Cinta Yang Tertunda (Part 3)

5 1 0
                                        

Hari ini kami akan berangkat liburan Vino menjemputku, kami kumpul di rumah Darko. Kami akan pergi ke villa milik keluarga Jesi. Semua sudah hadir kami lalu berangkat dengan mobil Darko. Aku sedikit lelah hari ini jadi aku tidur di mobil. Setelah tiga jam kami akhirnya samapi di villa Jesi. Udara malam menusuk kulitku aku kedinginan. Lalu berlari masuk ke dalam villa. Aku takut alergi kambuh. Setelah pembagian kamar kami kumpul di ruang tengah Vino menyalakan perapian. Daerah ini memang dingin dan villa Jesi di bangun dengan gaya Eropa dan pemandangan dari villa ini sangat bagus sehingga kami nggak pernah bosan untuk liburan kemari. Aku pakai jaket dan selimut brrrr.. dingin. Jesi dan Cesil membawa minuman hangat dari dapur. Lalu Cesil mendekati Vino depan perapian. Karina duduk tak jauh dariku di dekat Jesi, begitu juga dengan Darko dan Andara.

"Ayo minum biar hangat." ucap Karina. Aku malas bangkit jadi tetap diam di balik selimutku. Andara mendekatiku dan duduk di sisiku.
"Ini minum coklat hangatnya supaya alergi kamu tidak kambuh di sini dingin banget.." ucap Andara sambil menyodorkan secangkir coklat panas.. Aku kaget dan menerimanya lalu meneguknya sedikit tapi.. Andara ingat aku alergi udara dingin? Aku menatap Andara.. Andara pun menatapku.
"Kamu alergi udara dingin?" tanyanya, aku mengangguk.
"Masih selalu dengan mengangguk.." ucapnya.. Apa.. Andara mengingat satu lagi kebiasaanku. Andara pun sepertinya kaget.
"Kenapa aku tahu alergimu dan kebiasaanmu sepertinya itu sangat akrab bagiku.." ucap Andara penasaran.
"Kenapa kalian kok serius amat bicaranya.." ucap Karina.
"nggak ada apa-apa.." ucap Andara lalu duduk agak menjauh dariku. Karina duduk di dekat Vino dan Cesil. Andara mulai mengingatku, aku melirik Andara dia sedang menatap kosong ke arah perapian.. Apa yang dia pikirkan saat ini.. Setelah menjelang tengah malam kami masuk ke kamar masing-masing.

Sabtu pagi semua sudah kumpul di ruang makan untuk sarapan.
"Kita keliling desa yuk, jumpai penduduk desa sudah kangen dengan mereka" ucap Jesi.
"Iya.., sambil beli persiapan untuk ntar malam, api unggun" ucap Darko.
"Yuk.." ucap kami lalu kami berkeliling desa.

Karena sudah sering kemari kami jadi kenal dengan penduduk desa sekitar villa. Setelah lelah berkeliling dan ngobrol dengan penduduk desa kami pulang ke villa. Setelah makan siang semua langsung ambil posisi ternyaman untuk tidur, tentu aja aku di sofa yang empuk hehe.. Aku lihat Andara sedikit pucat, Andara sakit? setelah istirahat siang, sore kami sibuk dengan persiapan api unggun ntar malam. Tapi sepertinya alergiku mulai kambuh. Aku langsung makan obat dan memutuskan ntar malam nggak ikut api unggun, padahal ada beberapa pemuda-pemudi desa yang kami undang pasti seru hu..uh.. alergiku...

"Kak ada bawa obat?" tanya Cesil.
"Obat apa?" tanyaku.
"Obat demam, bang Andara mulai meriang tu.." ucapnya.
"Andara sakit?" tanyaku Cesil mengangguk, lalu aku memberikan obat demam pada Cesil.
"Memang sebelum berangkat bang Andara kurang fit sih.." ucap Cesil lalu pergi memberi obat untuk Andara.

Malam tiba semua pada siap-siap pergi.
"Amelia nggak ikut ya?" ucap Jesi.
"Iya nih, padahal sudah makan obat tapi tetap aja kambuh.." ucapku.
"Kalau gitu kakak lihatin bang Andara ya, dia nggak ikut juga. Demamnya belum turun." ucap Cesil
"Ya.." jawabku jadi kami akan berdua di dalam villa ini?
"Ada apa-apa panggil kami ya, kan kami di luar.." ucap Darko, aku ngangguk. Andara muncul di ruang perapian.
"Loh kok keluar dari kamar bang?" tanya Cesil.
"Lebih enak di sini sepertinya, ada perapian lagi biar hangat." ucapnya lalu tiduran di sofa kesukaanku.
"Ya sudah, abang ditemani kak Amelia ya dia nggak ikut juga alerginya kambuh." ucap cesil, Andara melihatku. Lalu mereka pergi sebelum pergi Vino mengacak rambutku
"Cepat sembuh ya.." ucapnya aku senyum.

Setelah kepergian mereka suasana jadi sepi.
"Kamu bisa mendekat ke sini nggak? Kalau lagi nggak enak badan gini aku nggak nyaman sendiri." ucap Andara, aku mendekat padanya.
"Sorry ya aku ambil sofa favoritmu.." ucapnya lalu hening, sepertinya dia tertidur.
Huh bosan banget begini, aku perhatikan Andara apa demamnya tinggi. Aku memegang keningnya panas banget.. Aku lalu ke dapur mengambil air dingin dan handuk lalu aku mengompres Andara. Aku duduk di sisi sofa, mudah-mudahan demamnya segera turun. Aku terus menganti kompresnya. Andara terlihat gelisah Aku memegang kakinya dan mengurutnya pelan begitu juga tangannya. Sebaiknya aku panggil teman-teman. Saat aku mau berdiri Andara memegang tanganku kuat.
"Jangan tinggalkan aku, tetap di sini.." ucapnya pelan
"Aku panggil teman-teman dulu ya.." ucapku
"Tetaplah di sini, berjanjilah.." ucapnya lagi
"Baiklah.." ucapku Andara mengengam tanganku kuat, aku nggak bisa melapaskan tanganku. Gengaman tangan Andara terasa hangat. Aku menatap Andara kami sedekat ini tapi... ah aku lelah lalu menyandarkan tubuhku di sisi sofa. Kusentuh keningnya panasnya mulai turun. Andara mulai tenang dan tertidur, syukurlah.. Aku menyandarkan kepalaku di sofa dan nggak terasa aku tertidur..

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang