Ia mulai meraih salah satu buku yang tersusun rapi di rak. Saat sedang asik membaca tiba-tiba tumpukan buku yang berada tepat di atas kepalanya menjatuhi hingga ia tak sadarkan diri. Ia mulai sadar dan mencoba membuka matanya perlahan-lahan seraya pandangannya menyapu seluruh ruangan "ternyata aku ada di UKS. Tapi, siapa yang membawaku ke sini?" tanyanya dalam hati.
"Akhirnya kamu sudah siuman. Ehh jangan bangun dulu, tenaga kamu belum pulih." Cegah seorang pria berseragam sekolah sama seperti dirinya tapi ia tidak mengenalnya.
"Kamu siapa dan kenapa aku berada di sini?"
"Aku Raka. Tadi aku menemukan kamu pingsan di bawah tumpukan buku dan aku segera bawa kamu ke UKS."
"Ma.. makasih, udah nolongin aku. Aku Shintia." Ucapnya memperkenalkan diri seraya tersenyum manis yang dibalas dengan anggukan.
"O iya, kalau kamu butuh bantuanku! Hubungi no ini soalnya aku ada janji. Maaf ya aku nggak bisa temani kamu di sini." Seraya memberikan secarik kertas dengan seulas senyum.
Tidak beberapa lama Raka meninggalkannya, Ayu dan Cika sahabatnya datang.
"Shin kamu nggak apa-apa kan?" Tanya mereka bersamaan dengan nada khawatir.
"Iya, aku ngak apa-apa. Buktinya aku sekarang bisa bicara sama kalian berdua."
"O iya Shin siapa cowok yang barusan keluar dari sini?"
"Raka, kenapa?"
"Dia tampan, keren dan aku pernah dengar sih tentang dia. Kalo nggak salah, emm!!" ucapnya mencoba mengingat seraya menggaruk kepala. "O iya, dia itu bintang di sekolah kita dan kamu sangat beruntung udah ditolongin sama dia."
"Terus kenapa? Masalah gitu buat kalian?" Tanyanya sewot. "Temennya lagi sakit eh malah bahas cowok apa coba? Nawarin makan atau segelas coklat hangat kek! Aku kan lapar. Masa nggak ada yang peduli?" Gerutunya dalam hati.
"Ya elah sapa tahu aja kamu suka sama dia."
"Idih, boro-boro suka kenal aja baru tadi. Ini masalah hati, jadi nggak bisa gegabah ngambil keputusan gitu aja. Emang kalian mau lihat aku nangis tiap hari! Cuma gara-gara cinta yang indahnya saat PDKT doang." Cerewetnya mulai kambuh agi.
"Kamu yakin nggak bakalan suka sama tuh cowok?"
"Udah ah aku lagi nggak mood bahas tuh cowok. Aku lagi sakit dan butuh istirahat okey?" Ucapnya seraya memejamkan mata dan dua sahabatnya ini hanya bisa menggerutu melihat ulah Shintia.
"Mungkin dia udah lupa sama kejadian hari ini! Lagipula dia itu bintang sekolah. Jadi nggak mungkin kalo aku dan dia bisa bersama. Ini mustahil!" Ucapnya dalam hati untuk meyakinkan hatinya agar ia tidak jatuh hati kepada Raka.
Hari ini Shintia sengaja berangkat ke sekolah lebih pagi karena ia akan mencari buku yang sempat dibacanya kemarin. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara motor berhenti di dekatnya! Saat ia mulai melangkahkan kakinya terdengar suara memanggil namanya.
"Shintia tunggu." Ucap suara yang tak asing untuk ia dengar. Ia memalingkan pandangannya dan ternyata, Raka! Cowok yang menolongnya kemarin.
"Ehh kamu, iya ada apa?"
"Kamu udah sembuh kan?" Petanyaan Raka membuat Shintia tertegun beberapa saat.
"Iya." Jawabnya singkat seraya tersenyum.
"Sekarang kamu mau ke mana?" lagi-lagi Raka bertanya yang membuat Shintia bingung harus menjawab apa.
"Aku mau ke perpus."
"Mau ngapain lagi? Kamu nggak trauma atas kejadian kemarin?"
"Ya enggak lah. Masa baru gitu aja, aku harus nggak ke perpus lagi? Kan lucu." Jawabnya sambil tertawa.
"Iya juga ya." Ucap Raka nyengir kuda.
"Ya udah aku mau ke perpus dulu ya? Bye.." Langsung berlalu dari hadapan Raka dan langkahnya kembali terhenti saat Raka menarik tangannya.
"Ada apa lagi? Lepasin ntar aku sama kamu dibilang yang engak-enggak sama anak-anak di sini."
"Memangnya kenapa kalo anak-anak di sini beranggapan yang enggak-enggak sama kita berdua?" Sebuah kalimat yang membuat jantung Shintia berdetak lebih cepat dari biasanya apalagi disaat yang bersamaan, mata Raka melihat tajam yang mampu menembus pupil matanya.
"Iya maaf. Aku cuma mau bilang kalau aku mau ikut kamu ke perpus, boleh?" Ucapnya saat melihat kecanggungan dari raut wajah Shintia.
"Ya boleh lah. Emang tuh perpus punya nenek moyang aku gitu yang nggak bolehin kamu masuk." Jawabnya sambil tertawa dengan pertanyaan konyol Raka.
Akhirnya mereka berdua sampai di perpus. Tangannya mulai sibuk mencari buku yang ia baca kemarin. Selang beberapa menit akhirnya ia menemukan buku itu.
"Yes akhirnya ketemu juga ni buku." Ucapnya seraya tersenyum dan Raka datang menghampirinya.
"Bukunya udah ketemu kan dan sekarang kamu harus temanin aku ke kantin. Lapar ni, abis tadi pagi nyokapku harus berangkat pagi-pagi ke kantor. Jadi aku nggak sarapan." Ucap Raka seperti sudah akrab seraya menarik tangan Shintia menuju kantin.
