Aku duduk di bangku halaman belakang rumahku, kenapa Andara bersikap seolah-olah kami tidak saling mengenal sebelumnya... Andara biasanya selalu bersikap hangat padaku. Teringat saat-saat di SMU, setelah kejadian Andara mengantarku pulang saat itu. Teman-teman di sekolah jadi membahas itu. Aku merasa tidak nyaman mereka tidak suka aku dekat Andara, tapi andara sepertinya tidak peduli dan tetap akrab denganku. Sampai pada sabtu siang itu, sepulang sekolah Andara mengajakku bicara karena aku suka ngehindar darinya.
"Kenapa kamu ngehindari aku Amel.." ucapnya.
"Mm nggak kok." ucapku gugup.
"Dari cara kamu menjawab aja aku sudah tahu kamu berbohong." ucap Andara.
"Kenapa aku ada buat salah sama kamu?" tanyanya, aku menggeleng.
"Lalu.." ucapnya.
"Mmm.. aku.." aku bingung ngejelasinnya.
"Apa karena gosip di sekolah ini?" tanyanya aku menatap Andara yang menatapku.
"Mmm iya.." ucapku akhirnya.
"Apa itu mengganggumu?" tanya Andara, aku diam aja.
"Bisa nggak kamu ncuekin semua itu." ucap Andara.
"Aku cuma merasa semua yang dikatakan mereka itu benar." ucapku.
"Benar.." ucap Andara.
"Iya." ucapku.
"yang mananya, apa yang mengatakan kalo aku itu melihat sesuatu seharusnya dari fisik aja?" ucapnya.
"Bukan bukan itu tapi kamu seharusnya bergaul dengan cewek yang sepadan denganmu.." ucapku.
"Itu sama artinya" ucap Andara.
"Aku pikir kamu beda ternyata aku salah.." ucap Andara lagi.
"Oke... aku akan jadi seperti itu, tapi kalau diperhatikan.." ucap Andara sambil mendekatkan wajahnya padaku.
"Kamu itu cantik.." ucapnya lalu merapikan rambutku yang biasanya selalu menutupi sebagian wajahku, aku menarik wajahku menjauh.
"Matamu yang coklat muda itu sangat menarik.. hidungmu juga mancung kamu juga tinggi jadi di poles sedikit pasti lebih cantik dari mereka-mereka itu." ucap Andara.
"Cuma kamu nggak pe-de." ucapnya lagi.
"Tapi tunggu dulu.. seharusnya kalau sebagai teman kan nggak harus memandang semua itu namanya juga teman siapa aja boleh.. Kecuali pacar itu yang harus spesial.." ucap Andara sambil bersikap sedang mikir, jantungku berdetak keras.
"Atau kamu suka aku.." ucap Andara aku kaget... Andara senyum. Aku gugup..Andara masih menatapku. Aduh gimana ni...
"Jawab.." ucapnya.
"Iiiya..., tapi aku nggak berusaha ambil kesempatan kok.." ucapku gugup Andara tertawa.
"Kok kamu jadi lancar bicara saat buat alasan." ucap Andara aku diam.
"Sudah nggak usah takut gitu.. Kalau kamu suka aku nggak apa-apa aku nggak bakalan memakanmu kok.." ucap Andara aku mempermainkan tali tasku rasanya pengen pergi aja dari depan Andara.
"Ayo pulang.." ajaknya.. Aku diam bingung dengan reaksi Andara..
"Ayo aku antar.." ucapnya lalu menarik tanganku dan Andara mengantarku pulang. Dia katakan setelah upacara senin dia mau bicara denganku.. Tapi semua itu tidak terjadi Andara tidak datang senin itu bahkan hari hari selanjutnya aku nggak tahu kenapa. Kata teman-teman Andara pergi ke luar negeri.. Kenapa dia berjanji padaku... kenapa dia tidak tepati.. Aku menunggunya sampai detik ini untuk menjelaskan semua tapi semua hanya harapan kosong...
Vino menatapku tajam, dia sedang bertamu di rumahku.
"Ini nggak benar lagi Mel, kamu kenapa jadi menjauh dari kami. Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Vino. Aku mendesah pelan. Aku sulit mengatakan apa yang kurasakan saat ini.
"Amelia.." ucap Vino, aku menatap Vino yang sedang menatapku. Vino menungguku bicara...
"Maaf kalau membuat kalian khawatir, aku jadi seperti anak-anak ya..." ucapku pelan.
"Mel.." Vino menatapku lembut.
"Aku...aku nggak bisa di depan Andara.." ucapku akhirnya.
"Andara..?" ucap Vino heran.
"Aku pernah cerita tentang cinta pertamaku padamu kan, dia itu Andara." ucapku sambil menunuduk.
"Tapi sepertinya Andara itu tidak mengenalmu sebelumnya." ucap Vino heran.
"Itulah yang membuatku binggung dan aku nggak bisa mengendalikan hatiku setiap melihat Cesil akrab dengannya.. Aku nggak ngerti kenapa respon Andara seperti ini." ucapku
"Jadi kamu masih mencintainya?" tanya Vino, aku mengangguk.
"Aku nggak tahan melihatnya terus di sisi Cesil tapi hanya dengan bertemu Cesil aku bisa melihatnya... Aku ingin selalu bertemu dia.. aku merindukannya.." ucapku terisak.
"Kenapa kamu nggak bicara aja langsung dengan Andara." ucap Vino.
"Aku begitu kaget bertemu dengannya dan juga kaget dengan responnya yang seakan-akan tidak mengenalku. Dan akhirnya aku tidak berani untuk bicara. Setiap ku menatap matanya tak ada riak apa pun di sana tidak ada kehangatan yang dulu di matanya membuatku tak mampu bicara." ucapku.
"Tapi kamu kan bisa bicara dan kalau kalian bicara kamu akan tahu kenapa dia seperti itu." ucap Vino
"Aku nggak bisa Vin, di depannya aku menjadi seperti dulu diriku saat SMU, diam dan tidak berani. Aku.. aku merindukannya yang dulu.. tapi kini tidak ada kehangatan lagi darinya untukku" ucapku
"Aku akan bicara ke Andara.." ucap Vino.
"Jangan.. jangan Vin, Andara nggak suka kalau aku menjadi pengecut dia lebih suka aku bertanya tentang apa pun padanya dari pada menggunakan orang lain." Ucapku.
"Kamu begitu peduli dengan dia tapi dia tidak peduli padamu.." ucap Vino.
"Andara nggak begitu." ucapku.
"Kamu masih bela dia.." ucap Vino kesal.
"Maaf Vin." ucapku.
"Kamu nggak perlu minta maaf padaku." ucap Vino, aku diam.
"Aku akan bicara padanya tapi tidak sekarang." ucapku pelan.
"Baiklah kalau itu maumu.." ucap Vino.
