My first love..., lagu endless love Mariah carey dan Luther vandross mengingatkanku akan cinta pertamaku yang hilang... hilang bersama waktu yang berlalu. Teringat masa-masa SMU ku, saat itu aku baru memasuki dunia SMU..dunia remajaku yang indah. Dan aku bertemu dia di sekolah baruku seniorku yang hangat.. Sehangat coklat hangat yang dia beri padaku saat aku kedinginan karena basah.
Hari itu aku pulang sendiri dan cuaca sangat tidak bersahabat, hujan turun deras aku berlari ke halte bus alhasil aku basah. Dan aku menunggu bus cukup lama angin yang berhembus membuat tubuhku yang basah semakin kedinginan. Aku duduk di bangku halte sambil melipat tanganku didepan dada, kakiku terasa beku.. aduh semoga alergiku terhadap udara dingin tidak kumat doaku saat itu dan bertepatan saat itu seseorang menyodorkan cup minuman padaku aku kaget dan menaikkan wajahku. Aku semakin kaget saat tahu siapa yang menyodorkan cup minuman padaku... Andara.
"Ambillah, minuman hangat akan membuat tubuhmu hangat.." ucapnya saat itu. Aroma coklat menyergap hidungku hmm.. minuman kesukaanku...
"Terima kasih." ucapku pelan. Aku menerima cup minuman yang dia sodorkan padaku, lalu meminumnya hmm.. hangat, aku tersenyum. Andara duduk di sisiku, dia juga basah nggak nyangka Andara begitu baik. Lalu busku datang, aku langsung berdiri sebelum naik ke bus aku menoleh pada Andara.
"Sekali lagi terima kasih bang.." ucapku dia menatapku dan mengangguk. Lalu aku naik ke bus, meninggalkan Andara yang duduk di bangku halte menunggu busnya.
Itu adalah moment yang tidak akan pernah kulupa. Aku mendesah pelan.. aku kembali pada moment itu.. rasanya baru kemarin itu terjadi padahal sudah 7 tahun berlalu saat itu.
Tiba-tiba aku di kagetkan dengan suara Jems di luar
"Kakak.." panggilnya.
"Ya.." jawabku.
"Ada bang Vino di depan" ucapnya.
"Ya.." jawabku, Vino.. cowok baik yang selalu menjagaku.. sahabat terbaikku. Tapi saat ini aku dilema karena Vino menyatakan perasaannya padaku. Ternyata selama ini Vino suka aku, aku sudah mengatakan kalau perasaanku hanya sebagai sahabat tapi Vino katakan dia akan menungguku.. Vino aku ingin kamu tetap di sisiku sebagai sahabat terbaikku. Aku berdiri dari kursi di depan mejaku. Menyeret langkahku yang berat menuju ruang tamu. Di ruang tamu Vino sudah menunggu.
"Hai.." sapanya
"Hai." balasku sambil senyum.
"Lagi ngapain tadi." tanya Vino sambil senyum.
"Nggak ada, hanya melamun.." jawabku, Vino senyum.
"Besok sore ke mana?" tanya Vino.
"Belum ada rencana ke mana-mana." Ucapku.
"Bagus, kita pergi ke rumah Darko yuk.." ajaknya.
"Ngapain?" tanyaku.
"Cesil adiknya ulang tahun, kemarin cesil undang aku dan juga kamu." ucap Vino
"O ya.. okelah kamu jemput aku ya.." ucapku.
"Beres.." ucap Vino
"Jangan lupa kado istimewa untuk Cesil.." ucapku, Vino senyum.
"Istimewa? Apa ya.." ucap Vino. Sepertinya belum mempersiapkan kado untuk Cesil.
"Nggak usah ribet, kamu datang lalu nyanyi di acaranya sudah merupakan kado istimewa baginya." ucapku sambil senyum pada Vino. Vino menggaruk kepalanya keki.
Cesil sebenarnya suka Vino tapi Vino selalu bilang kalau Cesil sudah di anggapnya adik. Cesil anak yang baik dia tidak ngotot dengan perasaannya, dia juga sepertinya berpikir kalau Vino dan aku ada hubungan lebih dari persahabatan jadi dia nerima aja. Aku pernah katakan pada Cesil kalau aku dan Vino cuma sahabat tapi sepertinya dia tidak percaya melihat ke akraban kami. Tapi sikap Cesil tetap baik padaku dia dewasa meski usianya masih muda.
"Kamu dah dapat undangan dari Mario kan?" ucap Vino mengalihkan pembicaraan kami. Aku senyum.
"Sudah.." jawabku.
"Kita pergi bareng ya.." ucap Vino, aku mengangguk.
Aku dan vino sudah tiba di rumah Darko, suasana rumah darko mulai ramai.. Cesil kelihatan bahagia banget dan terlihat cantik. Aku, Vino dan Darko ngobrol tak jauh dari Cesil.
"Nggak nyangka aku kalo si Mario bakalan nikah dengan Audrey." ucap Darko.
"Iya emang, soalnya mereka berdua itu dulunya kan suka berantem." Ucapku.
"Tapi justru karena sering berantem mereka jadi saling suka hahaha.." ucap Darko, kami tertawa.
"Wah kalo gitu aku akan cari gara-gara dengan Amelia biar berantem en jadi pacaran.." ucap Vino, dasar Vino.
"Hahaha..., itu sih beda.." ucap Darko sambil ngakak. Aku cuma mesam mesem aja.
"Jadi kalian belum jadian." ucap Darko lagi.
"Dah deh Ko.." ucapku malas. Vino Cuma senyum aja. Darko masih tertawa kayaknya seneng banget ngeliat aku kesal.
"Hei seru banget ketawanya, bicaraain apa sih.." tiba-tiba Jesi muncul.
"Hei Jesi sudah datang, bareng siapa?" tanya darko.
"Tu Karina.." ucap jesi mata kami mengikuti arah tangan Jesi, ternyata Karina lagi ngobrol dengan Cesil.
"Ngobrolin apa sih kalian" ucap Jesi.
"Mau tau aja anak kecil.." ucap Darko.
"Yee.. Darko" ucap Jesi gemes sambil mencubit lengan Darko.
"Ehem..." Vino pura-pura berdehem, aku senyum.
"Kenapa lo.." ucap Darko pada Vino, aku dan Vino saling pandang. Kami tahu kalau Darko suka Jesi dan kalo ada Jesi kadang grogi gitu. Apalagi kalo Jesi dah di sampingnya pura-pura cuek padahal selalu ngelirik hihihi..
"Hai guys.." Karina menghampiri kami.
"Hai.." balas kami.
