Cinta Tak Pernah Salah (Part 2)

7 1 0
                                        

Setelah aku putuskan untuk move on dari Zhoumi rasanya pekerjaanku menjadi sedikit berat. Apalagi sekarang pekerjaanku semakin berat karena perusahaan akan mengadakan ulang tahun perusahaan sekaligus pernikahan putri presdir, setiap divisi dituntut mencapai target sesuai waktu yang ditentukan. Aku dan Zhoumi sering pergi kerja di luar, aku yang mulai membangun batas diri dengan dia membuat hubungan kami jadi kaku.

"Kamu ini kenapa sih kok akhir-akhir ini kelihatan aneh" tanyanya suatu hari padaku.
Aku mengalihkan pandanganku dari berkas-berkas yang sedang ku baca yah agar kami tak usah bicara aku selalu menyibukan diri selama kami dalam perjalanan.
"Maaf pak saya tidak mengerti maksud anda" ucapku lalu kembali sibuk dengan berkas-berkasku.
"Tuh kan kamu aneh, kamu terkesan menghindar dan menjaga jarak dariku"
"Anda ini bicara apa mana mungkin saya menjaga jarak dari anda bukankah saya sekertaris anda dan sekarang pun saya duduk di samping anda" ucapku acuh sambil tetap sibuk dengan berkas di hadapanku.
Dia tidak bicara apa-apa lagi tapi aku bisa merasakan dia terus mencuri pandang ke arahku dan aku sebisa mungkin menahan diri agar tak menatap ke arahnya, aku mewanti-wanti diriku sendiri agar tak tertarik padanya karena dia milik orang lain. Aku benar-benar berusaha move on dengan sangat keras, aku menolak dia mengantarku pulang meskipun hari sudah malam, aku juga menolak jika ditawari jalan bersama jika kami kebetulan bertemu di jalan dan orang yang jadi pelampiasanku tentu saja Dimas. Sering kali aku menjadikan Dimas sebagai alasan agar aku bisa menolak dari ajakan Zhoumi.

Akhir pekan adalah kemerdekaan bagiku karena aku tak perlu bertemu dengan Zhoumi dan berkas-berkas yang menumpuk tapi belum tentu aku free karena kak Andra memaksaku untuk tetap membantu di cafe yang selalu penuh dikala akhir pekan.
"Selamat siang, selamat datang di Mouse cafe" sapaku pada pelanggan.
"Tante Manda hallo selamat siang" sapa seseorang padaku.
Aku melihat ke arah orang yang menyapaku dan ternyata itu Syua, aku tersenyum padanya dan dia berlari memelukku.
"Aku kangen sekali pada tante, setiap ke kantor ayah kita tak pernah bertemu" rengek Syua.
"Kan sekarang kita ketemu, Syu mau pesan apa?" tanyaku ramah.
"Syu gak mau makan Syu kesini mau main sama tante"
"Tapi tante sedang bekerja jadi maaf tante tak bisa main dengan Syu" tolakku halus.
Syu langsung berwajah sedih, dia menunduk dan matanya kelihatan berkaca-kaca.
"Ayah sama mamah sibuk dan tante juga sibuk, gak ada yang mau maen sama Syu" ucapnya sedih.
Aku sedih melihatnya, jadi mau tak mau menurutinya untuk bermain bersama. Setelah meminta izin kak Andra aku mengajak anak itu bermain di taman tak jauh dari rumahku.
Kasihan sekali anak sekecil itu pergi sendirian dari rumah menuju cafeku hanya karena kesepian. Dia sangat senang bermain segala permainan sederhana yang ada di taman setelah lelah bermain aku membawanya pulang ke cafe dan memberinya makan.

"Syu, ayah sama mamah kamu tahu kamu datang kesini?" tanyaku.
"Ayah tidak tahu tapi mamah tahu kan tadi mamah yang anterin kesini" ucapnya polos
"Lalu mamahnya kemana sekarang?"
"Ketemuan sama papah baru"
"hah? Papah baru?" tanyaku heran.
"Iya mamah bilang sebentar lagi Syu akan punya papah baru"
Aku hanya menatap bingung mendengar ucapannya, bukannya selama ini orangtua Syua terlihat baik-baik saja kenapa bisa mereka bercerai padahal kemarin Zhoumi masih menyiapkan bunga mawar untuk istrinya. Huh aku menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan spekulasi-spekulasi yang betmunculan di kepalaku. 'Mereka orang asing apa peduliku' ucapku dalam hati meyakinkan diriku sendiri meskipun ada sedikit cahaya yang berpendar di hatiku, sedikit harapan jika mungkin masih ada jalan untuk cintaku.

Matahari sudah terbenam sejak tadi dan Syua sudah terlelap barulah orangtuanya datang menjemput. Seorang pria yang datang bersama ibunya Syua menggendong Syua ke pangkuannya dan Zhoumi yang ada di tempat itu juga biasa-biasa saja. Aku bingung melihat interaksi mereka bertiga tapi aku tak punya nyali untuk bertanya.
"Terima kasih sudah menjaga Syua hari ini, maaf telah merepotkanmu tapi tadi Syua merengek ingin diantar bertemu denganmu daripada menemaniku mempersiapkan pernikahan" ucap ibunya Syua yang kuyakini istri Zhoumi tapi kenapa dia begitu santai membicarakan pernikahannya di hadapan Zhoumi.
"Kami pamit dulu sekali lagi terima kasih sudah menjaga Syua" ucapnya lagi sambil berpamitan.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya hingga dia berlalu dengan mobilnya. Aku berbalik hendak masuk ke rumah hingga mataku menangkap Zhoumi masih berdiri di sampingku dengan senyum manisnya.
"Bisakah kamu membuatkanku secangkir kopi?" tanyanya.
Aku menatap bingung ke arahnya lalu akhirnya mengangguk. Aku menyiapkan coffee untuknya, di rumah hanya ada kami berdua karena kakak dan kakak iparku masih berada di cafe mereka jadi aku merasa sedikit tidak nyaman dengannya. Dia tersenyum menerima cangkir coffee pemberianku dan meminumnya sedikit.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang