Pukul 20.30 tampak para tamu undangan banyak yang sudah berdatangan dan setengah jam lagi acara akan dimulai tapi Raka belum datang yang membuat Shintia terus bertanya-tanya.
Shintia mulai melirik kekanan dan kekiri tapi tidak juga ia dapatkan sosok yang sedang ia cari. Tepat pukul 21.00 acara dimulai dan mc membacakan susunan acara serta memulai acara pada malam hari ini.
Shintia semakin gelisah karena Raka belum juga muncul padahal Shintia pengen Raka ada di sampingnya malam ini. Tiba saatnya peniupan lilin akan tetapi, tiba-tiba lampu mati dan seluruh tamu menjadi terdiam. Tiba-tiba terdengar suara dari mic.
"Happy birthday Shintia." Suara perempuan yang tidak asing untuk di dengar Shintia akan tetapi ia tidak tahu suara siapa itu?
"Sekarang ulang tahun kamu yang ke-17 tahun. Jadi sekarang kamu benar-benar menjadi seorang gadis yang cantik dan dewasa. Di usia ke-17 tahunmu ini, tolong maafkanlah jika ada orang yang kamu anggap nggak pernah peduli kepada keadaanmu." Suara itu menghilang dan lampu kembali menyala.
"Happy birthday to you sayang. Maaf jika selama 5 tahun kamu ulang tahun, mama sama papa nggak ada di samping kamu." Ucap ibu Shintia seraya memeluknya dan Shintia tidak menyangka semua ini akan terjadi.
"Pa..pa mana ma?"
"Papa di sini sayang." Ucap Ayahnya berjalan bersama Raka dan yang sedang mendekat ke arahnya. "Raka? Apa hubungannya dengan dia? Mama sama papakan nggak kenal sama dia?" Tanya Shintia dalam hati.
"Happy birthday ya sayang." Ucap Ayah Shintia mengecup kening Shintia dan tampak Raka mendekat.
"Kamu kok bisa sama papa aku dan kamu kan nggak kenal sama mereka." Tanya Shintia heran.
"Udah nanti aku jelasin semuanya. Happy birthday ya Shintia. Kamu jangan nangis karena malam ini adalah malam yang indah dan saatnya kamu tiup lilin dan berdoa." Ucapnya menghapus air mata Shintia dan menyalakan lilin yang berangka 17.
"Ya Allah hamba memohon Kepada-Mu semoga mama sama papa hamba nggak akan pernah ninggalin hamba lagi dan berikanlah jalan yang terbaik untuk hamba aamiin." Ucap Shintia dalam hati seraya meniup lilin.
"Sekarang potong kuenya dan kasih orang-orang yang kamu sayang." Ucap Raka kepada Shintia.
Shintia memotong kue yang pertama dan ia memberikannya ke mama dan papanya dan Shintia memotong kue yang kedua untuk mbok Iyem orang yang merawatnya selama ini dan potongan yang terakhir untuk Raka orang special baginya.
"Ini buat kamu." Ucap Shintia malu-malu.
"Buat aku?" Ucap Raka tidak percaya.
"Kenapa, kamu nggak mau?"
"Ya maulah." Ucap Raka seraya melahap kue yang Shintia berikan dan Raka menyuapinya di depan orangtua yang membuat para tamu bersorak serta bertepuk tangan yang membuat orangtuanya tersenyum melihatnya.
Setelah acara selesai Shintia membantu Raka yang sedang sibuk memasukkan kado ke dalam kamarnya dan setelah semuanya selesai tiba-tiba Raka memberinya kado yang berukuran kotak kecil yang dihiasi pita ping dan surat serta setangkai bunga mawar.
"Kalo kamu mau buka kado ini ntar tunggu aku pulang dan harus di depan mama sama papa kamu." Ucap Raka yang membuat Shintia menjadi semakin bingung dan ia hanya mengiyakan permintaan Raka walau aneh baginya.
"Hey sebentar, kata kamu mau jelasin semuanya sama aku?" Ucap Shintia ketika Raka mau pulang.
"Oh ceritanya panjang. Kemarin aku ketemu mama sama papa kamu dan mereka minta aku buat perayaan ultah kamu dan tanpa memberitahu kamu kalo mereka sudah ada di Indonesia." Jelasnya kepada Shintia.
"Oh makasih ya kamu udah banyak berjasa dalam hidupku dan selalu perhatian sama aku."
"Yah namanya juga aku sayang sama kamu." Ucap Raka yang membuat Shintia terkejut dan tampakknya Raka baru menyadari apa yang barusan ia katakan.
"Apa? Kamu bilang apa barusan?" Tanya Shintia seolah-olah ia tidak mendengar apa yang Raka katakan.
"Enggak itu tadi aku bilang kalo kamu itu sahabat terbaik aku. Iya, sahabat terbaik aku." Ucapnya tidak mengakui apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Oh ya sudah! hati-hati ya? Dahhh." Ucap Shintia seraya melambaikan tangan dan tersenyum kepada Raka.
Saat Shintia ke ruang tamu Ibunya bertanya.
"Sayang, cowok itu siapa? Pacar kamu ya?" Ucap Ibunya dengan seulas senyum manis yang sudah lama tidak pernah Shintia lihat.
"Bukan ma, dia itu sahabat aku dan selama ini dia selalu perhatiin keadaanku dan pokoknya dia sahabat yang paling baik yang pernah Shintia kenal."
"Oh, tapi kamu sama dia cocok jadi sepasang kekasih." Ucap Ayahnya menambahi
"Nggak ah pa, Shintia kan mau kuliah dulu." Ucapku karena besok adalah pengumuman kelulusan dan rencananya aku pengen kuliah.
"Ya udah tapi kamu mau kuliah di mana?" Tanya Ibunya kepada Shintia.
"Terserah aja sih ma. O iya ma pa." Ucap Shintia seraya megeluarkan kado yang diberi Raka kepadanya.
"Itu apa sayang dan dari siapa?"
"Oh ini dari Raka ma cowok tadi." Shintia membuka kado yang Raka berikan dan betapa terkejutnya Shintia saat melihat isi dalam kotak kecil itu ternyata, sepasang cincin dan ia membaca surat dari Raka.
