Guru Matematikaku (Part 2)

7 1 0
                                        

Dimulailah penindasan oleh anak perempuan kelas G. Setiap melihatku mereka memicingkan mata dan terlihat mereka tidak suka padaku. Pernah juga mereka menyandung kakiku. Memang perempuan, kalau sudah urusannya begini ribet deh. Kenapa mereka tidak langsung saja bilang tidak suka daripada membuat suasana tak enak. Aku sih cool-cool saja, gak peduli mereka gimana padaku. Aku tetap cuek les matematika. Mereka berebutan ingin mengambil hati kakak. Tapi kakak juga kelihatanya risih kalau dekat mereka padahal kalau bersamaku kakak suka marah, cerewet, dan sering bercanda juga tapi kalau di depan anak-anak lain kakak pakai topengnya lagi yang sopan dan baik hati kalau sudah begitu, aku suka pura-pura tidak kenal kakak. Kakak sering kali membuatku tambah dibenci anak perempuan kelas G, misalknya waktu aku datang les, kakak langsung ceria dan bilang,

"Avrantsa! hari ini les matematika kan?" Sambil tersenyum cerah padaku, bikin silau.
Kalau dengan yang lain kakak acuh tak acuh terus senyum sopan aja. Hal ini membuat Bu Leni curiga padaku dan kakak, sehingga Bu Leni bertanya..
"Avra.. pacaran ya sama kakak?" Bu Leni bertanya bisik-bisik, takut kedengaran kakak yang ngajar di kelas.
Aku membelalak kaget.

"Oh.. tidak Bu, aku sama kakak terus guru dan murid saja," Aku tersenyum simpul.
"Begitu.. soalnya Ibu aneh kalau melihat kakak," Katanya khawatir.
"Aneh apanya?" Aku jadi penasaran.
"Ya begitu, kok sepertinya dia manggil Avra mesra sekali, dan tiap melihat Avra dia langsung bangkit dari tempat duduk dan menyambut dengan senang,"
Ya soal itu aku tidak kaget. Tapi menurutku tidak mungkin ah kakak suka padaku, mungkin dia hanya senang saja karena aku rajin.

Aku sering ingin kabur les kakak tapi gagal. Jadwal les matematikaku adalah tepat setelah jadwal les Bu Lili, guru bahasa Indonesia. Letak ruangannya di atas, sehingga kalau mau kabur aku harus turun tangga dulu. Aku bilang pada Bu Lili kalau aku cape gak akan ikut les kakak.

"Bu.. Avra mau pulang sekarang ya?" Kataku pelan.
"Loh? bukannya les matematika?" Bu Lili bertanya heran.
"Aah.. hari ini Avra cape Bu, mau bolos aja," Aku tersenyum jahil.
"Ya sudah cepat, sebelum ketahuan si kakak, ibu bolehin pulang," katanya.
Aku buru-buru mencium tangan Bu Lili, dan menyuruh teman-temanku untuk diam saat aku pergi juga tidak usah bilang, "daah" keras-keras. Aku berjalan sangat pelan tapi lebih mirp pencuri yang sedang mengendap-ngendap. Baru aku mau lari di tangga. Kakak tiba-tiba muncul di tangga dengan tangan dilipat di atas dada.

"Hei Avrantsa! kamu mau kabur ya?!" Dia menatapku kesal.
"Ahahahah.. enggak kok, saya terus.. mau pulang doang," Aku buru-buru lari melewati kakak, tapi kerahku dipegangnya sehingga aku tidak bisa kabur.
"Mau kabur ke mana?" Katanya sinis. Sial benar. Rencana bolos les matematikaku selalu gagal gara-gara kakak jaga di tangga. Pernah juga aku mau bolos les lagi. Sudah suruh temanku diam waktu aku mau bolos. Kakak sudah ada di depan pintu kelas Bu Lili.
"Ah.. sial," terus itu yang bisa ku ucapkan.
"Mau gimana juga kamu gak akan bisa bolos tahu!"

Kadang aku merengek bilang cape, kakak tetap seret aku belajar matematika. Semenjak saat itu kakak selalu jaga di depan pintu kelas Bu Lili, memastikan aku gak kabur dari les matematikanya. Sumpah aku gak ngerti. Adri sering bilang gak akan les matematika ke kakak, dan kakak mengizinkan! Kalau aku pasti langsung dicengkeram dan diseret ke kelas matematikanya. Gak ngerti deh! Kesal!

Akhirnya les bahasa inggrisku pindah jadwal! Ini karena aku tes kenaikan level dan sudah intermediate, jadi jamnya berubah jadi jam 5. Aku bisa minta pindah jadwal ke Bu Leni!

"Maaf Vra, Ibu gak bisa pindahin jadwal Avra," Bu Leni berkata lirih.
"Lah kenapa Bu? saya kan bisa jadwal Pak Hadi, biar saya bareng anak kelas B," protesku.
"Iya masalahnya itu.. kakak udah bilang kalau Avra minta pindah jadwal les, gak dibolehin,"
Lah.... tapi kenapaaaa? "Kenapa Bu?" Aku bertanya bingung.
"Ibu juga gak ngerti, Adri pindah jadwal ke Pak Hadi, kakak oke oke aja tapi katanya khusus kamu gak boleh pindah alasan apa pun,"

Kakak kayaknya tahu aku berniat pindah kelas makanya dia berpesan begitu ke Bu Leni. Benar-benar sulit dipercaya. Sampai jadwal les saja dia memastikan supaya aku gak pindah jadwal. Kakak hebat. Pengen nangis waktu itu rasanya. Terpaksa aku ikuti keinginan Bu Leni dan kakak. Aku jalani saja les dengan kakak. Meski kakak suka memberi soal yang di luar batas otakku. Sehingga aku jadi harus bertanya padanya. Kakak adalah guru yang baik dan sabar, hanya saja mungkin dia terlalu serius saat berhadapan dengan murid SMP, tidak seperti almarhum yang kadang suka bercanda. Kakak juga orangnya mood-moodan. Kalau lagi kesal dia sering cuek dan marah gak jelas padaku. Aku balas juga dia kalau kakak lagi ngeselin. Meski begitu aku tahu kakak sayang padaku. Sepertinya dia gak rela kalau aku pindah kelas. Kakak hanya punya waktu beberapa bulan lagi di Indonesia. Aku sendiri yang muridnya lupa kalau kakak akan melanjutkan studinya ke jepang.

Aku sering minta dikenalkan teman cowok kakak yang ganteng tapi kakak gak mau dan malah dengan jahatnya bilang.. "Mereka gak akan suka bocah seperti kamu!" Huh! bikin sebal padahal pesonaku sebagai perempuan gak jelek kok. Aku juga gak kelihatan seperti bocah kalau gak pakai baju SMP. Aku sering becandain kakak kalau kakak sangat ngefans padaku gara-gara aku gak boleh pindah kelas, kakak terus manggut-manggut aja. Kakak pernah bicarakan topik yang aneh denganku, misalnya soal pernikahan dan aku mau jadi apa.

"Hei, kita ini terus beda 7 tahun kan?" Kata kakak sok tahu.
"Enggak benar, umurku bukan 15 tahun Kak," Kataku.
"Memang kamu kelahiran tahun berapa?" pupil mata kakak membesar.
"1999 jadi umurku itu masih 13 tahun, aku dan kakak kira-kira beda 9 tahun," Kataku sambil mengerjakan soal.

"Hah?" Kakak kaget. Beneran kaget.
"Kakak kira kita terus beda 7 tahun yaaa.. jadi gak jauh gitu terus bisa nikah, ciyeeee," Kataku asal bunyi. Saat itu aku terus bercanda tapi kakak kelihatan syok dan diam saja sepanjang pelajaran. Terus tiba-tiba dia bertanya.
"Tapi kalau nikah kamu memangnya mau sama yang beda berapa tahun?"
Jujur saja. Menurutku itu bukan pertanyaan yang wajar ditanyakan kakak, tapi ku jawab juga.
"Beda jauh juga tidak apa-apa, yang penting dia cinta aku," Kataku cuek.

Kakak bertanya lagi kalau menikah aku mau punya anak berapa. Ini juga aneh sih, entah kenapa aku menjawab! "Sejak dulu aku ingin punya sebelas anak laki-laki, supaya bisa bikin kesebelasan sepak bola," Aku serius menjawabnya. Memang aku ingin punya anak sebelas. Kakak tertawa. Menurutnya aku aneh. Ya.. gak salah juga, mana ada anak SMP yang berpikir mereka mau jadi apa atau mau punya anak berapa tapi aku sudah begitu diajarkannya. Kalau hidup itu harus direncanakan sematang mungkin. Terus baru kakak tanya aku mau jadi apa.

"Aku mau jadi duta besar, atau keliling dunia tapi kerjanya gak usah cape-cape," Kataku sambil berkhayal.
"Terus nanti sebelas anakmu gimana?" Kakak tanya sambil cekikikan.
"Ya.. suruh pasanganku jaga anak-anakkulah,"
"Jadi kamu mau suami kamu yang ngurus rumah, terus kamu kerja keliling dunia begitu?"
"Ya inginnya begitu.."
Aku dan kakak itu aneh, kita bisa jadi sobat sesaat, hari lain bisa jadi musuh bebuyutan, atau bisa juga saling cuek. Aku cukup senang saat kakak bersikap apa adanya di depanku. Aku lebih suka kakak begitu.

Meskipun aku sering ribut sama kakak bukan berarti aku tidak sayang padanya. Aku sangat sayang padanya layaknya kakakku sendiri. Aku selalu ingin punya kakak lelaki yang menjagaku, tapi kenyataannya di rumah akulah kakak yang melindungi adik-adikku. Kakak jarang cerita tentang dirinya ataupun keluarganya, kalau aku lebih terbuka. Kakak dan aku itu seperti langit dan bumi. Entah bagaimana menjelaskannya tapi aku merasa lengkap berada di samping kakak. Aku pernah bilang kalau aku sangat sebal sama kakak. Waktu itu aku benar-benar kesal karena kadang kakak cuek atau bahkan bikin moodku jelek. Kakak selalu ada di sampingku untuk mengajariku matematika, dan aku begitu terbiasa dengan kehadirannya. Aku lupa kalau kakak akan melanjutkan studinya ke jepang.

Kakak sering bilang padaku kalau aku pasti akan kangen dengan dirinya saat ia pergi. Aku sering kali mengelak dan bilang hidupku akan damai tanpa kakak. Kenyataannya tidak begitu. Di bulan mei, kakak sudah pergi meninggalkan aku buku soal yang ia buat oleh dirinya sendiri. Ketika aku datang ke tempat les itu hatiku pedih, tidak ada almarhum juga tidak ada kakak di sana. Aku jadi uring-uringan dan agak malas karena tidak ada yang menghentikanku saat mau bolos les matematika. Aku benar-benar jadi rindu sama kakak. Aku tidak suka perasaan rindu, bikin ingin bertemu.

Keringat almarhum dan kakak jatuh di atas nilai ujian nasionalku. Nilai matematikaku 9,25 memang bukan 100 tapi untuk aku yang matematikanya sangat bodoh, aku sudah lumayan bangga mendapat nilai itu dengan usahaku sendiri. Sekarang aku sudah kelas 3 SMA dan sekolah di tempat kakak sekolah dulu. Sampai saat ini aku masih ingat kakak dan masih ingat jasa almarhum, buatku hal ini tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidup. Terima kasih bapak... terima kasih Kak.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang