Cinta Tak Pernah Salah (Part 1)

5 1 0
                                        

Senyum manisnya, suaranya dan gerak tubuhnya begitu menarik di mataku, entahlah ada apa denganku tapi melihat pria itu datang setiap pagi dan sore membuatku selalu betah memandanginya. Seperti sore ini pria itu juga datang ke cafe tempatku bekerja bersama gadis kecil yang memanggilnya ayah dan seorang wanita dewasa yang kuyakini sebagai istrinya. Mungkin aku sudah gila yah itulah yang kupikirkan tentang diriku sendiri bagaimana mungkin aku terpesona pada pria yang sudah berkeluarga ah bukan hanya terpesona saja, aku rasa sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya.

"Berhentilah memandangi pelangganku seperti itu" bisik seseorang di telingaku.
Aku berbalik mendapati orang yang berbisik adalah Andra kakak laki-lakiku sekaligus pemilik cafe ini. Aku manyun ke arahnya dan kembali memperhatikan pria itu.
"Lama-lama kepala pria itu bisa bolong karena selalu kamu tatap dengan mata lasermu itu Manda" bisik kak Siska.
Aku berbalik menatap kak Siska kakak iparku yang menatap ke arah pria itu juga. Yah kak Siska adalah istri kak Andra dan mereka berdua memutuskan mendirikan cafe ini setelah mereka menikah dengan menguras tabungan mereka sebagai pegawai bank bertahun-tahun. Aku melirik malas ke arah suami istri ini yang melarangku menatap pria itu tapi sekarang justru merekalah yang menatap pria itu. Aku menepuk pundak kedua orang itu agar kembali bekerja dan ampuh kedua orang itu langsung kembali ke posisi masing-masing, kak Andra kembali ke dapur sedangkan kak Siska kembali ke meja kasir.

Mouse cafe yah disinilah aku bekerja sebagai pelayan tapi sebenarnya aku lulusan secertary tapi karena aku tak kunjung dapat pekerjaan meskipun sudah hampir 2 tahun lulus jadi mau tak mau aku harus jadi pelayan di sini demi memenuhi uang saku yang kak Andra stop sejak aku lulus kuliah. Aku sudah tak memiliki orangtua sejak 10 tahun lalu hingga kak Andra lah yang membesarkanku, beruntung jarak usia kami sangat jauh jadi meskipun kami kehilangan orangtua kak Andra sudah sanggup membiayai hidup kami berdua hingga 2 tahun lalu setelah aku lulus kuliah barulah kak Andra menikahi kak Siska dan kami tinggal bersama di rumah peninggalan orangtuaku. Kak Andra dia segalanya bagiku orangtua, kakak dan teman yang baik beruntung dia mendapatkan wanita yang baik sebagai istrinya yang mau menerima dia sepaket denganku.

"Tante aku mau ke kamar kecil" suara kecil memanggilku menyadarkanku dari lamunan panjangku.
Aku melihat ke arah suara itu dan mendapati gadis kecil anak dari pria yang kupandangi ada di hadapanku. Aku berjongkok menyamakan tinggiku dengannya.
"Ada apa sayang?" tanyaku ramah.
"Aku ingin ke kamar kecil tapi orangtuaku belum selesai makan, kata ayah mengganggu orang yang sedang makan itu tidak sopan jadi maukah tante saja yang mengantarku?"
Aku tersenyum mendengar ucapannya, yah untuk anak sekecil dia anak ini pintar sekali ditambah lagi wajahnya yang cantik dan lucu seperti boneka membuat orang tak kuasa untuk menolaknya. Aku menggandeng anak itu ke WC restouran dan membantunya untuk buang air kecil setelah selesai aku membantunya cuci tangan.

"Anak manis siapa namamu?" tanyaku padanya.
"Namaku Syua usiaku 5 tahun" jawabnya riang.
Aku mengangguk menanggapi ucapannya yang begitu lucu. Aku membawa Syua ke luar dari WC yang ternyata sudah ditunggu orangtuanya.
"Oh Syu kenapa pergi tak bilang-bilang, ayah jadi khawatir" ucap pria itu mengambil Syua ke pangkuannya dan semua gerak-gerik itu tak luput dari pandanganku.
"Maaf nona putriku merepotkanmu" ucapnya padaku.
Mendengarnya berbicara padaku membuat kerja jantungku lebih cepat oh aku juga merasa pipiku menghangat ini gila bahkan mendengar dia bicara padakupun sudah membuat tubuhku bereaksi ekstrim seperti ini dan lebih gilanya lagi istri pria itu sedang menatap ke arah kami sekarang. Aku berusaha menormalkan perasaanku dan tersenyum padanya.
"Tidak apa-apa tuan itu sudah tugas kami" ucapku sambil menunduk menyrmbunyikan pipiku yang pasti sudah merah sekarang.

Mereka bertiga pamit meninggalkanku, mereka berjalan saling bergandengan tangan seperti layaknya keluarga bahagia. Ah... seandainya akulah yang ada di posisi wanita itu khayalku. Pluk... sebuah pukulan mendarat di kepala membuyarkan lamunan indahku.
"Yah aku tahu kau frustasi karena belum juga dapet kerjaan tapi gak usah sampe jadi patung penyambut di WC gitu" ucapnya tengil.
Aku mendelik ke arahnya, dia adalah Dimas temanku sejak kecil, keluarganya sudaah seperti keluarga juga bagiku. Tapi meskipun kami teman sejak kecil kami lebih sering bertengkar daripada akurnya karena Dimas itu orangnya super tengil dan hobi banget ganggu orang. Anehnya pertengkaran kecil di antara kami itulah yang membuat kami jadi sangat dekat.
"Udah daripada jadi patung disini mending siapin lamaran kerja gih gue punya lowongan kerja bagus nih"
"Serius loe, awas yah bohong lagi kayak waktu itu" ucapku sewot.
"Hahahaha... serius lah ini benar-benar lowongan jadi sekretaris di kantor bukan sekretaris pribadi di rumah kayak waktu itu."
Aku mendengus ke arahnya, masih ingat beberapa bulan lalu Dimas menawarkan pekerjaan padaku sebagai seorang sekertaris tanpa curiga aku mengikuti wawancara eh nyatanya mereka mencari asisten pribadi alias pembokat kontan aja aku ngamuk padanya gila aja ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau berakhir jadi pembokat juga. Sejak saat itu aku menolak Dimas carikan pekerjaan lagi.
"Amanda sekarang gue serius di perusahaan lagi cari sekretaris buat direktur baru pendaftarannya mulai besok. Kali ini gue gak bakal salah lagi soalnya ini perusahaan tempat gue kerja" ucapnya meyakinkan.
Aku tersenyum dan berkedip-kedip genit padanya.
"yah hentikan itu menjijikan" ucapnya sambil ngeloyor kepalaku.
"Dimas ganteng bantuin aku siapkan surat-surat lamarannya yah... yah..." ucapku sok imut.
Dimas memutar bola matanya jengah dengan tingkahku, yah beginilah aku bila minta tolong padanya harus bersikap sok imut hingga membuatnya pingin muntah saking sebelnya barulah dia mau bantu kalau aku bersikap biasa dia akan bilang punya otak gak kalau punya kerjain sendiri. Tapi kalau bersikap imut dia akan langsung memintaku berhenti bersikap aneh karena dia bilang sikap imutku membuatnya merinding dan sebagai imbalan aku berhenti bersikap imut dia akan menuruti perintahku aneh bukan? yah itulah dia Dimas dengan segala keanehannya yang sayangnya terlahir lebih pintar daripada aku.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang