Dia Yang Selalu Ada (Part 3)

4 2 0
                                        

Setelah sampai Shintia mengajaknya untuk mampir dulu dan Raka tidak menolaknya.
"Kamu mau aku buatin minum?"
"Boleh, aku mau jus aja." Ucap Raka.
"Okey." Ucapnya seraya pergi meninggalkan Raka yang sedang asik nonton. Setelah jusnya jadi Shintia membuatkan Raka roti bakar dengan selai coklat kesukaannya dan segera membawa keruang tamu.
"Nih jusnya udah jadi dan aku udah buatin kamu roti bakar dengan selai coklat kesukaan kamu."
"Makasih ya Shin. Sini kamu juga harus makan roti buatanmu." Ucap Raka seraya menyuapi Shintia. Kami berdua sangat menikmati makanan serta acara tv yang disiarkan dan tiba-tiba Raka mengganti ke siaran yang horor.
"Raka kamu rese banget sih, aku takut." Ucap Shintia seraya menutup matanya dengan bantal.
"Sini deket aku." Ucap Raka menyuruh Shintia untuk duduk didekatnya.
"Coba kamu tarik nafas dalam-dalam lalu buang dan rileks. Coba kamu nonton kamu pasti nggak takut lagi dan jangan terlalu dihayati." Ucap Raka kepada Shintia. Tapi karena Shintia memang dasarnya penakut ya ia tetap nggak bisa dan ketika hantunya tiba-tiba muncul dengan sontak ia memeluk tubuh Raka dan nggak mau melihat kemana-mana.
"Please ganti aku takut." Ucap Shintia dalam keadaan masih memeluk Raka. Raka hanya terdiam melihat Shintia yang sedang memeluknya lalu mengganti siaran.
"Udah aku ganti." Ucap Raka dan Shintia langsung melepaskan pelukannya dan ia baru sadar kalo barusan ia memeluk Raka.
"Maaf aku nggak bermaksud." Ucap Shintia terpotong karena jari telunjuknya menempel di bibir Shintia dan Raka tersenyum.

"Shin aku mau pulang dulu yah?"
"Iya." Ucap Shintia seraya mengantar Raka kedepan.
"Dah Shin." Ucap Raka seraya melambaikan tangan.
"Hati-hati ya, dahh." Ucap Shintia seraya melambaikan tangan lalu segera masuk dan mengambil minum tiba-tiba gelas yang ia pegang jatuh dan pecah.
"Ini pertanda apa?" Tanyanya dalam hati.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Hallo, apakah ini temannya yang punya hp?" Tanya suara dari seberang.
"Iya saya temannya, ada apa ya pak? Tanya Shintia heran.
"Begini, teman anda kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit nanti saya kirimkan alamatnya dan satu lagi apakah mbak ini bernama Shintia?" Tanyanya lagi.
"Iya itu saya, kenapa dan bagaimana keadaannya sekarang pak?" Tanya Shintia khawatir.
"Dia masih belum sadarkan diri tapi dia selalu menyebut-nyebut nama kamu."
"Ya udah pak saya akan segera ke sana." Ucap Shintia seraya pergi menuju rumah sakit yang disebut.

Setelah sampai di rumah sakit ia segera menuju ruangan dimana Raka dirawat.
"Raka ini gue Shintia, kamu harus kuat." Ucap Shintia seraya menangis dan orang yang membawa Raka ke rumah sakit izin untuk pulang dan ia berterimakasih karena sudah menolong Raka.
"Raka, kamu dengar akukan? Aku mohon kamu harus sadar aku kangen senyum kamu, canda kamu dan semua yang ada pada diri mu. Raka aku sayang sama kamu." Ucap Shintia ditengah isak tangisnya seraya menggenggam tangan Raka. Tanpa ia sadari Raka terbangun.
"Shin .. ta..di kamu ngomong apa?" Tanya Raka yang membuatnya terkejut.
"kamu udah sadar, terimakasih Ya Allah. Kamu nggak apa-apapkan?" Tanya Shintia mengalihkan pertanyaan Raka.
"Shin tadi kamu ngomong apa?" Tanya Raka mengulangi pertanyaannya.
"Enggak aku nggak ada ngomong apa-apa kok. Udah kamu nggak usah banyak mikir dulu karena kondisi kamu belum pulih."
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Raka melihat mata Shintia yang sembab.
"Enggak, siapa bilang aku nangis." Ucapnya mengalihkan.
"Aku tahu kok kalo kamu abis nangis buktinya mata mu sembab tuh." Ucap Raka yakin seraya tersenyum.
"Iya aku nangis, mau tau kenapa? Ya itu karena aku takut kehilangan kamu karena kamu sahabat terbaik aku." Ucap Shintia yang membuat Raka tersenyum.
"Shin aku lapar?"
"O iya aku lupa kasih kamu makan. Sebentar ya." Ucap Shintia seraya mengambil bubur.
"Kamu mau aku suapin atau mau makan sendiri?"
"Liat aja kondisi aku sekarang masa harus nyuap sendiri."
"O iya hehee ya udah aku suapin aa..aa anak pintar." Ucap Shintia seraya tersenyum karena ia sangat bahagia bisa melihat Raka tersenyum seperti ini meski kondisinya belum pulih. Hari ini Shintia memutuskan untuk merawat Raka sampai sembuh dan akan selalu buat dia nyaman dan bahagia.

Tidak terasa sudah seminggu Raka di rumah sakit dan hari ini dokter sudah perbolehkan dia buat pulang ke rumah dengan syarat nggak boleh bekerja sampai capek. Hari ini Shintia sendirian yang membawa Raka pulang ke rumah karena bokap nyokapnya dia belum kembali dan alasan itu yang mengharuskan Shintia untuk merawatnya hingga sembuh. Mobil yang Shintia kendarai menembus kemacetan lalu lintas dan hanya dalam beberapa menit ia dan Raka akhirnya tiba di rumah Raka.
"Awas hati-hati." Ucap Shintia seraya memapah Raka masuk rumah dan langsung menuju kamarnya karena dia harus banyak istirahat biar cepat sembuh.
Tetapi saat membaringkan Raka ke tempat tidurnya Shintia tidak bisa menahan berat badan Raka yang akhirnya ia terjatuh menindih tubuh Raka. Mata mereka berdua saling beradu dan jatung mereka berdua berdetak lebih cepat secara bersamaan.
Shintia canggung dengan keadaaannya saat ini dan Raka menariknya kedalam pelukannya dalam waktu cukup lama. Shintia akhirnya tersadar dan segera bengun.
"Mau aku buatin jus sama roti bakar kesukaan kamu?" Tawarnya kepada Raka.
"Boleh pas banget aku kangen masakan kamu." Ucapnya seraya tersenyum.
"Okey kamu tunggu di sini dulu ya? Aku mau masak buat kamu dulu." Ucapnya seraya berlalu dari pandangan Raka.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang