"Sudah aku bilang, aku sudah bosan denganmu. Kau tidak pernah mengerti perasaanku. Kau membosankan. Aku ingin, kita akhiri hubungan kita sampai disini."
Suara Ovie masih terngiang-ngiang di telingaku. Kejadian kemarin malam benar-benar membuatku shock. Ovie meminta putus dariku setelah satu tahun kita bersama. Ia memutuskanku tanpa perasaan. Seharusnya, aku yang memutuskannya karena aku melihatnya selingkuh dengan wanita lain. Aku benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Aku terlalu bodoh untuk dimanfaatkan dan dibohongi.
Seharusnya, sekarang ia berada disini dan mengucapkan selamat tinggal dengan senyuman manisnya. Dia orang yang sangat ramah, dia juga sangat sopan. Aku pikir, aku telah menemukan lelaki yang tepat untuk masa depanku. Tapi, aku salah. Aku tidak percaya, Ovie laki-laki yang begitu baik tega menipuku dari belakang. Aku sangat-sangat tidak percaya dengan kejadian ini.
Aku duduk di bangku bandara sambil memegangi koperku. Di sampingku ada 2 orang shabatku. Kami akan berangkat ke Inggris selama satu minggu untuk tugas kuliah. Kami ditugaskan untuk magang di sekolah disana. Walaupun hanya satu minggu, aku rasa itu sudah cukup dan pasti banyak pengalaman-pengalaman baru yang akan kami dapatkan.
Tiba-tiba terdengar pengumuman dari pengeras suara yang memberitahukan bahwa pesawat jurusan Inggris akan berangkat lima menit lagi.
Aku hanya duduk terdiam sambil memegang koperku. Aku sama sekali tidak bergerak, bukan karena aku tidak mendengar suara dari pengeras suara tersebut, aku hanya malas untuk berdiri. Aku malas meninggalkan Jakarta, walaupun Jakarta kota polusi dan penuh sesak tapi, aku pasti akan sangat merindukan hal-hal tersebut karena, Inggris mungkin tidak sepadat Jakarta. Aku juga malas pergi, karena Ovie tidak datang kesini untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Tasya, ayo pesawat akan berangkat," ucap Mitha kepadaku. Aku melihatnya yang sedang memegang koper sambil menyuruhku untuk cepat berdiri menggunakan tatapan matanya.
"Iya, aku tahu," sahutku malas.
Aku, Mitha dan Via duduk bersama. Ponselku aku matikan. Kami melihat pramugari cantik yang sedang berdiri di depan sambil menjelaskan sesuatu. Kami mengangguk sebagai tanda mengerti.
Pesawat siap terbang menuju Inggris.
Selamat Tinggal, Jakarta...
Selamat Tinggal, Indonesia...
Aku akan merindukan kalian,
Jangan lupakan aku, aku akan kembali...
Aku terlelap tidur hingga aku tidak menyadari jika pesawat sudah tiba. Via membangunkanku dengan lembut dan penuh kasih sayang seperti seorang ibu membangunkan anaknya dengan penuh cinta. Sayangnya, aku tidak pernah merasakan kasih sayang ibu sejak lahir. Mungkin aku pernah merasakannya sejak di dalam kandungan. Tapi, sama artinya aku tidak pernah merasakannya.
Aku, Via dan Mitha, kami adalah sahabat sejak SMP. Saat aku berumur 11 tahun, kami pindah ke Jakarta. Aku berasal dari Semarang. Ayah mengajakku pergi ke Jakarta karena tugas pekerjaan. Saat aku masih kecil, nenek yang menemaniku jika ayah pergi ke luar kota untuk bekerja. Tapi, sekarang nenek sudah kembali ke sisi-Nya. Karena, Ayah tidak tega meninggalkanku sendiri di rumah, dia membawaku ikut ke Jakarta.
Orangtua Via dan Mitha, mereka sudah aku anggap sebagai orangtuaku. Mereka juga menganggapku sebagai anak mereka. Ayahku juga, dia menganggap Via dan Mitha adalah putri mereka. Walaupun kita tidak sedarah, tapi, kita seperti keluarga yang sangat harmonis. Ditambah lagi, rumah kita saling berdekatan. Jadi, kekeluargaan di antara kita makin terasa dan semakin erat.
Saat aku sedang bosan jika ayah sedang kerja, aku pasti pergi ke tempat Mitha atau Via. Mereka menghiburku dan melupakan masalah yang ada. Ayah memiliki sifat yang penyayang, ia sangat sayang padaku. Ia tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi untuk kelain kalinya. Ia juga lelaki yang bertanggung jawab. Ia selalu menyiapkan sarapan untukku sebelum ia berangkat kerja. Mungkin, ia juga harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang ibu sekaligus ayah, karena sejak aku kecil ibu sudah pergi. Ayah juga penuh karisma dan sangat berwibawa. Ia juga masih terlihat muda. Walaupun usianya sudah hampir menginjak 40 tahun.
