Sialnya itu cuman harapanku saja. Masalah ini semakin kronis saja. Selang 4 hari dari problem coklat itu. Amel kembali mengadukepada ku. Namun kali ini sepertinya Yoyo tidak bisa dimaafkan. Ia sudah kelewatan. Yoyo telah menembak Amel. Yoyo mengungkapkan perasaannya melalui chat fb. Setelah kubaca pesan nya. Ternyata kalimat yang diucap Yoyo tidak berbeda dengan kalimat yang biasa ia gunakan untuk mengelabui wanita wanita lain. Spontan emosiku meninggi. "Nedul anj*ng!!" sambil memukul keras meja komputerku. Kemudian mataku melirik ke bola persahabatan kami. Lalu aku mengambilnya. Lalu melemparnya sejauh mungkin ke luar melalui jendela kamarku. Lemparan tadi secara tidak langsung sudah mengartikan bahwa persahabatan kami cukup sampai disini. Persetan dengan Medul dan Nedul.
Lalu aku keluar rumah, tujuanku tidak lain rumah Yoyo. Tangan ku sudah gatal ingin memukul. Tapi di tengah perjalanan aku memberhentikan sepeda motorku. Aku menepikan motorku di trotoar jalan. Aku membuka helm ku lalu membantingnya sekuat tenaga ke trotoar jalan. Aku tidak peduli dengan orang orang yang memperhatikan ku. Lalu aku menginjak injak helm itu hingga kaca pelindungnya pecah. Lalu aku menendangnya sekuat tenaga. Aku tidak sanggup jika harus menghajar teman yang sudah banyak membantuku. Yoyo tadinya sudah seperti saudara kandung buatku. Tapi kenapa bisa persahabatan kami menjadi seperti ini.
Kemudian aku pulang dengan masih memikirkan hal yang sama. Aku meninggalkan bangkai helm dan emosiku di trotoar jalan itu. Kini aku jauh lebih tenang. Aku masuk kamar dan duduk di depan sahabatku sebenarnya. Dia tidak lain komputerku. Aku membuka akun facebookku. Terlihat di deretan online akun Amel dan Yoyo sedang on. 2 orang yang berpengaruh besar tentang rusaknya helm tadi. Ada yang ingin kukatakan kepada Amel. Tapi sebelum itu, Amel sudah mengirim chat terlebih dahulu.
Amel: Yank kemana aja? Kok gada kabar?
awi: gak kemana mana. di depan komputer aja dari tadi.
Amel: lalu kenapa pesan amel gak dibalas?
awi: iya maaf. Lagi gak mood aja. sekarang awi yang nanya. boleh kan?
Amel: gak mood kenapa? Pasti ragara Yoyo itu kan. Dan yang ingin ditanya pasti juga tentang itu kan?
awi: iya iya. Kamu itu ya selalu aja bisa baca pikiran awi.
Amel: hehe, ya udah mau nanya apa tadi?
awi: hmm... Amel suka gak sama Yoyo? Kalau suka Awi rela kok.
Amel apaan sih, pertanyaan nya gah penting banget.
awi: ya awi kan Cuma mau tau.
Amel: amel serius dengan hubungan ini, jadi tolong jangan sekalipun ragukan amel. Jika memang amel ada niat buruk, kenapa harus amel beritahu kalau Yoyo nembak amel?
awi: maaf mel maaf. awi nyesal nanya gitu. Iya awi percaya. iya mulai sekarang awi gak akan ragukan amel lagi. awi janji.
amel: makasih ya yank :*
awi: :*
Kurasa sekarang aku hanya perlu bicara ke 1 orang lagi. ya Yoyo. Jangan sebut dia sahabatku. Mungkin mantan sahabat lebih tepat. Sekarang emosiku memang sudah reda, tetapi yoyo sudah mengajarkan aku bagaimana untuk membencinya dan mengajariku untuk menyimpan dendam untuknya. Yoyo tidak ada mengirimku chat, seperti tidak ada apa apa di antara kami. Mungkin sebaiknya memang harus aku duluan yang bicara.
Aw : Sebaiknya mulai besok menjauh la dariku. Bahkan aku gak mau denger napas kau. Karena aku gak mau punya temen serendah kw, yang bisanya nyakitin hati cewek. Dan semunafik kau yang bisanya nekong orang dari belakang. Salam hangat dari jari tengahku
Aku menulis kalimat itu tanpa ragu. Sudah tidak ada lagi simpati untuknya. Di pikiranku sudah terpikir kalimat kalimat yang selanjutnya. Untuk menjawab balasan dari Yoyo. Tapi ini sudah 15 menit berlalu. Inboxku tak kunjung dibalas. Tak lama akun nya hilang dari deretan online. Kupikir ia hanya off. Ternyata dia memblok fbku. Menurutku saat di dumay memblok akun lebih kasar daripada hanya menghapus pertemanan. Baiklah kalau itu permintaan nya, aku akan memperlakukan nya lebih dari memutuskan pertemanan.
Seminggu kemudian semuanya berjalan lancar, tak ada yang berbeda di hariku. Walau tak ada seorang sahabat. Kini Amel adalah pacarku sekaligus sahabat buatku. Dan ku ingin itu selamanya. Jika aku berpapasan dengan Yoyo, sudah tidak ada lagi sapaan hangat. Sekarang kami layaknya 2 siswa yang tidak saling kenal dan tidak mau untuk saling mengenal. Dan semenjak putusnya silahturahmi kami. Semenjak itu juga Yoyo keluar dari Pramuka. Ia sangat menghindari ku.
