Andara... kenapa kamu tiba-tiba ada di sini...
"Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Ada apa, kamu baik-baik aja?" tanyaku heran sudah jam segini Andara datang ke rumahku.
"Maaf mengganggumu, aku terlalu malam bertamu ya." ucapnya.
"Mmm.. ada apa, ayo duduk dulu.." ucapku.
"nggak usah Mel, aku sebenarnya dari tadi sudah di sini tapi kulihat kamu dan vino ngobrol aku takut menganggu." ucapnya, jadi dia menunggu sampai Vino pulang.
"Aku cuma katakan, kalau aku merindukanmu.. Aku nggak bisa menahanya karena itu aku ada di sini dan melihatmu berdua dengan Vino membuat hatiku sakit. Maaf.." ucapnya, aku melihat Andara dia terlihat sangat sakit. Kenapa Andara apakah kamu memiliki perasaan yang sama seperti perasaanku juga.
"Aku pulang dulu.." ucap Andara, sambil berbalik.
"Andara.." panggilku.
"Kamu nggak perlu mengatakan apa pun saat ini. Besok mungkin hatiku lebih baik dan saat itu kamu boleh mengatakan apa pun yang kamu mau.." ucapnya sambil tetap membelakangiku. Kenapa aku merasa Andara akan pergi seperti saat itu.. Saat dia berjanji akan menemuiku selesai upacara di sekolah..
"Andara.." panggilku lagi, tapi Andara melangkah pergi. Ternyata motornya diparkir di luar pagar. Aku berjalan mendekatinya tapi sebelum aku sampai ke dekatnya motornya melaju pergi. Andara...
Aku nggak konsentrasi dengan pekerjaanku hari ini, teringat Andara. Sepulang kerja hari ini, aku menelepon Andara tapi handponenya non aktif. Aku mau menelepon Cesil tapi.. Dan aku kaget saat handponeku berbunyi dari Cesil.
"Hallo.." ucapku
"Kakak.. datang ke Rumah Sakit Permai sekarang.." ucapnya
"Ada apa?" tanyaku jantungku berdetak lebih cepat.
"Bang Andara kemarin kecelakaan.." ucap Cesil.. Aku kaget, tanganku gemetar Andara..
"Kak.." suara Cesil memanggilku
"Ya.." ucapku lalu segera pergi ke rumah sakit.
Saat di rumah sakit, keluarga Andara berdiri di depan ruangan Andara. Cesil ada di antara mereka lalu Cesil menghampiriku. Lalu mengenalkan aku pada keluarga Andara.
"Kak, bang Andara belum sadar.." ucapnya lalu kami melihat Andara dari balik pintu kaca. Andara terbaring lemah, kepalanya di perban, kakinya juga.
"Kapan dia kecelakaan.." ucapku.
"Tadi malam kak.. tapi Cesil juga baru tahu tadi siang." ucap Cesil. Apakah saat pulang dari rumahku.. teringat raut wajah Andara semalam.. Andara..
"Boleh aku melihatnya ke dalam.." ucapku.
"Kalau satu orang boleh.." ucap Cesil. Aku lalu masuk ke dalam. Aku mendekati Andara..
"Andara.." ucapku lalu berdiri di sisinya. Air mataku mengalir..
"Andara kamu katakan hari ini aku boleh mengatakan apa pun yang kumau. Tapi kenapa kamu seperti ini bagaimana aku bisa bicara padamu.." ucapku air mataku semakin deras mengalir
"Kamu meminta maaf karena telah menghilang sekarang kenapa kamu seperti ini lagi.. Jangan pergi lagi and.. Aku belum bicara apa pun sama kamu. Kamu juga janji akan menemuiku setelah upacara pagi itu di sekolah tapi kamu nggak muncul. Semalam kamu katakan aku boleh katakan apa pun yang ku mau hari ini tapi kenapa kamu terbaring seperti ini." Ucapku terisak.
"Kamu buat aku takut.. Takut kamu pergi dan kali ini nggak kembali lagi.. Jangan pergi lagi andara.." ucapku sambil mengenggam tangannya.
"Maaf kalau selama ini aku nggak mau cerita tentang masa lalu kita aku hanya nggak ingin kamu hidup dalam kekosongan karena hanya mendengar cerita tapi tidak merasakannya.." ucapku
"Aku egois.." ucapku lagi.
"Andara.." ucapku, oh Tuhan haruskah aku kembali kehilangannya..
Tiba-tiba aku merasakan tangan Andara mengenggam tanganku. Aku melihat tangan Andara..
"Andara.." ucapku Andara bergerak
"Andara.." ucapku lagi, aku menoleh keluar, Cesil masih di pintu itu rupanya.
"Cesil.." panggilku, Cesil menatapku mungkin dia nggak dengar. Aku mau keluar memanggil dokter tapi tanganku digenggam erat Andara.. Aku melihat Andara.
"Ada apa kak.." Cesil masuk mungkin dia melihat kepanikanku.
"Andara bergerak.." ucapku lalu menunjuk tanganku yang di gengam Andara
"Bang.." ucap cesil lalu berlari keluar. nggak lama dokter dan perawat datang. Aku melepaskan genggaman Andara.. Matanya mulai membuka.. Aku disuruh perawat menunggu di luar Tuhan kuharap Andara benar-benar sadar.. Aku keluar dan berdiri di depan ruangan Andara bersama Cesil dan keluarga Andara yang terlihat sangat cemas.
