Di tepi kolam yang tenang, seorang wanita sedang membasuh wajahnya yang putih nan bersih. Tampak tak seorang pun berani mendekati wanita itu yang lain hanya bisa menunggu wanita itu dari kejauhan. Wanita itu berjalan menuju ke tengah kolam tanpa menyadari bahwa seseorang yang tepat berada di belakang pohon pinus telah siap untuk melontarkan anak panahnya. Ketika anak panah itu melesat, gerakan tangan wanita itu pun menghentikan anak panah tepat di depan wajahnya. Semua orang yang ada di sana takjub sekaligus takut.
Lalu tak lama kemudian anak panah itu patah. Si wanita hanya tersenyum sinis lalu kembali ke pinggir kolam dan mendekati seorang pemanah berjerawat di pipi. Wanita itu memegangi leher sang pemanah. Lalu ia melepaskannya. Beberapa menit kemudian, sang pemananh menjerit kesakitan. Sang wanita hanya tertawa lepas. Lalu ia mengayunkan jari telunjuknya ke arah sang pemanah, lalu sang pemanah berhenti berteriak dan memohon ampun. Wanita itu tersenyum dengan lembut. Lalu ia mendekati pria itu dan berbisik.
"Jika kau berani melakukan itu lagi, tak segan akan ku penggal kepalamu dengan satu ayunan tanganku." Kata wanita itu yang segera berlalu.
Semua orang yang di situ langsung menolong sang pemanah. Ia membawa sang pemanah kepada seorang tabib. Tabib itu hanya menggeleng. Ketika ia melihat sebuah lingkaran hitam di leher sang pemanah, sang tabib pun berteriak. "Siapa yang lakukan?" Serunya kepada kerumunan orang. Seorang gadis kecil berkata.
"Seorang monster. Ia mengayunkan tangannya dan sang pemanah kesakitan." Ujar gadis itu jujur.
Mata sang pendeta terbelalak. "Shenxiang. Apa sudah waktunya?" Gumam sang tabib. Semua orang heran melihat raut wajah sang tabib.
"Hyesun, cepat jaga pria ini." Ucap sang pendeta memanggil seorang pelayan laki-laki bertubuh kekar dan berpakaian compang-camping. Sang tabib segera pergi dari kliniknya dan menuju ke hutan selatan dengan kuda putih kesayangannya.
Sang tabib tiba di sebuah hutan dengan ribuan bambu yang terbentang luas.
"Shenxiang!" panggilnya. Tak seorang pun menjawab. "Shenxiang." Teriaknya lagi, namun kali ini hanya bunyi dedaunan bambu yang ada. Tiba-tiba sebuah tangan halus menggenggam erat tangan sang tabib. Sang tabib yang terkejut langsung melepaskan genggaman tangan tersebut.
"Shenxiang." Ucapnya sedikit gugup. Wanita itu hanya tersenyum lalu mulai duduk di ata batang bambu yang melengkung ke arah bawah.
"Ada apa kau kemari tabib Chen?" tanya Shenxiang.
"Kenapa kau ganggu dia?" tanya tabib Chen.
"Aku tak mengganggunya jika ia tak menggangguku. Mereka menggunjingku, mencoba membunuhku apa kau tahu, rasanya setiap kali kau datang mereka akan menggunjing, menjauhiku dan mencoba membunuhku. Aku sama seperti mereka hanya saja aku sedikit berbeda dari mereka, Kakek. Aku mencoba hidup dengan mereka. Berbaur, tetapi mereka malah menghindariku seolah aku ini hewan buas yang jika didekati maka aku akan menerkam mereka. Kakek, aku tak mau hidup seperti itu. Dia bukanlah tandingan untukku. Sang pemanah itu, berikan saja dia ramuan gingseng agar dia lekas sembuh. Dia tak apa hanya syok belaka." Ucap Shenxiang panjang lebar yang membuat tabib Chen kehilangan kata-kata.
"Apa yang kau mau Shenxiang?" Ucap tabib Chen.
"Kakek, aku ingin menjadi manusia seutuhnya. Aku tidak ingin terus saja menjadi manusia separuh rubah. Kenapa dulu Ayah menikah dengan Ibu yang jelas betul seeorang siluman rubah?" Tanya Shenxiang seraya menghapus genangan air di matanya.
"Kakek tahu Shenxiang. Kakek akan cari cara agar kau berubah menjadi manusia." Janji tabib Chen.
"Berjanjilah Kakek."
"Kakek berjanji. Sementara Kakek memintamu untuk tinggal di sini. Tunggu Kakek hingga Kakek kembali."
"Baik." Ucap Shenxiang senang.
Tabib Chen segera berbalik pergi. Shenxiang pun menurut. Ia pun langsung masuk ke sebuah batang bambu dan bermukim di batang bambu. Tabib Chen kembali dengan raut wajah yang sedikit sendu. Tak banyak kata yang ia ucap hari itu setelah ia bertemu dengan Shenxiang. Setelah memberikan ramuan gingseng, Tabib Chen pergi ke seorang biksu. Biksu itu diam dan menganggukkan kepala ketika mendengar cerita tabib Chen.
"Shenxiang, adalah cucumu." Kata biksu. Tabib Chen hanya mengangguk.
"Seorang Gumiho." Ucap biksu.
"Benar." Ucap tabib Chen sedikit gugup. Biksu itu berlalu menuju ke sebuah rak buku yang terletak di pojok ruangan.
