Dunia ini kejam dan menyakitkan, hanya berisi buli membuli. Di dunia ini kalau tidak membuli pasti dibuli, yang kuat menindas yang lemah bagai hukum rimba. Orang baik hampir tidak ada, mereka yang melihat tindakan penindasan hanya diam saja dan berlalu begitu saja seakan tak melihat apa-apa. Itu juga terjadi padaku hanya karena tubuhku pendek dan kecil aku selalu diejek dan ditindas, walaupun kata orang wajahku cantik tapi itu tak bisa menolongku itu malah menjadi masalah buatku.
Namaku Evalina Rissaputri, umurku 15 tahun, tinggiku hanya 132 cm, dan beratku hanya 37 kg. Aku selalu diejek oleh cewek-cewek di sekolahanku dan para cowok juga ilfeel kepadaku. Aku selalu dikucilkan, ditindas, diejek, diolok- olok, walapun kadang ada cowok yang menolongku tapi itu malah menjadi masalah di kemudian waktu. Para cewek menganggapku caper dan sok cantik di depan cowok sehingga mereka membenciku. Aku tidak punya teman sama sekali, tapi aku pernah punya seorang teman dulu saat SMP dia teman sekelasku, dia selalu menolongku namun saat kelas 2 SMP temanku memilki pacar, kami selalu bertemu dan mengobrol bersama.
Suatu hari tiba-tiba di lorong sekolah pacar temanku menyatakan cinta padaku aku tidak tahu harus apa, aku hanya diam saja dan ternyata temanku melihat dan mendengar hal tersebut. Dia berlari menuju pacarnya dan menamparnya dengan keras, dia berlari melewatiku begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun. Aku mengejarnya sampai ke halaman belakang sekolah, aku melihatnya menangis aku ingin menjelaskan semua tapi dia berteriak padaku.
"Kau jahat!"
Sebelum mendengarkanku, saat aku ingin menjelaskan lagi tiba-tiba ada orang yang menarikku dan kemudian mendorongku sampai aku terjatuh. Mereka adalah teman sekelasku, saat aku bangkit dan ingin bicara salah satu dari mereka menamparku dan mendorongku lagi sampai aku terjatuh. Dia memarahiku dan membentakku. "kau, benar-benar cewek murahan, cepat pergi dari sini atau kami akan memukulimu! Cepat pergi!" kata-kata cewek itu sambil berteriak padaku. Aku pun bangkit dan pergi dari sana tanpa bisa menjelaskan, aku mencari kesempatan untuk menjelaskan tapi tidak pernah ada.
Semenjak kejadian itu aku selalu dikucilkan dan dijahui bahkan oleh siswa sekelasku sendiri. Aku memang selalu seperti ini tapi semenjak kejadian itu semua bertambah buruk sampai aku lulus SMP. Semenjak itu aku suka sendiri melakukan semua hal sendiri, aku lumayan pintar jadi tidak ada masalah dalam pelajaran walau dalam olahraga aku tidak terlalu pandai. Aku selalu mengerjakan semua sendiri dan saat ada tugas kelompok aku juga mengerjakan sendiri hingga guruku selalu bertanya kenapa aku kerjakan sendiri padahal ini tugas kelompok, aku selalu menjawab dengan alasan tidak pernah dapat kelompok tapi setelah itu guruku diam karena hasil dari pekerjaanku sesuai dengan apa yang diinginkan.
Aku tinggal di kota, keluargaku cukup kaya, ayah dan ibuku selalu bekerja dan jarang pulang, aku tidak punya saudara, dan aku tidak pernah berurusan dengan tetangga. Di rumah hanya dengan seorang pembantu dan tidak terlalu akrab karena aku pendiam jadi jarang bicara. Saat ditanya aku hanya jawab singkat dan biasa. Di sekolah maupun di rumah sama saja aku selalu sendiri dan jarang bicara. Aku benci dunia ini dan aku suka dengan kesendirian.
Tanggal 23 juli 2012 aku masuk SMA untuk hari pertama setelah melewati masa orientasi siswa yang melelahkan, aku memilih SMA yang lumayan dekat dengan rumah sehingga aku bisa naik bus. Di SMA aku rasa semua akan biasa saja sama seperti saat SMP karena banyak dari siswa SMP-ku dulu yang masuk di SMA ini. Dan ternyata benar saat hari pertama rumor sudah beredar saat aku lewat cewek-cewek bicara tentangku yang suka merebut pacar oranglah, yang selalu sok manis dan caper, dan lainnya. Tapi aku diam saja seakan tak mendengar setidaknya di sini tidak terlalu banyak aksi bulying. Sehingga aku bisa sendiri. Aku mencari kelasku dan akhirnya ketemu kelas 1-D.
Saat aku duduk di kursi barisan paling belakang aku tiba-tiba teringat kejadian di pagi hari saat hari pertamaku mengikuti MOS saat aku berjalan dari terminal bus menuju sekolah yang tidak jauh, aku bertemu dengan seorang laki-laki dia seperti kebingungan aku mau terus jalan tapi aku tidak bisa sehingga aku menyapanya dan bertanya.
"Permisi, apakah kamu mencari sesuatu?" tanyaku.
"eh hmbbh... Iya, aku mencari jalan menuju SMA Tirta Nisa." jawabnya.
"Arahnya kesana!" aku memberitahunya sambil menunjuk lurus ke sebuah persimpangan.
Dia langsung berlari tapi dia berhenti sejenak dan berkata sambil menoleh ke belakang, "Terima kasih." sambil tersenyum.
