Kesempurnaan. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupanku saat ini. Harta, paras yang cantik, fasilitas yang mewah, nilai yang selalu di atas rata-rata, dan kebutuhan hidup yang serba tercukupi, bahkan lebih cenderung berlebihan. Tidak seperti kebanyakan anak orang kaya yang orangtuanya selalu sibuk, ayah dan ibuku bahkan memberi perhatian kepadaku setiap hari. Mungkin menurut orang lain, hidupku terlalu sempurna. Banyak sekali orang yang ingin bertukar posisi denganku. Merasakan kenikmatan hidup yang aku miliki. Namun, sebenarnya aku belum sepenuhnya merasa tercukupi.
Bukannya aku tidak bersyukur, akan tetapi hal ini sungguh penting bagiku. Satu-satunya hal yang belum aku miliki adalah seorang teman yang tulus. Di mana pun aku berada, aku selalu dikelilingi banyak orang yang mengaku sebagai "temanku,". Namun aku sebenarnya sudah tahu, niat mereka tidaklah tulus menjadi temanku, tetapi mereka hanya menginginkan sesuatu dariku. Banyak orang munafik di sekitarku. Meskipun tahu begitu, aku diam saja. Aku tidak ingin membuat kesan yang buruk terhadap mereka sehingga aku semakin dijauhi. Karena hal inilah, aku selalu saja dimanfaatkan orang lain. Tapi aku tetap diam saja.
Tahun ajaran baru, semester baru. Hari ini aku memulai lagi kehidupan yang membosankan bersama teman-teman palsuku. Tetapi tetap saja, aku harus bersikap seperti biasanya di hadapan mereka. Saat ini aku kelas dua SMA, namaku Rika Angeline Takanashi. Namaku seperti ini karena ayahku berasal dari Jepang, dan ibuku asli Jawa. Ayahku adalah orang yang gila bekerja, sedangkan ibu lebih senang mengurusku di rumah, sehingga aku lebih akrab dengan ibu, meskipun seminggu sekali ayah selalu menelepon untuk menanyakan kabarku. Pada umumnya, sekolah di Indonesia mengosongkan pelajaran pada hari pertama semester baru. Tapi jangan harap bisa seperti itu di sekolahku. Sekolah elite yang selalu mengejar prestasi, hari pertama semester baru pun langsung diberi pelajaran. Hanya beberapa jam pelajaran yang kosong. Hari itu, aku belum menyadari kalau ada murid pindahan di kelasku. Aku baru tahu saat ibu guru mempersilahkan dirinya untuk memperkenalkan diri.
"Se-selamat pagi, namaku Zaskia Emi Kirana, kalian b-boleh memanggilku Ran, saya murid pindahan dari SMA N 1 XXX, mohon bantuannya,"
"Oh, murid baru ya?" Gumamku dalam hati.
Setelah memperkenalkan diri, dia kembali lagi ke tempat duduknya. Saat berjalan, dia selalu menundukkan kepala, mungkin karena malu. Ku lemparkan pandangan ke buku bahasa Jepang yang sedang ku pelajari, saat aku melihat anak baru itu, pandangan kami bertemu. Ada apa ini? Apakah dia mengawasiku? Ku lihat dia terkejut saat aku balas menatapnya. Dia langsung membuka-buka buku pelajarannya untuk menghindari tatapanku. Kemudian pelajaran bahasa Jepang pun dimulai. Tiga jam pelajaran sudah berlalu, bel istirahat berbunyi.
"Rika, makan di kantin yuk!" ajak Nova dan kawan-kawannya.
"Oh, kalian duluan saja, aku mau mengembalikkan buku ke perpustakaan dulu,"
"Yah, padahal pengen makan bareng sama Rika nih,"
"Maaf ya, lain kali saja,"
"Oke, sampai nanti ya, Rika!"
Usai berbincang dengan mereka, aku langsung menuju perpustakaan. Sekilas, aku melihat wajah yang tak asing bagiku. Anak baru itu, ternyata dia juga datang ke perpustakaan. Melihat kedatanganku, dia langsung menutup buku yang sedang dibacanya dan terburu-buru ke luar dari perpustakaan. Aneh sekali, biasanya orang akan tersenyum dan menyapa bila bertemu denganku, tapi ada apa dengannya? Apa aku berbuat kesalahan padanya? Yang terpenting, kenapa aku malah pusing memikirkannya? Bukankah seharusnya aku mengembalikkan buku? Waktu istirahat tinggal 15 menit lagi, sebaiknya aku membeli beberapa makanan dan minuman sebelum perutku kelaparan di pelajaran nanti.
"Kantinnya penuh sekali, sebaiknya aku makan di kelas saja,"
Saat aku berbalik, seseorang menabrakku dengan keras, sehingga minuman yang sedang ku pegang tumpah dengan dahsyat di baju putihku.
"Ya ampun, maafkan aku, sungguh maafkan aku,"
Seketika itu, banyak orang yang menatap kami. Sungguh, aku tidak suka jadi bahan perhatian. Kemudian aku menarik tangan orang itu, aku belum melihat wajahnya.
"Ayo, bicara di tempat lain saja," Perintahku
Aku membawa orang yang mengotori bajuku ke sebuah gazebo di depan perpustakaan. Kami pun duduk bersama. Betapa terkejutnya aku melihat siapa di depanku.
"Ran? Anak baru itu?"
"I-i-iya, sungguh maafkan aku, aku tak sengaja membuat bajumu kotor, tolong jangan laporkan aku ke guru, ini hari pertamaku di sekolah ini," pintanya dengan wajah tertunduk.
