapa?.." sahutku bingung namun masih sibuk dengan laptopku.
"jiah, kamu kak, belagak pikun lagi.. yah siapa lagi atuh, kalo bukan aa' kiki yang tersayang.. hahaha" ujarnya sambil tertawa lepas dan masih sibuk dengan galery smartphoneku.
"ih kamu apaan sih vi, sembarangan kalo ngomong" ujar ku masih tak melihat layar hp ku.
"yeeehhh, nggak percaya dibilangin, nih liat sendiri!" ujar vivi sembari meyodorkan smartphoneku.
"perasaan kakak, kakak nggak pernah nyimpan fotonya!" sambil mengambil hp yang disodorkannya.
Aku pun langsung ternganga begitu melihat fotonya ada di layar handphoneku. Aku baru teringat, ternyata ia pernah meminta dirinya untuk difoto menggunakan handphoneku. Dan saat itu aku juga heran mengapa begitu tiba-tiba ia memintaku untuk mengabadikan dirinya di kamera handphoneku. Itu adalah beberapa hari lalu saat kami menonton lomba dance waktu itu.
"dek, tau nggak?! Kemaren itu kakak sebenernya senang banget vi, karena waktu lomba dance itu bisa dibilang seharian ngabisin waktu bareng dia..!" ujar ku dengan begitu semangat.
"cie ileh, semangat banget ceritanya neng, hahaha" ledek vivi kepadaku.
"iya, awalnya sih kakak nggak segitunya juga sih dek, Cuma waktu yang paling mengesankan itu, pas dia.. rela bantuin kakak dorongin motor sampe bengkel, dan nggak Cuma itu, dia juga nungguin sampe motornya selesai vi! and that's make me surprise vi..!" ujarku begitu excited.
"hahaha.. ternyata ada yang belum move on dari first love nya nih, hihihi"
"ih kamu dek, dari tadi ngeledek melulu,"
"yeh, hahaha malah ngambek dia"
"abis kamu sih dek, mentang-mentang kamu udah punya pacar.. ngeledekin kakak terus.."
"terus..? salah gua, salah temen-temen gua, salah nenek gua, hahahaha.." tawanya lagi makin meledek ku.
"yah elah, penyakit alaynya udah kambuh lagi.. dari pada kamu ngalay nggak jelas dek, mendingan kita lanjut bikin rekaman yuk, hahaha rekaman seadanya.. wkwkkkk.." pintaku lagi sembari meledeknya juga.
"hehehehe, okeh okeh.."
Aku mulai mengecek suara dengan nada gitarnya, dan rekaman ala anak alay pun dimulai, hahahaha, efek samping karena nggak masuk dapur rekaman, wkwkwkk. Kami berdua memang punya rencana untuk membuat rekaman suatu hari nanti.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang