Persahabatan Vs Cinta

5 1 0
                                        

Tepat pukul setengah dua siang, bel pulang sekolah berbunyi. Walaupun bel telah berbunyi tanda sudah berakhir jam pelajaran, tetapi kami tidak diperbolehkan pulang karena kami harus ikut belajar tambahan yang diadakan sekolah untuk seluruh kls XII IPA ataupun IPS. Panas rasanya mesin otakku karena selesai belajar kimia kini les harus bertemu lagi dengan matematika dan fisika. Akupun meletakan kepalaku di atas meja untuk merefresh kembali mesin otak ku yang sudah panas.
"Elys.. kamu tidak makan..?" tanya Lily teman baikku
"Hemmm... makan Li, tapi sulang Li aku capek.." jawabku sambil senyum dan bangkit mengeluarkan bekalku
"Ih.. kamu ini manja sekali, ya sudah sini aku sulang." Kata Lily sambil mengambil bekal ku
"Yeee... yang ikhlas ya sulangnya." Kataku kegirangan

Selesai makan siang, aku dan Lily duduk di depan teras kelas. Kami berteman sejak SMP, sehingga sangat akrab sekali seperti perangko yang menempel di surat yang tidak dapat terpisahkan. Saat sedang bercanda, terlihat dari jauh Odie dan Ramadan datang menghampiri kami.
"Weess... happy kali kalian, gabung ah biar bisa happy juga." Kata Odie sambil duduk di sampingku
"Hem, aku ke dalam ya Elys." Sambil bangkit berjalan ke dalam kelas
Aku mengerti mengapa Lily pergi saat Odie dan Ramadan datang duduk menghampiri, karena Lily ingin menjauhi Ramadan. Mereka dulu berpacaran sejak kelas 1 SMA, namun perbedaan status sosial yang mereka alami serta Lily banyak mengalami masalah keluarga sehingga Lily mengambil keputusan untuk memutuskan Ramadan. Awalnya mereka tetap selalu jalan bersama namun karena teman-teman satu kelas sering meledek Lily kalau ingin CLBK dengan Ramadan, membuat Lily jadi kesal dan menjauhi Ramadan. Lily menjauhi Ramadan sejak kelas 3 SMA semester pertama, dan sejak itu mereka jarang ataupun bahkan tidak bertegur sapa dengan baik. Aku tidak mungkin ikut menjauhi Ramadan, karena Ramadan juga teman baikku dan sangat akrab denganku. Karena Lily selalu menjauhi Ramadan, akhirnya Ramadan jadi sering bersamaku.

Suatu hari, aku harus menghadapi masalah keluarga yang membuatku sangat sedih. Aku berusaha tidak memikirkan permasalahan itu dan tidak membawa masalah di rumah ke sekolah, namun tidak mampu aku lakukan.
"Elys..? kamu kenapa diam aja dari tadi...? cerita dong sama aku El..?" tanya Lily
"Tidak apa-apa Li, aku hanya mau diam aja. Biasanya aku ribut terus, jadi ya pengen kalem aja." Jawabku dengan senyum tipisku berusaha meyakinkan Lily
"Jangan bohonglah El, aku yakin kamu ada masalah. Kamu cerita dong ke aku, aku kan selalu cerita masalah aku ke kamu. Aku ini sahabat kamu El, jadi tolonglah jangan kamu rahasiakan sesuatu dari aku El."
"Ya Li aku memang punya masalah, tapi masalah ringan kok. Lagi pula gak penting-penting amat. Dan maaf Li aku tidak bisa cerita ke siapa-siapa, termasuk kamu Li."
"Oh, ya lah. Ya sudahlah aku mau ke kantin dulu." Kata Lily meninggalkanku
Aku mengerti kalau Lily marah padaku karena aku tidak mau cerita padanya.

Hari demi hari berlalu, tapi Lily masih saja menunjukkan sikap kekesalannya padaku. Aku pun berusaha untuk memberikan penjelasan padanya.
"Lily tunggu bentar..!" teriakku sambil berlari mengejar Lily di parkiran
"Ada apa..?"
"Kamu marah ya sama aku..?"
"Iya, habis kamu gak mau cerita sama aku tentang masalah kamu. Aku kan Sahabat kamu El, seharusnya kamu tu cerita dong ke aku bukan dirahaiakan seperti itu. Apa aku ini tidak kamu anggap sahabat, sehingga kamu tidak percaya untuk bercerita padaku..?"
"Bukan begitu Li, aku memang tidak bisa bercerita ke siapapun. Setiap aku punya masalah aku hanya diam saja, jangan kamu sebagai sahabatku. Kedua orangtuaku saja sulit untuk aku bercerita kepada mereka. Kuharap kamu mengerti akan hal itu Li, jangan marah lagi ya..?"
"Hem, ya lah."

Pagi ini merupakan hari minggu, hari dimana untuk diriku menghibur diri dari rasa penat di sekolah. Melakukan segala aktivitas yang menjadi rutinitas setiap hari minggu sangat menyenangkan bagiku.
KRINGGGG... handphoneku berdering ternyata Odie teman baikku yang paling lugu meneleponku. Entah apa gerangan sehingga membuat dirinya menelponku.
"Assalamualaikum El..?"
"Waalaikumsalam Odie, tumben nelpon ada apa ya Di..?" tanyaku penasaran
"Gini El, aku bingung banget. Aku butuh solusi dari kamu, boleh kan aku minta pendapat kamu El..?"
"Boleh banget, mau pendapat tentang apa..?"
"Aku lagi suka sama sorang Cewek di kelas kita El, tapi aku takut untuk mengungkapkannya. Aku takut dia malah menjauhiku, menurut kamu bagaimana El..?"
"Oh... kalau menurut Elys ya Di, kamu jujur aja. Jika dia nantinya menjauhi kamu gak usah dipikirkan, yang penting kamu berani jujur dengan perasaan kamu. Eh..tapi siapa sich cewek yang bisa buat kamu klepek-klepek gitu..?" tanyaku begitu penasaran
"Mau tau aja, kepo banget kamu.."
"Ah gak asik ah Odie. Kasih tahu aku dong..?" rengek ku memaksa Odie
"Gak usah tahu. Nanti kamu juga tahu sendiri kok El.."
"Hem.. kalau gak mau kasih tahu, aku marah ni ya..?" ancamku
"Jangan gitu dong, gitu aja marah. Ya udah deh kukasih tahu, tapi jangan terkejut ya..?"
"ok, tenang aja ku gak akan terkejut."
"Aku suka sama kamu Elys."
"Apa..! haha mana mungkin. Kamu ya Odie bercanda aja, aku tanya serius pun.."
"Aku serius Elys. Sumpah aku suka ama kamu dari kita kelas satu dulu, tapi aku takut kamu jauhi aku kalau kamu tahu aku suka kamu El."
"Ini beneran..?" tanyaku mencoba untuk meyakinkan
"Iya Elys, ni beneran aku gak bercanda."
TUUTTTTT... tanpa kusadari tanganku mematikan handphone.
Aku tak mengerti apa yang harus ku katakan pada Odie. Padahal perhatian dan kepedulian yang selama ini kuberikan kepadanya hanya sebatas teman. Aku berusaha untuk berpura-pura tidak ada sesuatu di antara aku dengan Odie.
"Woy.. ngelamun aja.!" Kata Ramadan sambil menepuk pundakku
"Hem, bingung aku Dan..?" jawabku
"Bingung kenapa..?
"Emm, aku mau kasih pertanyaan ke kamu, tapi jawab serius ya..?"
"Ok, emang mau tanya apa..?" tanya Ramadan
"Jika ada teman dekat mu menyatakan perasaan kepadamu, kamu jawab apa..?" tanyaku
"Menyatakan perasaan maksudnya..?"
"Ih.. malah bingung. Maksudnya itu bilang suka ke kamu, kamu terima apa tidak..?"
"Jika teman dekatku itu orang lain yang menyatakan perasannya maka aku bilang tidak, tapi jika itu kamu Elys aku bilang iya." jawab Ramadan sambil tersenyum dan memandangku serius
"Apa Ramadan..?"
"Jika orang lain tidak, tapi kalau kamu iya."
"Emmm.. aku ke kelas duluan ya."
Ohhh kacaunya pikiranku setelah mendengar ucapan Ramadan. Apa jadinya jika Lily tahu jika Ramadan ternyata suka denganku. Aku hanya bisa diam dan akan selalu mencoba merahasiakan ini dari Lily, karena ku sangat yakin kalau Lily masih mencintai Ramadan. Dan aku juga yakin jika Ramadan hanya sekedar kagum ataupun suka sementara saja padaku. Jadi aku berusa tidak menanggapi hal itu.

Selang waktu berlalu, aku tak mengerti mengapa Lily bersikap jutek kepadaku. Padahal permasalahan yang lalu sudah kuselesaikan.
"Li.. kamu kenapa sich..?"
"Seharusnya aku yang tanya kamu. Kenapa kamu gak pernah cerita kalau ternyata Ramadan suka sama kamu..?" kata Lily dengan wajah sinis
"Duh, gini ya Li. Kamu tuh jangan percaya gosip yang tidak benar deh Li, Ramadan aja masih suka sama kamu. Jadi gak mungkin Ramadan suka padaku." jawabku mencoba menjelaskan
"Ramadan sendiri yang bilang Elys, aku liat kalian akrab banget. Jadi aku tanya apakah dia suka ama kamu, dia jawab ya. Ramadan gak bisa bohong sama aku Elys, Alahh.. kamu juga suka dia kan..?"
"Li, dengar ya aku tu gak suka sama Ramadan. Aku gak kepikiran sedikitpun untuk pacaran atau suka dengan orang lain. Aku yakin Ramadan hanya bercanda, itu hanya rasa suka sementara aja."
"Jujur ajalah El, jangan bohong." kata Lily memaksa diriku
"Terserah kamu aja Li, aku capek kayak gini. Kamu gak bisa pahami aku, aku capek kalau aku harus menjelaskan sedetail mungkin padamu terus-menerus tapi kamu tetap tidak percaya padaku. Kamu anggap ucapanku selalu bohong, aku lelah kayak gini Li. Kita sudah berteman sudah lama, seharusnya kamu bisa mengenalku dan memahami aku Li."
"Aku juga capel Elys, kamu gak pernah anggap aku sebagai sahabat. Kamu tidak mau berbagi cerita denganku, kamu paksa aku untuk cerita tentang masalahku tapi kamu simpan masalahmu sendiri. Itu egois namanya Elys. Kalau kamu anggap aku sahabatmu seharusnya kamu mau cerita padaku." kata Lily dengan penuh emosi
"Apa Li, aku egois. Oh gitu ya. Kamu tahu kan kekuranganku dari dulu, aku tidak mampu cerita kepada siapapun tentang masalahku.Seharusnya kamu bisa nerima kekuranganku itu, bukan memaksaku. Kamu pikir aku tidak tersiksa, kalau aku bisa kayak kamu aku juga ingin curhat Li. Tapi aku gak bisa, karena itu tega kamu bilang aku egois. Sedangkan orang yang begitu egois tidak pernah kamu cap egois, tapi aku temanmu Li, kamu bilang egois. Kecewa aku Li.." kataku lalu meninggalkan Lily

Waktu terus bergulir, tak terasa tiga hari lagi kami menghadapi UN. Aku senang sekali karena sebentar lagi aku akan tamat dari sekolah SMA dan melanjutkan kuliah untuk menggapai cita-citaku. Tapi aku juga sedih, karena harapanku musnah sudah. Aku berharap di waktu-waktu terakhir kebersamaan disekolah aku bisa membuat kenangan sebanyak-banyaknya dengan teman dekatku, tapi kini mereka menjauhiku. Ramadan yang awalnya akrab kini tiba-tiba bersikap dingin padaku semenjak mulai akrab lagi dengan Lily. Apalagi dengan Lily, ia memang menjauhiku sejak kejadian itu. Kini hanya odielah teman yang setia bersamaku. Tak terasa hari perpisahanpun tiba, ku berpikir jika Ramadan dan Lily akan menghampiriku, namun sayang itu harapan yang konyol. Mereka tidak mau menghampiriku, jangankan menghampiri dan menyapaku, melihatku saja mereka tidak mau.

Terasa ada yang hilang dalam hidupku. Aku kehilangan teman baikku, yaitu Ramadan dan Lily. Hatiku tidak tenang jika aku belum tahu penyebab Ramadan menjauhi diriku, kalau Lily aku sudah mengerti sehingga aku bisa paham mengapa Lily menjauhi aku. Namun Ramadan aku belum mengetahui penyebab pastinya apa yang membuat dirinya seperti itu padaku.

TUUTTTT, Aku menelpon Ramadan
"Hallo, assalamualaikum..?"
"Waalaikumsalam, ada apa El..?"
"Emm, aku mau tanya sama kamu Ramadan. Kenapa kamu menjauhi aku..? apa salahku..?" tanyaku dengan suara lembut
"Maaf kan aku El, sebenarnya kamu gak bersalah padaku. Tapi..."
"Tapi apa Ramadan..?"
"Tapi aku balikan lagi dengan Lily. Lily cemburu jika aku dekat kamu, mangkannya aku jauhi kamu. Maafkan aku ya, seandainya kalian temenan kayak dulu aku rasa akan lebih baik El.."
"Oh... okelah, jadi karna itu ya. Jadi karena itu kalian rela jauhin aku, buang sahabat kalian sendiri..? Gak nyangka karena cinta kalian berbuat itu padaku. Makasihlah, kayanya gak perlu lagi aku baikan dengan Lily. Assalamualaikum."
Tanpa kusadari menetes air mata membasahi pipiku. Betapa kecewanya aku, persahabatan ku selama ini kujaga hancur sekejap karena hal yang sepele. Semenjak itu aku tidak pernah komukasian dengan Lily dan Ramadan. Yah, kurasa mereka sudah punya kehidupan mereka yang lebih baik. Kalau mereka menganggap diriku ada tentunya mereka akan mencariku. Kini hanya Odie teman setiaku yang selalu setia bersamaku.

END

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang