Hingga Akhir Waktu (Part 1)

7 2 0
                                        

Merakit tujuan hidup ini memang tak semudah kita mengedipkan mata. Yang hanya satu kedipan tak dapat memakan waktu satu detik untuk kita lakukan. Namun apa daya Tuhan yang maha kuasa telah mengkaruniai kita sebuah harapan untuk hidup di alamnya dengan retorika kehendaknya. Tanpa ada asbabmusabbabnya aku tak bisa mengelakkan diri dari kenyataan yang ada. Dirimu memang selalu ada dalam pikiranku.

Begitu juga dengan dirimu yang tak pernah bosan memikirkanku setiap waktu yang bergulir di sela-sela jam tangan tuamu. aku mengerti tentang keadaanmu saat ini. Kau membiarkanku hidup menjauh darimu agar kau bisa terfokus dengan tugas-tugasmu yang tak bisa ku hitung dengan jari jemariku yang mungil ini. Mungkin teman-temanku mengira kau tak sayang lagi padaku, kau tak cinta lagi padaku, bahkan kau tak ingin diganggu lagi dengan kehadiranku.

Mereka telah berprasangka buruk padamu dengan sikap yang kini kau tumpahkan padaku. Yang dulunya kau begitu menginginkan kehadiranku kapan pun dan di mana pun kau berada, yang dulunya kau selalu menyuruhku untuk mendampingimu setiap kau pergi jauh. Apa ini gara-gara aku sudah beranjak dewasa dan kau malu untuk membawaku ke mana saja? Apa aku ini terlalu pantas untukmu kau jadikan kekasih hingga kau harus malu memiliki kekasih sepertiku?

Apa mungkin kau kira saat ini aku mungkin memiliki kekasih yang butuh kasih sayangku padanya daripada dirimu? Aku telah banyak memakan prasangka-prasangka yang begitu menyakitkan diriku. Kau seorang lelaki sedangkan aku seorang wanita yang setiap hari mengemis dan tak pernah dinaungi sebuah cahaya sejak dirimu mengasingkanku. Jarak kita terpaut jauh di seberang pulau yang begitu memakan setiap keras keringat untuk mencapainya.

Sebongkah harapan dalam lubuk hatiku tersimpan dan tertata rapi hanya untukmu. Mungkin kau tak mengetahuinya jika aku memendam sebuah pengharapan yang mustahil akan terwujud di antara kita. Ku ingat tentang masa-masa bersamamu saat diriku menginjak usia remaja. Tiada yang ku kenali seorang laki-laki hanya selain dirimu. Ku lihat dan ku telaah segala apa yang ada pada dirimu. Aku percaya apa yang kau miliki mungkin tak jauh beda dengan apa yang dimiliki laki-laki di luar sana.

Saat masa-masaku seperti ini yang mengalami masa pemindahan dari anak-anak menjadi remaja, teman-teman lebih tepat menyebutmu sebagai kekasihku. Karena masa ini memang teman-temanku mengalami sebuah hasrat yang berbeda dari masa mereka dahulu. Kini mereka lebih banyak mengenali cinta, namun persepsi mereka tentang cinta ialah sebuah hubungan yang harus dijalin antara wanita dan laki-laki. Hingga lebih tepatnya mereka menjuluki diri mereka masing-masing yang sedang dilanda mabuk cinta dengan sebutan PACARAN.

Aku tak bisa mengelak dengan apa yang mereka katakan kepadaku saat kau selalu bersamaku menuju sekolah. Kau seperti kekasih yang selalu berada di sampingku menuntun untuk masuk ke kelas, kau seperti Ayah yang memberiku nasihat-nasihat dan masukan saat ku merasa ada masalah dengan teman-teman, bahkan kau seperti suamiku yang selalu setia memberikan kebutuhan yang ku inginkan. Namun bukan hubungan yang lebih mendalam. Tapi hubungan kasih sayang layaknya suami istri.

"Lin, kau akan mengerti semuanya setelah kita hidup berjauhan."

Ucapanmu seakan menganggapku seperti kekasih yang akan berpisah selama-lamanya. Namun terkadang juga kau berucap seperti menganggapku sebagai anakmu sendiri. Aku tak mengerti dengan apa yang dia omongkan padaku sejak dua tahun lalu. Dia yakin diriku akan pergi meninggalkannya setelah aku tamat SMA dan melanjutkan studiku di jenjang perkuliahan. Aku saat itu yakin bahwa aku akan kuliah di sana dengan biaya dari dirimu sendiri. Namun kenyataannya tidak.

Kau memang benar. Aku mengerti kenapa kau bersikap seperti kekasihku saat itu. Kau tiba-tiba bersikap seperti Ayahku sendiri, dan kau bersikap seperti suamiku yang hidup bernaung di satu rumah yang begitu mewah. Dan apa yang kau katakan sekarang memang benar, aku hanya hidup hanya dengan dirimu saja yang menerimaku apa adanya. Kita tak memiliki ikatan yang resmi, tak memiliki darah yang sama, dan tak memiliki garis keturunan yang mengikat di antara kita.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang