Penampakan Cinta Ala Jacki (Part 2)

4 1 0
                                        

"HARUSKAH AKU BERSUJUD DIKAKIMU, UNTUK MEMINTA MAAFMU?... KUTITIPKAN NAFASKU DI JANTUNGMU, AGAR KAMU TAU BETAPA SESAKNYA DADAKU MENAHAN RASA RINDU... BUKALAH PINTU HATIMU, JANGAN BIARKAN RINDUKU MENUNGGUMU BEGITU LAMA... SEBENCI APAPUN DIRIMU PADAKU, AKU AKAN TETAP DI SINI MENUNGGUMU MEMAAFKAN AKU... JIKA AKU TAK BISA MEMILIKIMU, MAKA TAK ADA SATU HATIPUN YANG BISA MENGIKAT CINTAMU... bla... bla.. bla..."
Untuk kesekian kalinya aku membaca satu demi satu kalimat puitis di dinding kamarku, sudah hampir jam 12 malam, tapi mataku belum juga mampu terpejam. Aku benar-benar dibuat lelah dengan semua kelakuan Jacki padaku. Seperti orang yang kurang kerjaan, Jacki selalu membuntuti aku kemanapun aku pergi. Gak di tempat kerja, kos, supermarket seberang jalan, kedai kecil di jalan-jalan dekat kosku, selalu ada Jacki. Ibarat hantu penasaran yang tiap saat menampakkan batang hidungnya dimana-mana.

Zzzzz... zzzzzzz... Hp ku tiba-tiba bergetar. Lamunanku buyar seketika. Ada sms masuk, dengan sentuhan kecil di hp, aku membaca sebuah sms dari nomor yang tak kukenal.
Hai Mira, aku sahabatmu Lala. Maaf jika aku mengganggumu, Cuma mau kasi tau, aku mengirimimu email, tolong dibaca ya. Big Hug, your sister.. Lala.
Aku tersentak membaca sms itu. Lala? Apa kabarnya sekarang. Sejak kejadian itu, aku telah menutup diri dari Lala dan juga Jacki. Lala sahabat terbaiku dari kecil hingga aku dewasa. Hanya karena kejadian itu, persahabatan kami jadi hancurrr berantakan, mungkin ini yang dinamakan, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Mungkin juga semua ini terjadi karena aku terlalu menutup diri dari mereka, bagaimanapun gigihnya mereka ber dua untuk berusaha menjelaskannya padaku tapi aku tetap tak percaya. Aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat saat itu, dan itu adalah bukti yang cukup kuat untuk tidak memaafkan mereka dari semua ini.

Dear my sister, jika kamu membaca emailku ini, berarti aku sudah tidak ada di pulau tercinta ini. Seperti yang pernah aku katakan kekamu sebelumnya, kalau aku pernah mengikuti beberapa tes dan interview untuk bisa bekerja di Luar negeri. Dengan bantuan salah satu LSM, aku mendapat biaya untuk meloloskan cita-citaku. Sayang sekali kamu tidak ada disampingku saat kabar bahagia itu aku terima. Jadi kita tak sempat merayakannya.

Mira, aku bersumpah jika aku tak pernah menodai persahabatan kita dengan berkhianat padamu. Apa yang kamu lihat saat itu tak seperti yang kamu bayangkan. Jacki sangat mencintaimu. Aku dan dia berada di toko bunga itu, karena Jacki meneleponku. Dia ingin membuat sebuah pesta kejutan yang penuh bunga saat ul-tahmu. Kamu beruntung karena dia sangat romantis. Jacki memesan begitu banyak bunga untuk itu. Aku mengajarinya bagaimana cara memberikan bunga kepadamu agar penuh kesan romantis di hari ultahmu. Saat itulah kamu lewat dan melihat adegan yang sebenarnya akan dia praktekan di hadapanmu kelak. Bunga itu untuk kamu bukan aku. Jika kamu tak bisa memaafkan aku, bukalah maafmu untuk Jacki, karena dia tulus menyayangi kamu.

Eh satu lagi, aku mau minta maaf, selama ini aku yang berusaha mencari tau keberadaanmu, apa yang kamu lakukan, di mana kamu berada, dan semua informasi ini aku kasi ke Jacki, karena dia tak mau melewatkan satu haripun tanpa dirimu. Tempat kosmu itu adalah rumah bibiknya Iwan, sahabatmu. Dinding yang penuh kata-kata puitis itu semua hasil karya Jacki, dan hotel tempat kamu bekerja sekarang, juga ada kaitannya dengan Jacki, nanti tentang semua ini biar Jacki yang menjelaskannya ke kamu ya. Tapi tolong jangan salahkan Iwan, aku yang memaksanya untuk memberitahu keberadaanmu. Karena itu tolong berikan Jacki kesempatan untuk menjelaskannya. Happiness day sis, big hug for you, muach... muach...
Love Lala.

Email yang singkat, padat namun cukup jelas. Aku jadi merasa agak bersalah pada mereka terutama Lala. Waktu itu aku memang melihat Jacki berlutut di sebuah toko bunga sambil menyerahkan setangkai bunga mawar pada Lala yang terlihat menahan senyumnya. Jika apa yang aku pikirkan saat itu benar, Jacki menyukai Lala, lalu mengapa Jacki masih mengejar-ngejar aku. Bukankah seharusnya dia bahagia kalau aku pergi dari dalam kehidupannya, tapi ini malah sebaliknya. Uffffffffffff... aku jadi bingung dibuatnya. Malah gak konsen kerja nih. Tapi sekarang sudah terlambat adanya, Lala sudah pergi, dan mungkin Jacki juga marah padaku, karena sejak aku mendorongnya di jalan itu dan berlari menghindari dia, Jacki tak lagi menampakan batang hidungnya, dia seperti lenyap ditelan bumi.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang