Dia Yang Selalu Ada (Part 2)

5 2 0
                                        

Sesampainya di sekolah Raka berpesan untuk tidak meninggalkannya karena dia mau parkir motor.
"Ayo tuan putri." Ucap Raka seraya menggenggam tangan Shintia, lagi-lagi ia tidak bisa mengelak dan hanya mengikuti setiap langkahya.
"Raka kita nggak usah ke kelas dulu yah?" Pinta Shintia kepada Raka karena ia pengen ngajak Raka sarapan bareng.
"Kenapa?" Tanya Raka heran.
"Kita ke sana dulu." Menunjuk bangku kosong di taman sekolah.
"Mau ngapain lagi? Mau ngajakin aku bolos?"
"Ya enggaklah. Aku cuma pengen ngajak kamu sarapan bareng, kebetulan hari ini aku bawa roti bakar sama air mineral soalnya hari ini aku kesiangan dan nggak sempat sarapan di rumah." Ucap Shintia jujur kepada Raka dan ia pun tidak menolaknya. Shintia melangkahkan kakinya menuju bangku kosong di taman yang diikuti Raka.

"Ni buat kamu dan ini buat aku." Ucap Shintia seraya menyodorkan roti bakar, 2 potong untuk Raka dan 2 potongnya lagi untuk dirinya.
"Makasih ya Shin, kebetulan aku juga belum sarapan hehee." Ucap Raka langsung menyantap sarapannya dengan lahap.
"Ni kamu duluan yang minum." Menyodorkan sebotol air mineral.
"Makasih banyak ya Shin. Ayo gih kita ke kelas ntar kita terlambat." Ucap Raka seraya menarik tangan Shintia setelah usai sarapan. Lagi-lagi sikap Raka membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Sesampainya di kelas mereka berdua berpisah dan saling tersenyum satu sama lain.

Tidak terasa bel pulang berbunyi. Shintia memasukkan semua peralatan tulisnya ke dalam tas. Ketika ia keluar pintu ia heran melihat Raka yang sedang berdiri melihat ke arahnya dengan seulas senyum dan biasanya Raka selalu menunggunya di parkiran.
"Kamu ngapain di sini?"
"Nunggu siapa lagi kalo bukan nunggu kamu." Seraya menjitak jidat Shintia. "Aw."
"Oh kirain siapa?" Ucapnya berlagak bego. Karena tidak sabar menunggu Shintia, Raka menarik tangan Shintia dan membawanya keparkiran. Shintia heran saat motor Raka berhenti di taman tempat biasa yang buat dirinya merasa nyaman.
"Kok nggak langsung pulang sih?"
"Alah biasanya juga kamu kalo pulang sekolah pasti kesinikan? Yeah sekali-kalikan nggak apa-apa kalo aku pengen temenin kamu di sini."
"Emm ya nggak apa-apa sih. Tapi kamu tau dari mana kalo aku setiap hari ke sini?"
"Apa sih yang nggak aku tau tentang tuan putri?" Ucap Raka sok tau tentang semua yang berhubungan dengan Shintia.
"Ya udah ayo." Ucap Shintia seraya menarik tangan Raka yang membuatnya bengong dengan tingkah laku Shintia.
"Kita ngapain di sini?" Tanya Raka.
"Menikmati keindahan taman ini yang biasanya buat aku tenang dan nyaman." Raka hanya manggut dan mulai menikmati keindahan di taman ini.

Tidak lama kemudian hujan turun sangat deras namun tidak membuat Shintia untuk bergegas pergi.
"Shin ayo kita pulang." Ajak Raka yang tidak ia hiraukan karena sedang asik menikmati setiap tetes air yang menyentuh kulit halusnya. Meski ia suka hujan tapi ia takut dengan suara geledek.
"Shin ayo ntar kamu sakit kalo hujan-hujan kayak gini." Ucap Raka seraya menarik tangan Shintia dan Shintia hanya mengikutinya karena tubuhnya mulai menggigil.

"Tuh kan aku udah bilang liat tuh wajah kamu pucat pasi begitu." Omel Raka ketika sampai di rumahnya. Raka pergi meninggalkan Shintia diruang tamu dan tidak lama kemudian Raka kembali dengan pakaian serta handuk.
"Udah sana ganti baju ntar kamu sakit." Ucap Raka tampak khawatir dan Shintia berlalu pergi dari hadapan Raka tanpa menjawab sepatah katapun. Dan setelah selesai Shintia keluar menuju ruang tamu dimana ada Raka.
"Kamu masih kedinginan?"
"Emm sedikit."
"Tunggu aku buatin coklat hangat sekalian ambil jaket." Ucap Raka seraya berlalu dari hadapannya dan beberapa menit kemudian Raka kembali dengan segelas coklat hangat dan jaket.
"Ini diminum biar agak hangat." Ucap Raka seraya memasangkan jaket kepundak Shintia.
"Makasih ya. Maaf aku udah banyak ngerepotin kamu."
"Kamu kan sahabat ku dan udah seharusnya aku perhaiin kamu." Ucap Raka seraya tersenyum. "Walau sebenarnya di hatiku ada rasa yang nggak pernah kamu tahu" ucap Raka dalam hati.
"Iya makasih. Kamu memang sahabat ku yang paling baik sedunia."
"Ngak usah berlebihan kalo mujinya ntar aku terbang dan nggak kembali-kembali hehee."
"Iya-iya tapi kamu memang baik banget. Kamu nggak minum?"
"Nggak, kamu aja."
"Aku kan udah minum setengah dan setengahnya lagi buat kamu." Ucap Shintia sambil menyodorkan coklat hangat kepada Raka dan langsung ia minum tanpa sisa.
"Kamu doyan atau lapar?" Tanya Shintia kepada Raka seraya tertawa.
"Sebenarnya aku lapar."
"Mau aku masakin?"
"Emang kamu bisa masak?" Tanya Raka ragu.
"Ya bisalah. Jangan salah aku ini jago masak."
"Okey. Masak yang enak ya tuan putri."
"Ia pengeran kesiangan." Jawab Shintia seraya tertawa terbahak-bahak lalu meninggalkan Raka menuju dapur.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang