Kenapa Harus Kamu? (Part 1)

2 2 0
                                        

Siang itu, kami dari ekskul sekolah, ikut berpartisipasi untuk menyaksikan festival dance tingkat kabupaten yang tengah digelar di gedung kesenian daerah. itu dikarenakan sekolah kami juga mengikuti ajang yang cukup bergengsi tersebut dan juga sekolah kami ingin mendapatkan piala bergilir untuk pertama kalinya, agar menjadi milik kami setelah latihan yang cukup menguras tenaga.
Namun sialnya, pagi itu sesampai di sekolah, sepeda motor yang sehari-harinya aku gunakan untuk sampai di sekolah, malah bertingkah. Yah.. motor ku rusak, alhasil untuk pergi ke festival tersebut, tentunya aku harus mencari seseorang yang mau untuk ditumpangi olehku, tak seperti biasanya, kali ini aku terlambat mencari ferdi.. karena ia telah duluan menaiki mobil anak musik yang akan berlomba nantinya. Akhirnya dengan berat hati, aku memberanikan diri untuk meminta tumpangan kepada ketua ekstrakurikuler yang cueknya selangggiiittt...!!!

Oh iya.. aku lupa memperkenalkan diriku.. namaku ziani tri hapsari.. tapi biasa dipanggil zizi. Dan ketua ekskul yang aku sebutkan tadi adalah sahabatku ketika kami masih menduduki bangku sekolah menengah pertama. Namun tidak lagi saat kami sudah memasuki bangku SMA. Aku mendengar banyak orang berkata bahwa masa putih abu-abu adalah masa-masa yang paling menyenangkan dan menyisakan banyak kenangan manis, karena disaat itulah banyak para remaja yang jatuh cinta atau sebagainya lah. Namun aku tak ambil pusing dengan semua itu, yang aku fokuskan sekarang adalah bagaimana meniti pendidikan yang benar-benar bisa membawaku ke kancah kesuksesan nantinya.

Okey, kembali kepada ceritaku yang sebelumnya.. pagi itu aku dengan hati yang cukup berat meminta tumpangan kepada ketua ekskul yang mana ia adalah mantan sahabatku dulu..
"kiki.. aku boleh nggak, perginya bareng kamu, soalnya motor aku lagi rewel nih.. kalo aku bawa kesana takutnya ntar ngambek di tengah jalan lagi tuh motor.." pintaku dengan sedikit menyembunyikan rasa maluku.
"boleh aja zi.. tapi kamu yang bawa ya?!! Hehe" jawab kiki dengan sedikit terkekeh.
"yah.. elah.. iya tau ki.. emang segitu gendutnya yah aku ki?" ujarku lagi dengan muka ditekuk.
"yah.. aku becanda kali zhi.. tapi emang bener sih kamu gendut.. hehehe" ledeknya lagi
"iya deh.. cukup tau.. yang penting aku perginya bareng kamu ya ki.. sekarang aku mau sarapan dulu.. habis sarapan baru pergi kan..!" ujar ku sembari berlalu dari hadapan kiki yang masih berdiri di samping ruangan majelis guru tersebut.

Tak kurang dari 15 menit, aku yang telah selesai sarapan pun, bergegas menuju ke meja piket, karena telah ada pengumuman kepada dua ekskul sekolah yang ditunjuk untuk menjadi suporter dari sekolah untuk mendukung teman-teman kami dari anak sanggar kesenian sekolah ketika berlomba nanti. Kami pun telah berkumpul di depan meja piket, untuk sekedar mengabsen sekaligus memastikan ketua dan anggotanya telah berkumpul untuk segera pergi ke gedung kesenian kabupaten. Aku selaku ketua organisasi kesenian yang sederajat dengan olahraga yang juga diketuai oleh kiki, juga ikut memastikan anggotaku yang tidak banyak untuk segera berangkat. alhasil kami berdua pun berangkat setelah anggota-anggota kami berangkat, (maaf ya.. bukan modus!! Tapi ketua harus mengawasi anggotanya dari belakang kan.. hehehe) kiki pun telah memacu sepeda motornya dengan kecepatan yang biasa saja, yang menurutku itu terlalu lambat untuk menempuh perjalan sepanjang, lebih kurang dua puluh lima kilo meter.

Aku yang tengah menjadi boncengan kiki pun hanya diam, (takut salah tingkah atau salah ngomong, atau salah apa aja deh di depan dia.
Saat berboncengan dengan dia, aku jadi teringat cerita lama ku dulu ketika masih SMP, bagaimana tidak.. dulu aku begitu bawel ketika dekat dengan mantan sahabatku ini, kami sering berbagi cerita baik itu tentang pacar, tentang pelajaran bahkan kiki pernah meneleponku hanya sekedar memberitahu kalau waktu itu dia baru saja putus dengan pacarnya, membuat aku terkaget. Karena dia tak pernah menelepon sebelumnya. Namun sayang, itu semua hanya cerita lama, semua berubah semenjak kami dinyatakan telah lulus dari bangku sekolah menengah pertama, semuanya hilang, seperti ditelan bumi. Tak ada saling cerita, saling berbagi kabar, saling apapun lah itu.. tak ada sedikitpun hingga suatu saat kami kembali dipertemukan dalam satu garis ekskul di sekolah yang sama. Hahaha.. malah jadi flashback deh.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang