Hal yang paling romantis dari hujan ialah dia selalu mau kembali meski tahu rasanya jatuh berkali-kali. Seperti hujan di malam hari, yang tetap jatuh ke bumi meski tidak menjanjikan pelangi.
"Selamat ulang tahun ya Kay. Udah tujuh belas tahun aja. Moga semua keinginan dan cita-cita loe tercapai. Dan yang terpenting, moga jahilnya gak menjadi-jadi." Ucap Ray sambil memeluk gadis bergaun merah yang terlihat semakin manis dengan ikal-ikal rambutnya yang tergerai indah di bawah bahu.
"Aa.. makasih sahabat gua tercinta, Rain Ava Alexis alias Ray ku tercinta. Maafin gua karena sampe saat ini, gua gak berharap untuk bisa berhenti ngejahilin loe." Jawab Kayla Camille sambil mencubit pipi sahabatnya itu. "Lagipun, sehari aja gak ngejahilin loe, hidup gua hampa banget."
"Terserah loe ya Kay. Berhubung loe ulang tahun hari ni, sah-sah aja dah buat loe. Udah ah, gua mau cari tempat duduk. Mau makan, laper gua. Sengaja gak makan biar puas makan gratis disini, sekalian, kali aja ketemu jodoh di sini." Jawab Ray sambil tersenyum kecil.
"Dasar gak tau malu. Sono lu. Habisin aja sama baskom-baskomnya. Ngomong-ngomong soal jodoh, mana jodoh?" Kayla menoleh ke kiri dan kanan dengan gerakan cepat sambil menyipitkan mata, seolah jodoh itu tidak akan pernah bisa dilihat dari dekat.
"Terserah loe dah." Ray mengeluyur pergi tanpa menunggu jawaban gadis yang berulang tahun.
Ray berjalan ke tengah-tengah ruangan. Ia berhenti sejenak, memanjakan matanya melihat ke sekeliling ruang pesta yang indah dengan hiasan serba merah putih. Mulai dari balon yang di tempelkan di setiap sudut ruangan dengan pita merah putih yang menghubungkan balon-balon di setiap sudut. Kain merah putih tipis yang digantung berkibar-kibar ditiup angin. Semua perpaduan ini meembuat Ray merasa bagai berdiri di aula istana raja. Kayla sengaja memilih tema merah putih karena tanggal lahirnya yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Lampu kaca di tengah langit-langit ruangan bersinar terang memancarkan kilauannya. Meskipun ruang pesta serba putihlah yang menjadi impian Ray, namun, Ray mengakui bahwa nuansa merah putih bukan ide yang buruk. Di tengah-tengahnya, ia masih dapat membayangkan kehadiran seorang pangeran tampan yang mengajaknya berdansa di tengah keramaian pesta.
"Hai Ray!" sapa Abigail Casey. "Udah datang dari tadi?"
"Eh hai bii. Be.. belum kok." Jawab Ray tergagap karena masih terkejut dengan sapaan Abigail yang tiba-tiba. Sebenarnya Abigail tidak dengan mendadak menyapa Ray. Hanya saja, tak sengaja, Ray hanyut dalam pikirannya, mengagumi indahnya pesta ulang tahun Kayla. Ray mengerjapkan matanya sekali lagi agar ia tersadar sepenuhnya dari lamunannya.
"Ray, loe baik-baik aja kan?"
"Eh? gua? Iya, baik-baik aja. Kenapa? By the way, gaun putih loe bagus deh. Rambut loe juga. Bagus disanggul begitu. Jadi kesannya kayak putri-putri raja."
Abigail memang kelihatan cantik malam itu. Gaun putih dengan hiasan permata menghiasi kulit cerahnya. Postur tubuhnya yang terbilang pendek tidak menjandi kekurangannya. Bahkan, ia terlihat imut.
"Ah, kebanyakan dongeng loe mah. Itu mata loe sembab begitu kenapa? Habis nangis loe?" Tanya Abigail menyadari ada yang berbeda dengan mata Ray.
"Eh si mata. Jeli banget dah. gua Cuma kurang tidur. Emangnya hidup gua penuh tangisan apa? Uda cukup ya gua nangis-nangis ditinggalin mantan gua yang gak seberapa itu." Jawab Ray sambil memutar bola matanya.
"Ceilah.. baru sadar dia, kalau mantannya gak seberapa." Abigail mendengus.
"Ah ya sudahlah. Loe datang sama siapa Bii? Bawa cogan ga?"
"Apaan cogan?"
"cowok ganteng.."
"Nih adek gua.. mau loe? Kalau mau nih Arka." Abigail menoleh ke anak laki-laki jangkung yang berdiri tepat di belakangnya
Sesaat setelah Ray menoleh ke arah Arka, Ray diam seribu bahasa. Ia tidak mengerti kapan adik laki-laki temannya itu bisa tumbuh setinggi itu dan yang terpenting, ia... tampan... Ray ingat betul, terakhir kali ia bertemu Arka, Arka adalah bocah laki-laki pendek, hitam dan kekanak-kanakan. Sama sekali tidak menarik perhatian. Namun, yang saat ini berdiri di hadapan Ray adalah Arka dewasa, yang memakai kemeja putih, dengan poni-poni rambutnya yang terpotong rapi, jatuh menutupi dahinya. Hidung mancungnya, mata sipitnya dan bibir tipisnya, terkombinasi dengan baik mengisi wajah mungilnya. Mungkin kulit Arka tidak berubah menjadi lebih cerah, tapi, satu hal yang diketahui pasti oleh Ray adalah dia sangat manis. Untuk sesaat, indahnya ruang pesta Kayla, dentum musik disco, suara tawa yang melengking juga denting gelas-gelas kaca yang sempat mengganggu telinga Ray beberapa saat lalu, terlupakan untuk sementara. Ia sungguh terhipnotis dengan perubahan yang ada pada diri Arka. Ray mengangkat sebelah tangannya ke dada, merasakan degup jantungnya sendiri, sambil bertanya pelan, "apa kau pangeran yang diutus untuk menemani pestaku?"
