Pagi Tanpa Mentari (Part 1)

7 1 0
                                        

Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah-celah jendela membangunkannya dari mimpi indahnya. Mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan jika di dunia nyata. Mimpi yang membuatnya tegak berdiri di dunia yang melelahkan. mimpi yang selalu menghadirkan harapan bagi hidupnya. Mimpi yang selalu datang bersama seraut wajah dengan senyum manisnya. Wajah yang selalu dia lihat sehari-hari meski wajah itu tak pernah melihat ke arahnya. Wajah yang selalu tersenyum ke semua orang yang ada di sekitar tetapi tidak untuk dia. Awan, itulah namanya. Seperti Awan yang terombang–ambing mengikuti kemana arah angin berhembus, seperti itulah kehidupannya. Hanya memandang ke satu arah dan mengabaikan arah yang lainnya dan hanya menuju satu arah tanpa tau tujuannya. Kehidupan yang banyak orang tidak menginginkannya, mengagumi tanpa dicintai.

Pagi ini diawalinya dengan mengahiri mimpi indahnya, dia bergegas beranjak dari tempat tidurnya dan dengan langkah yang sigap segera menuju ke kamar mandi. Dalam hatinya dia berkata, bahwa hari ini dia akan bertemu dengan gadis pujaan hatinya. Lista, seorang gadis yang berada di universitas yang sama dan jurusan yang sama. Dia sering dan sengaja masuk kelas terlambat, demi bisa melihat wajah Lista dari depan, dia sering maju ke depan mengerjakan tugas di depan meski dia tidak terlalu paham, hanya untuk melihat wajahnya, dan dia selalu pergi ke tempat parkir terlebih dulu untuk memutar sepeda motor Lista agar mudah keluar, kemudian dia naik di pagar lantai dua tepat di depan lapangan parkir untuk melihat Lista mengeluarkan sepeda motor yang posisinya sudah dia ubah agar mudah untuk mengeluarkan dari tempat parkir yang sempit. Jika Lista melihat sekeliling mungkin mencari tau siapa yang memindahkan motornya, Awan selalu bersembunyi di balik tiang.

Semua itu berlangsung untuk waktu yang lama. Semua kegiatan itu sudah menjadi kebiasaannya selama tiga tahun dia dan Lista kuliah di tempat itu. Suatu ketika saat Awan ingin memindahkan motor Lista, dia melihat sebuah kertas yang dilipat rapi berada di dashboard motor matik milik Lista. Dia memutar motor Lista dan mengambil kertas itu lalu dia beranjak pergi ke tempat dimana dia biasa memperhatikan Lista di lantai dua. Dia membawa kertas itu dengan pikiran akan menjadikan kertas itu sebagai kenang-kenangan untuknya yang tidak berani mengungkapkan isi hatinya. Tetapi alangkah terkejutnya dia membaca tulisan di kertas itu. "aku tidak tau siapa kamu tetapi terima kasih sudah memindahkan motorku ke tempat yang aku mudah mengambilnya. Ingin aku melihatmu jika kau mengijinkan hanya untuk mengucapkan terima kasih" itulah isi surat yang dia baca. Tetapi Awan tidak juga muncul atau mengakuinya, tetapi surat itu akan menjadi sesuatu hal yang berharga di dalam hidupnya. Awan berpikir bahwa surat itu akan menjadi rambu-rambu untuk menuju ke tujuan yang sejak dulu dia tidak tau arah yang akan diambilnya.

Tahun terakhir berlalu dengan kebiasaan yang masih seperti biasa. Masa-masa kuliah sudah akan berakhir untuk mereka. Awan berpikir bahwa dia akan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Dan hari wisuda dia pilih sebagai hari yang akan menentukan hidupnya. Dia berharap hari itu tidak akan hanya menjadi hari yang akan menunjukan dia kepada karirnya tetapi juga hari yang akan merubah masa depannya dalam kehidupan cinta. Setelah upacara wisuda selesai, dengan segenggam bunga yang sudah dia siapkan, diberi wewangian dan sepucuk surat yang dulu dia ambil dari motor Lista. Dia berjalan ke arah Lista yang sedang melakukan sesi foto bersama teman-temanya. Rasa gugup membuat Awan tidak bisa berkata-kata. Tanpa sedikitpun kata, dia menunjukan surat itu kepada Lista. Lista menerima surat itu dengan banyak pertanyaan di benaknya. Seseorang yang sejak dulu tidak pernah berbicara padanya tiba-tiba memberinya sepucuk surat.

Lista membaca surat itu, raut muka yang tadinya penuh pertanyaan seolah luntur dan berubah menjadi sebuah senyum kecil. "ini tulisanku satu tahun yang lalu yang aku taruh di motor." Kata-kata yang muncul dari mulut mungil Lista setelah melihat tulisan itu. "aku orang yang kurang ajar itu. Tanpa permisi aku memindahkan motor kamu. Aku masuk telat hanya utntuk melihat wajahmu walau sepintas. Aku meju ke depan mengerjakan tugas untuk melihatmu meski akau jadi bahan tertawaan. Dan akulah orang tak tau diri itu yang tanpa ijin aku telah menuliskan namamu dalam hatiku." Awan dengan nada terbata-bata mengucapkan kata-kata itu dengan tegas. Detak jantung Awan pun semakin kencang menanti kata apa yang akan muncul dari mulut Lista. Tetapi dengan muka yang muram Lista kembali bertanya pada Awan "apa maksud kamu dengan semua ini?", "aku yang selama ini menatap ke arahmu meski kamu tidak, aku yang selama ini melangkahkan kaki ke arahmu meski kamu melangkah menjauh. Aku mencintaimu sejak pertama aku melihat kamu. Maukah kamu menerima cintaku padamu?" Awan menjelaskan maksud dan tujuannya datang mendekat pada Lista. Dia telah mempersiapkan diri dengan semua jawaban Lista setelah dia melihat raut wajah Lista. Dengan wajah yang semakin muram dan nada yang keras dia menjawab pernyataan Awan "maaf, kamu salah sangka. Aku menulis ini karena ingin mengucap terima kasih. Tak ada niat apapun untuk menjalin hubungan denganmu. Maaf, tapi tolong jangan dekati aku lagi." Setalah kata-kata itu terucap dari mulut Lista, dia bergegas melangkahkan kaki pergi meninggalkan Awan sendiri dengan keputus asaan itu.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang